Kamis, 27 Februari 2014

INILAH Professor Dr. Ing. Eko Supriyanto, Professor Termuda Dunia Asal Demak


Demak -  Saat ini banyak ilmuwan Indonesia yang memilih berkiprah di luar negeri karena keterbatasan fasilitas riset di Tanah Air, bahkan tidak sedikit yang mencetak prestasi mengagumkan. Salah satunya adalah Prof. Dr. Ing Eko Supriyanto (36 Th), pria kelahiran Desa Ngelo, Kec. Mijen, Kab. Demak, Jawa Tengah adalah alumnus Institut Teknologi Bandung yang meraih gelar Professor waktu umur 33 tahun dan Doktornya di Hamburg, Jerman. Lebih dari 25 penghargaaan internasional, 130 publikasi internasional dan berbagai kedudukan strategis di beberapa negara dimilikinya saat ini.

Kiprahnya dalam bidang rekayasa biomedis di negeri jiran Malaysia telah membuatnya meraih lebih dari 20 paten, terkait dengan produk rekayasa biomedis. Produk yang dihasilkannya merupakan paduan ilmu teknologi dan kedokteran, untuk menghasilkan alat-alat pembantu diagnosis, terapi dan rehabilitasi. Beberapa produk di antaranya adalah boneka pintar untuk menguji dan meningkatkan kemampuan anak balita, USG untuk bidan, transceiver untuk telemedika, Power meter untuk mesin terapi ultrasonik, Sonoimprometer untuk menguji alat USG, instrument magnetoakustik untuk mendeteksi kanker payudara, alat deteksi dini penyakit Alzheimer, biosensor untuk mendeteksi kanker serviks, robot untuk melakukan tomografi ultrasonik, stimulator otak untuk meningkatkan kemampuan belajar, dan obat herbal untuk mengobati kanker payudara. 

. Prof. Eko berdiskusi tentang sistem pendidikan di Indonesia dengan Menkoresra RI. 
Salah satu produknya disebut Smart Doll adalah alat boneka pintar karena tidak hanya buat mainan. “Boneka itu saya namai Elissa. Boneka ini bisa menguji kemampuan anak-anak balita, terutama bisa berfungsi bagi anak-anak berkebutuhan khusus,” jelas Eko seraya menambahkan Elissa bisa menguji kemampuan kognitif, psikomotorik, sosio emosional, bahasa dan wilayah lain yang menjadi standar dalam menganalisis perkembangan anak.

“Setelah mendeteksi, alat akan mengeluarkan hasil analisa dan program atau semacam kurikulum untuk memandu training anak tersebut selama seminggu ke depan. Semua bertujuan agar kemampuan anak lebih baik,” kata Eko. Ia  menjelaskan, alat ini juga bisa menyanyikan lagu yang disukai anak-anak dan mendongengkan sebuah cerita. Sistem di dalam boneka ini telah diprogram untuk menyimpan beberapa lagu dan dongeng populer. Alat yang ditujukan untuk membantu orangtua dan dokter mengenal anak ini dinamakan Eko berdasarkan nama putrinya sendiri. Sekarang, alat telah dikembangkan dan dipakai oleh beberapa pusat perkembangan anak di Malaysia.

Selain boneka pintar, juga mengembangkan transceiver sistem telemedika, sebuah perangkat yang didesain untuk meminimalisasi biaya diagnosis jarak jauh. Menurutnya, di pedesaan (rural area) pun banyak masyarakat yang menderita penyakit seperti jantung, stroke dan penyakit yang membutuhkan pemantauan. Dengan alat ini, pemantauan bisa dilakukan secara mudah dan murah, hanya bermodal instalasi listrik. “Kita hanya perlu listrik di desanya dan tak perlu internet karena internet dibutuhkan setelah sampai di kota. Jadi, nanti kita jual satu perangkat alat yang terdiri pemancar dan penerima saja. Teknologi ini sangat murah,” jelasnya.

Prof Eko menjelaskan kinerja teknologi pembuatan jantung kepada Wakil Perdana Menteri Malaysia, Sekjen Kementerian Pendidikan Malaysia, Direktur Utama Institut Jantung Negara Malaysia dan Rektor UTM. 
Dalam merancang setiap peralatannnya, Eko selalu berpegang teguh pada tiga hal, lebih murah, lebih cepat, dan lebih aman. Hal itu dijadikan prinsip sebab menurutnya teknologi diagnosis yang berdasarkan rekayasa biomedis haruslah aman dan bisa dijangkau masyarakat luas.

Produk selanjutnya adalah alat deteksi awal penyakit Alzheimer. Dengan alat ini kita dapat memprediksi kapan seseorang akan mendapat penyakit Alzheimer.  Dari hasil simulasi dan pengujian yang dilakukan, didapati bahwa alat ini mampu mendeteksi Alzheimer, bahkan 30 tahun sebelum seseorang mendapat Alzheimer, yang berakhir dengan kematian. Produk ini mendapat penghargaan internasional sebagai produk dunia terbaik dari KIPA Korea Selatan dan produk paling kreatif di dunia dari National Research Council Thailand pada tahun 2011. 

Eko juga mengembangkan alat yang bisa digunakan untuk mendeteksi kanker cerviks sejak dini. Lewat teknologi baru yang dibuatnya, kanker cervix (leher rahim) bisa dideteksi hanya dengan cara menganalisis pembalut wanita yang digunakan saat menstruasi. “Cara ini akan membuat wanita lebih nyaman untuk di diagnosa apakah mempunyai kanser serviks atau tidak,” tutunya.

Saat ini Eko dipercayai oleh pemerintah Malaysia, untuk menjadi Direktur Pusat Penelitian Jantung Negara di bawah Kerjasama antara Institut Jantung Negara Malaysia dan Universitas Teknnologi Malaysia, setelah sebelumnya mengemban tugas sebagai Ketua Jurusan Sains Klinikal di UTM. “Tugas saya adalah untuk menghasilkan jantung buatan yang harganya dapat dijangkau dan aman untuk dipakai.

Di Malaysia, harga implantasi satu Jantung Buatan adalah sekitar RM 500 ribu (Rp. 1.8 Milyar). Saya berharap harga ini bisa ditekan menjadi hanya sekitar Rp. 800 juta, sehingga banyak orang yang memerlukan jantung dapat diselamatkan hidupnya”, kata Eko. Riset tentang jantung ini dilakukan melalui kerjasama dengan Universitas di Aachen Jerman dan Australia. Sekarang ini Eko juga sedang menjajaki kemungkinan melakukan kerjasama dengan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta, untuk mengaplikasikan beberapa penemuannya di masa mendatang. 

Sementara itu,  Warga Demak di Jakarta, H. Agus Rohmat saat disambangi di rumahnya di bilangan Kebun Jeruk mengungkapkan kegembiraannnya disaat sama-sama menjadi narasumber dalam Seminar Nasional tentang “Pendidikan Nasional yang Berkarakter”, beberapa waktu lalu bahwa kalau Kabupaten Demak mempunyai Putra Terbaik Bangsa, bahkan diakui Negara Jerman, Malaysia yang berani menggaji sangat tinggi dan Indonesia sendiri serta Dunia luar karena mahir beberapa bahasa. “Hingga di libatkannya di beberapa lembaga dunia seperti WHO, lembaga pemerintah seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Pertahanan dan Kepolisian,” tutur Pamen Polisi ini.

Di Indonesia, beliau juga berkiprah untuk menjadi penasehat para kepala daerah untuk pembangunan daerah dan pendidikan, misalnya di Kabupaten Pelalawan, Riau dan Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, yang tempatnya cukup dekat dari rumah Eko di Johor Bahru Malaysia. Selain itu Eko juga masih aktif sebagai Guru Besar di Departemen Radiologi, Fakultas Kedokteran UNPAD, Bandung. 

Lebih jauh diceritakannya, mas Eko pria kelahiran Desa Ngelo, Kec. Mijen, Kab. Demak, yang masa kecilnya di bangku SD, SMP di Mijen sambil memelihara kambing (Angon-red) dan bangku SMA di Magelang sambil jualan koran memperoleh gelar Professor saat usia 33 Tahun, sangat pantas menjadi Pejabat Negara untuk memajukan Bangsa Indonesia di mata dunia Internasional sesuai dengan keahliannya yaitu Menristek maupun Wapres, hingga suatu saat tidak mustahil menjadi Presiden. “Bahkan mas Eko mengutarakannya ingin terjun ke dunia politik, kalau sudah mempunyai uang Rp. 70 trilyun, karena kalau menjadi pemimpin dengan memiliki uang tidak akan korupsi. Subhanallah,” ujar Agus meniru ucapan mas Eko.

Selama di Jerman beliau juga aktif berorganisasi, bahkan sempat berkecimpung sebagai Ketua Umum Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia di Jerman, sebuah organisasi yang didirikan oleh Professor Habibie pada tahun 1976. Beliau pernah menjadi Ketua Konferensi Internasional “Menuju Indonesia 2020” pada tahun 2004 di Hamburg, dan “Teknologi untuk Indonesia” pada tahun 2006 di Duisburg.

Ketika di Hamburg beliau sempat bertemu dengan Presiden Gus Dur. Sementara ketika di Duisburg, beliau sempat berdiskusi dengan Menristek Indonesia dan Menteri Riset dan Pendidikan Jerman. Pada tahun 2004, beliau juga dipercayai oleh warga Indonesia di Jerman, untuk menjadi Ketua Pemilihan Luar Negeri (PPLN/ KPU Luar Negeri) Wilayah Jerman Utara. Beliau ini orang yang mengagumi ketokohan Gus Dur sebagai orang yang berani membela yang benar, kesetaraan dan pluralisme.

Selain itu, beliau juga tegas dan disiplin, karena beliau sempat mengenyam pendidikan selama 3 tahun, di Universitas Angkatan Bersenjata Jerman.

“Teman saya adalah para perwira terbaik dari seluruh dunia, yang saat itu belajar di Universitas Angkatan Bersenjata Jerman. Saya faham betul kehidupan militer, strategi militer dan berbagai teknik dalam pertahanan dan keamanan”m ujarnya.

Beliau menganggap, Indonesia perlu dipimpin oleh seseorang yang merupakan gabungan antara Gus Dur (karena keberanian membela minoritas dan yang lemah), Prabowo (karena keberanian dan ketegasannya dalam membela Negara), Habibie (karena kepandaiannya dalam bidang teknologi) dan Jokowi (karena keberaniannya untuk turun kebawah).

Saat ini Eko juga mengaggumi kemampuan Jokowi untuk turun ke bawah. Sifat ini juga dimiliki oleh Eko, karena memang beliau adalah orang desa, yang faham tentang kehidupan orang-orang di desa, kehidupan orang-orang miskin dan terpinggirkan. “Saya yakin Indonesia, akan lebih baik, kalau dipimpin oleh orang-orang yang mempunyai karakter-karakter gabungan seperti diatas,” paparnya.     

Prof. Eko menerima penghargaan sebagai penemu produk terbaik dunia, dalam kompetisi produk internasional di Seoul, Korea Selatan. 
Ditambahkan Kombes Pol. H. Agus Rohmat, S.Ik, SH, M.Hum, yang saat ini menjabat Dir. Serse Narkoba Polda Kepri, sosok Professor Eko meskipun usianya masih muda namun kemampuannya sudah tidak diragukan lagi meskipun saat ini berada di Malaysia hingga keliling dunia dengan kesibukannya, sehingga bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin seperti mas Eko.

“Sosok Professor Eko layak memimpin bangsa Indonesia, karena sangat cerdas, mempunyai impian terbang ke planet Mars. Sudah banyak menciptakan alat tehnologi kesehatan, dan saat ini sedang melakukan penelitian pembuatan jantung tiruan yang dibiayai Malaysia,” paparnya.

Selain itu ternyata Prof. Eko, juga mempunyai beberapa penemuan dalam bidang pertahanan, seperti “Kapal Patroli Tanpa Awak dan Tanpa Bahan Bakar”, keamanan seperti “Alat Pendengar Jarak Jauh”, serta pendidikan, seperti “ Peralatan untuk mendukung implementasi pendidikan IPA untuk Sekolah Dasar dan Menengah berdasar kurikulum 2013”. Bahkan alat ini pernah dipresentasikan kepada Wamen Dikbud di Jakarta pada pertengahan tahun 2013.


Di tempat terpisah, Antok orang dekat Professor Eko juga mengharapkan Kabupaten Demak memiliki putra-putri terbaik di bidangnya masing-masing, tidak hanya mas Eko. Sehingga bisa membawa nama harum Kabupaten Demak khususnya bangsa Indonesia di mata dunia Internasional. (Moh.Ridwan) 

Sumber : www.BEDAnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar