Senin, 16 September 2013

Sedekah Bumi Desa Kedungkarang Demak Selamatan dan Nanggap Wayan

Muhdi  Kepala Desa Kedungkarang
Desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak Senin (16/9)  hari ini mengadakan  tahunan berupa kegiatan sedekah bumi yang dipusatkan dibalai desa setempat, selain menggelar pertunjukan Wayang kulit siang dan malam acara sedekah bumi ini juga diisi dengan selamatan desa.

Setiap RT di desa Kedungkarang yang berjumlah 16 membuat berkat (nasi Selamatan) . Berkat berisi nasi beserta lauk pauknya yang dibuat hasil kerukunan setiap RT dan yang mengantarkan ke balai desa juga anggota RT .

 Tujuan dari adanya ambengan ini sebagai wujud kerukunan dan kekompakan antar warga juga perwujudan rasa syukur kepada yang maha kuasa atas rezeki yang diberikan kepada seluruh warga.

Selametan bersama
“ Acara sedekah bumi ini memang sudah dianggarkan desa setiap tahun sekali dengan menggelar kesenian tradisional berupa wayang kulit semalam suntuk . Selain untuk menghibur masyarakat tanggapan wayang ini juga untuk melestarikan budaya leluhur kita. Nah untuk nasi berkat ini hasil swadaya masyarakat setiap RT , mereka buat sendiri diantar ke balai desa secara bersama-sama dan setelah dido’akan bersama-sama kemudian dinikmati bersama-sama inilah wujud kerukunan kita “, ujar Kepala desa Kedungkarang Muhdi yang ditemui disela-sela acara sedekah bumi sore tadi.

Acara sedekah bumi yang dipusatkan dibalai desa dengan menanggap wayang juga selamatan bersama ini mendapatkan perhatian tersendiri bagi segenap warga  desa Kedungkarang dan sekitarnya . Jalan raya di dekat balai desa yang biasanya sepi kini ramai dengan datangnya para pedagang yang “Mremo” pada keramaian ini.

Puncak terjadi ketika berkat dari berbagai penjuru RT dibawa menuju ke balai desa untuk dido’akan bersama-sama , semua warga tumplek bleg di seputaran balai desa, sehingga jalan raya depan balai desa agak tersendat.

Apalagi setelah do’a selesai dipanjatkan oleh Modin maka para pembawa berkat  maupun warga langsung berebutan untuk makan nasi maupun lauk pauk yang ada dalam ambengan. Bahkan dari beberapa ambengan ada yang dilarikan oleh pemiliknya menghindari serbuan para warga.

“ Inilah salah satu keasyikan dari acara sedekah bumi  dengan slametan tumpeng atau nasi berkat , para warga ingin mengambil atau makan nasi dan lauk pauk dari ambengan namun mendapat rintangan dari si pembawa inilah yang menjadi tontonan warga sekitarnya . dan inilah wujud kebersamaan antar warga masyarakat sini “ ujar Syaichu salah seorang perangkat desa Kedungkarang .

Selain selamatan yang ditunggu-tunggu oleh warga masyarakat utamanya nelayan adalah pentas wayang kulitnya , karena sebagian nelayan dari generasi tua masih menyukai tontonan wayang kulit ini.


Menurut mereka dalam pertunjukan wayang kulit selain mendapatkan hiburan , juga mendapatkan nasehat-nasehat yang terkandung dalam lakon wayang itu sendiri. Oleh karena itu jika digelar pertunjukan wayang kulit kebanyakan yang hadir menonton adalah para generasi tua.

Namun demikian dengan kemajuan jaman pertunjukan wayang kulit ini kadang-kadang juga di sertai dengan lagu-lagu campur sari ataupun ndangdhutan dalam pergelarannya.

Sehingga pertunjukan wayang tidak membosankan karena , diselingi juga lagu-lagu untuk anak muda sehingga kadang kala anak muda dapat ikut berjoget dalam pergelaran wayang kulit.

“ Mudah-mudahan pergelaran wayang kulit ini tidak monoton begitu saja , namun ada campur sari dan lagu ndangdhutannya biar asyik dan tidak membosankan para penonton utamanya anak muda disini “,ujar salah seorang anak muda yang tidak mau disebut namanya.



Memang sedekah bumi merupakan wujud budaya tinggalan nenek moyang kita yang lazim dilaksanakanpada bulan Apit sehingga dikenal orang sebagai Apitan. Mereka meyakini sedekah bumi ini selain sebagai wujud rasaya syukur terhadap pencipta juga penghilang suker atau marabahaya yang ada di dalam desa.
Untuk membersihkan desa dari segenap mara bahaya maka perlu diadakan sedekah bumi yang melibatkan seluruh warga desa. Seperti desa Kedungkarang ini untuk memeriahkan pesta sedekah bumi ini mereka rela urunan untuk membuat berkat sebagai wujud rasa syukur warga kepada sang maha pencipta.

Selain di desa Kedungkarang Demak  ini pesta sedekah bumi mungkin masih dilestarikan ditempat lain dengan wujud berbeda namun esensi yang terkandung didalamya adalah sama. (Muin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar