Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Juni 2017

Warga Demak Sambut Hari Raya Dengan Arak Mascot Di Malam Takbiran




Demak - Hari raya Idul Fitri bagi umat Islam dimanapun mereka berada adalah hari yang cukup istimewa sehingga kedatangannya disambut dengan kemeriahan dimana-mana, digang-gang sempit, rumah reot sampai dengan rumah mewah menyambutnya dengan penuh kegembiraan.

 Tidak ketinggalan pula kemeriahan yang dilakukan oleh  Demak   , sehingga meskipun hari raya kurang satu minggu merekapun mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut hari yang mulia itu. Seperti halnya antusias beberapa warga desa  di kabupaten Demak ini .

Setiap malam hari raya seluruh warga menyambutnya dengan takbiran keliling kampung dengan mengarak mascot  dengan berbagai bentuk yang setiap tahunnya selalu berganti-ganti. Mascot yang mereka rak biasanya maket masjid , kapal laut , kapal terbang sampai dengan berbagai macam hewan seperti Buroq, ikan, udang sampai dengan kalajengking.

Dengan adanya tradisi takbir keliling mengarak berbagai mascot  dari masing-masing masjid , musholla dan perwakilan RT  desa Demak  ini membuat keramaian tersendiri menjelang malam hari raya , para pemuda siang sampai sore harinya membuat dan menata mascot agar malam nantinya siap diarak keliling kampung . 

Selain memberinya lampu warna-warni , juga peralatan soundsytem yang  bagus sehingga ketika diarak selain berkelap kelip jika dilihat ,suara yang ditimbulkan juga cukup keras . Untuk anak-anak pagi harinya ke pasar-pasar terdekat sambil membawa bekal uang untuk membeli petasan dan kembang api berbagai jenis , ada kembang api yang  bisa berbunyi, air mancur dan juga kembang api yang bisa meluncur ke atas bak pesawat roket.

Sehabis shalat Isya’ sekitar jam delapan malam pun mulailah  mengarak mascot keliling desa   sambil berdo’a bersama memohon kepada Allah SWT agar seluruh warga desa   diberi keselamatan dan rejeki yang melimpah yang diamini seluruh warga desa. Selesai berdo’a bersama barulah mascot-mascot itu bergerak keliling kampung sambil mengumandangkan takbir yang bersahut-sahutan , diselingi dengan dentuman petasan dan juga kilatan cahaya kembang api . 

Jika dilihat dari jauh arak-arakan takbir keliling sungguh sangat indahnya , oleh karena itu ketika rombongan mendekati rumah warga , maka semua warga menyambutnya di depan rumah dengan suka citanya . Bahkan jika anak-anak mereka sudah tidur maka merekapun dibangunkan untuk melihat indah dan ramainya arak-arakan takbir keliling kampung. (FM)


Kamis, 15 Juni 2017

Tradisi Khataman Alqur'an Keliling Di Desa Kedungmutih Demak




Demak - Salah satu amalan di bulan Ramadhan yang disarankan selain Shalat Tarawih adalah Tadaruss atau membaca kitab suci Al qur’an . Oleh karenanya tidak heran jika bulan Ramadhan tiba toko kitab atau penerbit kebanjiran order kitab suci Alqur’an. Selain mengganti yang rusak juga jumlahnya perlu ditambah , karena jumlah orang yang tadarus bertambah banyak dalam rangka mencari pahala di bulan puasa.

Setiap masjid atau musolla melaksanakan tradisi baca Alqur’an ini dengan berbagai macam cara , diantaranya ada yang dilaksanakan sehabis shalat tarawih saja , setiap waktu dan ada pula yang dijadwalkan sehabis shalat wajib. Sehingga waktu hatamannya pun beragam ada yang lima hari sudah hatam , setengah bulan hatam dan ada pula yang sehari hatam besok paginya diulang hataman lagi begitu seterusnya sampai menjelang hari Raya.

Begitu juga yang dilaksanakan umat Islam di desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak ini. Selain di Masjid acara tadarus ini juga digelar di Musholla-musholla yang dilaksanakan oleh para remaja. Sehabis shalat tarawih terdengar gema suara lantunan ayat suci Al qur’an di setiap sudut. Suara itu terdengar hingga larut malam menjelang.

Puncak dari tadarus itu adalah dilaksanakannya acara khotmil qur’an yang berbarengan dengan peringatan Nuzulul qur’an. Masjid dan musholla juga melaksanakan acara khotmil Qur’an ini secara berurutan. Di mulai malam 17 Ramadhan di Masjid desa selanjutnya giliran musholla yang berjumlah 14.

“ Kalau di sini sejak jaman mbah-mbah saya dulu kegiatan khataman Alqur’an ini dilaksanakan setiap tanggal 17 Ramadhan ngiras peringatan Nuzulul Qur’an , peserta yang hadir disini adalah perwakilan dari jamaah 14 Musholla yang ada di kedungmutih ini , kurang lebih yang kami undang 300 orang “. Ujar Mastokin pengurus Masjid Jami’ Baitul Makmur Kedungmutih yang di dampingi sekretarisnya Noor Amin.
Memang malam itu  masjid penuh dengan jamaah, baik orang tua , pemuda dan tak ketinggalan pula anak-anak ikut pula memperingati turunnya kitab suci Alqur’an. Tradisi ini sudah puluhan tahun diadakan dan tidak akan berhenti sampai akhir jaman nanti. Karena Alqur’an merupakan petunjuk bagi orang yang bertaqwa , dan kita semua ingin menjadi umat yang bertaqwa kepada Allah SWT.

Menurut Mastokin, acara Hataman alqur’an ini menjadi agenda rutin Masjid yang telah direncanakan menjelang bulan puasa , selain kultum sebelum buka bersama dan shalat tarawih.Karena mebutuhkan biaya yang cukup besar maka untuk membiayai kegiatan yang mulia ini ditanggung bersama-sama seluruh kaum dengan jalan penjatahan infaq setiap jamah. Besarnya tergantung dari kemampuan warga , yang ekonominya mapan memberi sumbangan yang lebih dari yang lain. Sehingga setiap sore sebelum acara berlangsung pengurus dor to dor k e rumah jamaah menjemput sumbangan tersebut.


Tiba waktu acara tersebut seluruh warga menjalankan tugasnya masing-masing , ibu-ibu dan remaja putri kebagian memasak hidangan yang disajikan pada acara khotmil qur’an ini, Sementara bapak-bapak dan remaja putra membersihkan masjid dan menyiapkan tempat acara khataman Alqur’antersebut.

 

Pelaksanaan acara khotmil qur’an ini sehabis shalat tarawih, sehingga tidak mengherankan sehabis shalat tarawih tamu undangan yang merupakan wakil berbagai musholla yang ada di desa Kedungmutih berbondong-bondong mendatangi masjid dan musholla yang kebetulan sebagai tuan rumah.
Adapun prosesi khataman Al-qur’an diantaranya pembacaan tahlil , dilanjutkan dengan hataman alqur’an 30 Jus oleh 30 orang jamah dan dilanjutkan dengan do’a bersama memohon barokah dan keselamatan Allah SWT. Habis berdo’a seluruh jamaah makan bersama sebagai tanda syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rijeki dan kesehatan sehingga bisa menjalankan puasa .

“ Tradisi khataman al-qur’an ini sudah amat lekat di hati umat Islam , sehingga selain di  Masjid acara hataman juga dilaksanakan di semua  musholla sehingga jika malam Nuzul Qur’an tiba selanjutnya setiap malam pada acara hataman di setiap musholla secara bergantian “, ujar K. Suhari Nadhir Masjid Jami’ Baitul Makmur.***

Jumat, 12 Mei 2017

Sya’ban Atau Ruwah Bulan Untuk Mengirim Arwah Leluhur Kita




Demak - Saat ini kita  berada  di pertengahan bulan Sya’ban atau orang jawa mengenalnya sebagai bulan Ruwah. Dan pada bulan ini ada tradisi yang diuri-uri   kelestariaannya sampai sekarang  dan masih dijalankan terutama di daerah pinggiran atau pedesaan.

Orang mengenalnya sebagai tradisi Ruwahan atau Arwahan yaitu tradisi yang berkaitan dengan pengiriman arwah orang-orang yang telah meninggal dengan cara di do’akan bersama dengan mengundang tetangga kiri kanan yang pulangnya mereka diberi ”berkat” sebagai simbul rasa terima kasih .

Oleh karena itu jika bulan Ruwah tiba pasar-pasar tradisional akan kebanjiran order untuk selamatan ruwahan  , diantaranya beras , bumbu-bumbu, lauk  semuanya laris untuk kebutuhan selamatan Ruwahan.Selain itu jasa katering juga laris manis karena berkatan biasanya tidak dibuat sendiri

Entah kapan mulainya , beberapa warga desa yang ditemui tidak dapat menjelaskan karena mereka ada tradisi itu telah ada dan selanjutnya terus diadakan sampai mereka punya anak dan cucu. Sehingga  jika bulan Ruwah tiba di desa-desa pesisir utamanya Demak dan Jepara. setiap harinya pasti ada warga yang mengadakan Selamatan dalam rangka mengirim arwah para leluhurnya baik ibu, bapak, mbah, buyut dan diatasnya lagi.


Biasanya yang di undang adalah tetangga kiri kanan dengan pimpinan do’a modin atau kyai yang dituakan di desa itu, adapun bacaan yang dibaca umumnya adalah tahlil , namun satu dua warga ada juga yang mengawalinya dengan acara khotmil qur’an dengan mendatangkan hafid atau hafidoh.
Khotmil qur’an itu dengan niatan pahalanya di kirimkan pada ahli kubur yang telah mendahuli mereka , agar di dalam kuburnya  mendapatkan  ketenangan , kemudahan dari siksa kubur.


” Memang bulan Ruwah bagi masyarakat di desa kami sebagai bulan untuk mengirim arwah leluhur yang telah mendahului dengan cara mengadakan selamatan mengundang  tetangga kanan kiri . Pahala dari bacaan tahlil  tersebut ditujukan untuk para arwah  ”,  ujar Hamzawi Anwar  (55) warga  desa Kedungmutih  yang mengadakan acara  Ruwahan belum lama ini.


Ruwahan bagi warga desa pesisir ini merupakan tradisi yang telah lama mengakar kuat. Selain menziarahi makam setiap Kamis sore diwaktu-waktu tertentu mereka mengirim do’a lewat selamatan. Selain di bulan Ruwah mereka juga mengirim do’a berbarengan dengan punya hajat seperti Walimatul Khitan, Walimatul ursyi , Walimatul Tasmiyah dan hajatan lainnya. (Muin)


GP Anshor Kedungmutih Demak Gelar Gebyar “ Nisfu Sya’ban”





Demak – Gerakan Pemuda ( GP ) Anshor , Organisasi kepemudaan di bawah naungan NU (Nahdlotul Ulama’) Ranting desa Desa Kedungmutih pada malam Nisfu Sya’ban membuat kegiatan pawai obor dan lampion. Selain diikuti oleh anggotanya juga melibatkan organisasi lain seperti IPNU dan IPPNU,Fatayat dan Muslimat. Selain itu juga tak ketinggalan lima ratusa anak-anak yang membawa lampion berbagai macam jenis.

Pawai obor dan Lampion dalam rangka malam Nisfu Sya’ban selain melestarikan tradisi yang ada . Juga sebagai ajang sosialisasi keorganisasian NU di desa Kedungmutih. Organisasi NU beberapa tahun terakhir ini tidak ada kegiatan sehingga perlu penyegaran. Sehingga GP Anshor mengemas acara ini sebagai ajang sosialisasi . Sehingga semua organisasi dilibatkan dalam kegiatan malam Gebyar Nisfu Sya’ban.

“ Ya ini langkah awal dari GP Anshor yang baru sasja konsilidasi dengan pembentukan  pengurus baru. Agar lebih dikenal warga maka kita menyelenggarkan acara Gebyar Malam Nisfu Sya’ban atau Baratan Di desa Kedungmutih. Semua organisasi kita libatkan pada mala mini “, kata Musa Abdillah ,SHi salah satu pantia acara yang juga Pengurus GP Anshor kecamatan Wedung.

Pelaksanaan acara pawai lampion ini diawali di halaman Masjid jami’ Baitul Makmur . Rombongan secara resi diberangkatkan oleh Nadhir Masjid Suhari, SPdI yang juga Ketua Syuriyah NU dan juga Kepala Desa Kedungmutih. Dia berharap acara Pawai ini bisa membangkitkan semangat untuk bersatu antar warga . Selain itu juga ditujukan untuk keamanan dan keselamatan desa menjelang datangnya bulan suci Ramdhan.Selain itu juga memohon do’a kepada Allah SWT agar desa aman dan tentram selamanya.

Usai di berangkatkan oleh Kades Suhari , rombongan bergerak ke Timur menuju ke kolam Desa Kedungmutih. Di perempatan ini diadakan do’a mohon keselamatan yang dipimpin oleh KH. Ahmad  Sa’dun. Usai berdo’a rombongan pawai bergerak ke selatan menuju ke pojok selatan desa seputaran rumah bapak Subakir. Di perempatan inipun rombongan kembali berdo’a bersama. Usai berdo’a rombongan bergerak ke Barat menuju ke pojok selatan desa.

Tepatnya di seputaran Foto Copy Gembira rombongan pun berhenti kemudian berdoa’ lagi. Usai berdo’a rombongan yang cukup panjang itupun bergerak ke Utara tepatnya diseputaran pasar lama. Di tempat ini rombongan kemudian berdo’a bersama yang dipimpin oleh KH Sakdun. Usai berdoa’a rombongan kembali bergerak ke Timur melewati depan Balai Desa Kedungmutih kemudian kembali ke area halaman Masjid jami’ Baitul Makmur.

Setelah kurang lebih dua jam berkeliling desa semua rombongan parker di halaman Masjid Jami’ yang cukup luas.  Sambil beristirahat acara pembagian doorprisepun dimulai . Panitia menyediakan seratus hadiah yang akan dibagikan kepada peserta yang beruntung. Hadiah berupa buku , Boneka , Topi dan yangl lainnya. (Muin )

Kamis, 27 April 2017

Ini yang Masih Dilestarikan , Tradisi Ruwahan di Bulan Sya’ban



 
Salah satu Tradisi Ruwahan Ziarah Kubur
Demak - Saat ini kita berada di awal bulan Sya’ban atau orang jawa mengenalnya sebagai bulan Ruwah. Dan pada bulan ini ada tradisi yang diuri-uri kelestariaannya sampai sekarang dan masih dijalankan terutama di daerah pinggiran atau pedesaan.
Orang mengenalnya sebagai tradisi Ruwahan atau Arwahan yaitu tradisi yang berkaitan dengan pengiriman arwah orang-orang yang telah meninggal dengan cara di do’akan bersama dengan mengundang tetangga kiri kanan yang pulangnya mereka diberi ”berkat” sebagai simbul rasa terima kasih .
Oleh karena itu jika bulan Ruwah tiba pasar-pasar tradisional akan kebanjiran order untuk selamatan ruwahan , diantaranya beras , bumbu-bumbu, lauk semuanya laris untuk kebutuhan selamatan Ruwahan.
Entah kapan mulainya , beberapa warga desa yang ditemui tidak dapat menjelaskan karena mereka ada tradisi itu telah ada dan selanjutnya terus diadakan sampai mereka punya anak dan cucu.
Sehingga jika bulan Ruwah tiba di desa-desa pesisir utamanya Demak dan Jepara setiap harinya pasti ada warga yang mengadakan Selamatan dalam rangka mengirim arwah para leluhurnya baik ibu, bapak, mbah, buyut dan diatasnya lagi. Biasanya yang di undang adalah tetangga kiri kanan dengan pimpinan do’a modin atau kyai yang dituakan di desa itu, adapun bacaan yang dibaca umumnya adalah tahlil .
Namun satu dua warga ada juga yang mengawalinya dengan acara khotmil qur’an dengan mendatangkan hafid atau hafidoh. Khotmil qur’an itu dengan niatan pahalanya di kirimkan pada ahli kubur yang telah mendahuli mereka , agar di dalam kuburnya mendapatkan ketenangan , kemudahan dari siksa kubur.
” Memang bulan Ruwah bagi masyarakat di desa kami sebagai bulan untuk mengirim arwah leluhur yang telah mendahului dengan cara mengadakan selamatan mengundang tetangga kanan kiri . Pahala dari bacaan tahlil tersebut ditujukan untuk para arwah ”, ujar Jambari  (55) warga desa Kedungmutih yang mengadakan acara Ruwahan belum lama ini.(MUIN)