Tampilkan postingan dengan label Wedung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wedung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Agustus 2017

Desa Kedungkarang Gelar Turnamen Sepak Bola Kemerdekaan 2017





Demak – Desa Kedungkarang kecamatan Wedung pada peringatan HUT kemerdekaan RI ke  71 menggelar Turnamen sepak bola Kemerdekaan yang diikuti 4 RW yang ada di desa pesisir ini. Lapangan desa yang mulai direnovasi digunakan untuk ajang lomba. Selain dalam rangka mempererat persatuan dan kesatuna warga juga mencari bibit unggul sepak bola. 

Turnamen yang digelar di penghujung bulan kemerdekaan ini mendapatkan perhatian seluruh warga. Selain pemain bersemangat untuk bertanding . Warga desa sebagai supporter juga tidak kalah meriahnya. Mulai dari anak-anak , remaja sampai orang tua larut dalam pertunjukan bola. Mereka melihat pertandingan dari atas talud lapangan.

“ Ya kita menyerap aspirasi anak muda disini minta untuk diadakan lomba sepak bola antar RW. Jadinya sore ini mulai digelar kompetisi sepak bola Kemerdekaan desa Kedungkarang. Kami sediakan Piala begilir dan uang pembinaan untuk mereka yang meraaih juara “, kata Mukbhibi di sela sela menton pertandingan sepak bola antar RW di lapangan desa Kedungkarang.

Mukhibi mengatakan , acara yang digelar pertama kali ini ia berharap berjalan aman , tertib dan lancar. Selain itu juga menumbuhkan semangat olah raga warga desa pesisir penghasil garam dan kepiting. Tentunya acara itu juga sebagai ajang silaturahmi antar warga terutama anak anak muda. Ia berharap dari desa muncul pemain sepak bola yang handal.

“ Dulu desa Kedungkarang ini pernah mempunyai lapangan yang bagus, namun karena ada normalisasi sungai Serang Lapangan itupun rusak. Nah periode kepemimpinan saya ini mulai saya benahi lapangan ini. Talud mulai  dibangun  , tidak lama lagi nantinya mulai diurug secara bertahap “, tambah Mukhibbi Kepala desa Kedungkarang  yang menjabat belum ada satu tahun. 

Turnamen yang diikuti oleh sebagian remaja ini berlangsung seru mirip pertandingan sepak bola di televise. Setiap tim mempersiapkan seragam masing-masing. Selain itu penonton yang melihat juga cukup banyak. Dari kejauhan terdengar keramaian tatkala pemain melakukan manuve-manuver untuk mencetak gol . Selain di tonton warga desa Kedungkarang sendiri  a beberapa warga desa tetangga juga ikut melihat keseruan pertandingan sepak bola kelas kampung ini. (Muin)


Kamis, 15 Juni 2017

Tradisi Khataman Alqur'an Keliling Di Desa Kedungmutih Demak




Demak - Salah satu amalan di bulan Ramadhan yang disarankan selain Shalat Tarawih adalah Tadaruss atau membaca kitab suci Al qur’an . Oleh karenanya tidak heran jika bulan Ramadhan tiba toko kitab atau penerbit kebanjiran order kitab suci Alqur’an. Selain mengganti yang rusak juga jumlahnya perlu ditambah , karena jumlah orang yang tadarus bertambah banyak dalam rangka mencari pahala di bulan puasa.

Setiap masjid atau musolla melaksanakan tradisi baca Alqur’an ini dengan berbagai macam cara , diantaranya ada yang dilaksanakan sehabis shalat tarawih saja , setiap waktu dan ada pula yang dijadwalkan sehabis shalat wajib. Sehingga waktu hatamannya pun beragam ada yang lima hari sudah hatam , setengah bulan hatam dan ada pula yang sehari hatam besok paginya diulang hataman lagi begitu seterusnya sampai menjelang hari Raya.

Begitu juga yang dilaksanakan umat Islam di desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak ini. Selain di Masjid acara tadarus ini juga digelar di Musholla-musholla yang dilaksanakan oleh para remaja. Sehabis shalat tarawih terdengar gema suara lantunan ayat suci Al qur’an di setiap sudut. Suara itu terdengar hingga larut malam menjelang.

Puncak dari tadarus itu adalah dilaksanakannya acara khotmil qur’an yang berbarengan dengan peringatan Nuzulul qur’an. Masjid dan musholla juga melaksanakan acara khotmil Qur’an ini secara berurutan. Di mulai malam 17 Ramadhan di Masjid desa selanjutnya giliran musholla yang berjumlah 14.

“ Kalau di sini sejak jaman mbah-mbah saya dulu kegiatan khataman Alqur’an ini dilaksanakan setiap tanggal 17 Ramadhan ngiras peringatan Nuzulul Qur’an , peserta yang hadir disini adalah perwakilan dari jamaah 14 Musholla yang ada di kedungmutih ini , kurang lebih yang kami undang 300 orang “. Ujar Mastokin pengurus Masjid Jami’ Baitul Makmur Kedungmutih yang di dampingi sekretarisnya Noor Amin.
Memang malam itu  masjid penuh dengan jamaah, baik orang tua , pemuda dan tak ketinggalan pula anak-anak ikut pula memperingati turunnya kitab suci Alqur’an. Tradisi ini sudah puluhan tahun diadakan dan tidak akan berhenti sampai akhir jaman nanti. Karena Alqur’an merupakan petunjuk bagi orang yang bertaqwa , dan kita semua ingin menjadi umat yang bertaqwa kepada Allah SWT.

Menurut Mastokin, acara Hataman alqur’an ini menjadi agenda rutin Masjid yang telah direncanakan menjelang bulan puasa , selain kultum sebelum buka bersama dan shalat tarawih.Karena mebutuhkan biaya yang cukup besar maka untuk membiayai kegiatan yang mulia ini ditanggung bersama-sama seluruh kaum dengan jalan penjatahan infaq setiap jamah. Besarnya tergantung dari kemampuan warga , yang ekonominya mapan memberi sumbangan yang lebih dari yang lain. Sehingga setiap sore sebelum acara berlangsung pengurus dor to dor k e rumah jamaah menjemput sumbangan tersebut.


Tiba waktu acara tersebut seluruh warga menjalankan tugasnya masing-masing , ibu-ibu dan remaja putri kebagian memasak hidangan yang disajikan pada acara khotmil qur’an ini, Sementara bapak-bapak dan remaja putra membersihkan masjid dan menyiapkan tempat acara khataman Alqur’antersebut.

 

Pelaksanaan acara khotmil qur’an ini sehabis shalat tarawih, sehingga tidak mengherankan sehabis shalat tarawih tamu undangan yang merupakan wakil berbagai musholla yang ada di desa Kedungmutih berbondong-bondong mendatangi masjid dan musholla yang kebetulan sebagai tuan rumah.
Adapun prosesi khataman Al-qur’an diantaranya pembacaan tahlil , dilanjutkan dengan hataman alqur’an 30 Jus oleh 30 orang jamah dan dilanjutkan dengan do’a bersama memohon barokah dan keselamatan Allah SWT. Habis berdo’a seluruh jamaah makan bersama sebagai tanda syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rijeki dan kesehatan sehingga bisa menjalankan puasa .

“ Tradisi khataman al-qur’an ini sudah amat lekat di hati umat Islam , sehingga selain di  Masjid acara hataman juga dilaksanakan di semua  musholla sehingga jika malam Nuzul Qur’an tiba selanjutnya setiap malam pada acara hataman di setiap musholla secara bergantian “, ujar K. Suhari Nadhir Masjid Jami’ Baitul Makmur.***

Rabu, 07 Juni 2017

Yuk, Transparansi Keuangan Desa Dengan Memasang APBDes di Tempat Strategis

Contoh Baliho APBdes


Demak – Di era pemerintahansaat ini transparansi keuangan desa manjadi salah satu program yang digalakkan. Seiring dengan terus meningkatnya gelontoran dana dari Pusat perlu adanya keterbukaan dalam pelaksanaan anggaran di desa. Ada banyak himbauan yang dilontarkan oleh para petinggi pemerintahan dari pusat sampai daerah.

Presiden Indonesia  Jokowi misalnya dalam setiap kunjungannya ke desa selalu mewanti-wanti pemerintahan desa melaksanakan transparansi  keuangan.  Salah satu himbauannya pemerintahan desa membuat baliho atau banner yang berisi tentang  APBDes . Dalam APBDes itu berisi tentang Pemasukan dan Pengeluaran Desa selama satu tahun.

Namun demikian himbauan atau permintaan itu belumlah banyak dilaksanakan oleh pemerintahan Desa. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya SDM aparat pemerintahan Desa ditambah lagi kurang perdulinya warga desa tentang keuangan desa. Sehingga himbaun itu tinggal himbaun namun pelaksanaanya dilapangan  masih minim.

Kendala yang menghadang tidak dilaksanakannya himbauan tersebut. Tidak adanya sangsi  tegas terhadap pelaksanaan himbauan tersebut. Sehingga mereka seakan cuek dengan pemasangan APBDes dalam bentuk Banner atau baliho . Akibantnya warga minim informasi tentang seberapa besar keuangan desa , apalagi mengawasi pelaksanaannya.

Dengan tidak adanya informasi yang jelas tentang seberapa penggunaan di desa itu menyebabkan warga cuek tentang kondisi pembangunan di desanya. Mereka yang tahu tentang keuangan desa hanyalah elit pemerintahan desa saja. Misalnya BPD ,LKMD , RW dan RT. Sehingga jika ada pelanggaran penggunaan dana desa warga desa tidak tahu atau buta informasi.

Padahal untuk membuat banner atau baliho itu tidak sulit . Jika APBdes desa sudah jadi dan di syahkan oleh BPD maka berkas itu diperbesar dijadikan baliho. Baliho tersebut ditempatkan di tempat strategis yang sering di lihat orang misalnya. Dekal sekolah , dekat pasar dan di pusat pemerintahan desa yaitu Balai Desa.

Setelah dipasang mulai kegiatan di desa sesuai dengan yang tertulis dalam APBdes. Setiap kegiatan tentu ada pelaksana yaitu TPK . Masing masing TPK melaporkan secara berkala kegiatan yang dilakukan.  Semua kegiatan didokumentasikan dan juga dibuat laporannya kepada  tingkat kecamatan , kabupaten atau diatasnya. Laporan itu setahun sekali ada baiknya kembali dibuatkan banner atau baliho semua proyek yang telah dilaksanakan.

Dengan adanya pemasangan APBdes tersebut setidaknya warga masyarakat tahu apa yang dikerjakan oleh pemerintahan desa dalam satu tahun anggaran. Warga desa tahu sebatas mana keberhasilan pemerintah desa dalam melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan. Masyarakat juga tahu jika ada penyelewengan anggaran melihat dari fisik yang mereka kerjakan.

Mudah-mudahan himbauan memasang banner atau baliho yang berkaitan dengan APBDes bisa dilaksanakan di desa sebagai sosialisasi. Jika ada desa yang tidak memasang seharusnya ada sangsi yeng diterapkan kepada desa. Sehingga semua desa bisa melaksanakan himbauan itu sebagai bukti transparansi keuangan desa yang selalu digembar-gemborkan petinggi di tingkat pusat. 

H.Fatkul Muin
Redaksi Media Online www.kabarseputarmuria.com

Minggu, 04 Juni 2017

Petani Mutih Wetan Demak Gembira , Saluran Air Penuh Lagi






Demak – Petani padi di desa Mutih Wetan  hari-hari  ini bersyukur dan bergembira karena saluran air yang kering kini penuh air  lagi. Selain delontoran air dari Pintu Sembilan juga air hujan beberapa hari terakhir ini. Kini mereka sibuk merawat tanaman padinya dengan memupuk dan menyemprotkan hama.

“ Alhamdulillah  air sudah sampai disini selain itu hujan beberapa kali juga menjadikan sawah di sini hijau kembi . Kalau tidak ada air seperti ini bisa bisa tanaman padi disini mati kekurangan air “, ujar Mbah Rifai petani dari desa Mutih Wetan pada kabare Demak.

Mbah Rifai yang di temui sedang memupuk sawahnya yang mulai menghijau kembali. Beberapa sawah di sebelahnya masih ada sebagian yang terlihat kuning daunnya. Sawah tersebut baru dapat gelontoran air karena tempatnya agak tinggi. Sawah yang posisinya rendah air dari saluran bisa langsung masuk ke sawah. Namun yang agak tinggi perlu pompa untuk menaikkan air.

“ Yang masih kuning itu baru saja dimasukkaan air lewat pompa karena sawahnya agak tinggi. Satu dua hari ke depan bisa hijau kembali asal kita beri pupuk . Kalau sampai panen kelihatannya airnya cukup “ tambah Mbah Rifai.

Mbah Rifai mengatakan persawahan desa Mutih Wetan lumayan luas. Lokasinya di sebelah Barat jalan raya Mutih – Bungo. Jika padi sehat dan tidak kena hama  dan harga gabah bagus maka bertani cukup menguntungkan. Panen sekali bisa untuk menutup biaya sewa dan operasional sedangkan padi kedua atau gadu merupakan keuntungannya. Sehingga jika air cukup semua petani menggarap sawahnya.

“ Yang namanya usaha ya kadang ada ruginya misalnya jika padi kena hama atau puso kekurangan air. Namun yang namanya petani meski gagal panen musim tanam berikutnya juga terus menanam padi . Kalau dihitung rugi dan untungnya banyak untungnya apalagi  jika harga gabah bagus “, kata Mbah Rifai lagi.

Disisi lain M. Lufie Noor mantan Kepala Desa Mutih Wetan mengatakan persawahan desa Mutih Wetan cukup luas. Selain untuk tanam padi ada juga yang sudah alih fungsi sebagai tambak ikan dan garam. Namun demikian warga yang terjun menjadi petani masih mendominasi. Oleh karena itu sawah masih menjadi andalan warganya untuk menghidupi keluarga. Meskipun ada juga yang merantau ke Jakarta.

“ Kalau disini sawah masih menjadi andalan warga untuk kehidupan sehari-hari. Sehingga jika panen bagus ekonomi juga lancar. Jika hasil sawah kurang atau puso  kondisi ekonomi di desa juga turun”, papar Lutfie yang juga menggarap sawah  ketika menkabat sebagai Kepala Desa. (Muin)