Rabu, 25 Desember 2013

Pecel “Rujak Cingurnya” Bu Maaryam Purwogondo Memang Lezat


REP | 26 December 2013 | 10:03  Dibaca:    Komentar: 0    0

1388026746712390066
Bu Maryam ( baju merah)
Jepara - Salah satu warung makan yang terkenal di seputaran protelon Purwogondo kecamatan Kalinyamatan Jepara adalah Rujak Cingur bu Maryam. Lokasi warung ini dari protelon sekitar 200 meter ke arah selatan tepatnya menuju ke lapangan Kenari. Tepat di kiri jalan jika anda menuju ke Water Boom Tiara Park.
Sejak dulu warung ini menyajikan hidangan yang khas yaitu pecel campur rujak cingur. Untuk temannya disediakan lonthong dan horog-horog makanan khas Jepara yang berasal dari tepung aren. Untuk minumannya ada berbagai pilihan es dawet , es teh , kopi , bubur kacang ijo dan minuman ringan lainnya.Selain itu masih ada berbagai macam gorengan.
Khusus untuk pecel rujak cingurnya sudah ada sejak dulu . Jika dihitung warung ini melayani pelanggannya sudah lebih 20 tahun. Waktu itu putra-putri ibu Maryam masih kecil-kecil.Dan Warung itu dibuka untuk membantu suami menambah penghasilan untuk keluarganya. Dulu yang membuat dan menyajikan ibu Maryam sendiri.
Namun seiring dengan perjalanan waktu yang melayani pembeli kini adalah putra dan putrinya. Justru kini salah satu putranya sering mengantikannnya dalam meramu bumbu pecel untuk dihidangkan ke pelanggannya. Anda jangan kaget itu adalah salah satu putra ibu Maryam.
1388026824984687586
Pecel Rujak Cingur bu Maryam
“ Ya sekarang yang menunggui warung ini kebanyakan saya . Ibu paling-paling yang meramu bumbu dan juga member pengarahan saja “, kata putra ibu Maryam padaFORMASS Selasa (24/12).
Selain sayur-sayuran yang segar ciri khas  pecel rujak cingur ibu Maryam ini terletak pada bumbu pecel yang cukup menendang. Tekstur bumbunya sangat halus sehingga campuran kacang ,gula , dan bumbu lainnya menyatu banget. Keistimewaannya terletak pada bau terasi yang sedap dalam bumbu pecel tersebut.
Oleh karena itu cukup mantap jika dipadukan dengan dengan rujak cingur yang kenyal. Sehingga jika dimakan rasanya akan gurih-gurih nyos . Apalagi jika dimakan pada siang hari ketika perut lapar rasanya begitu lezat dan ngangeni. Wajar jika warung ini cukup ramai jika makan siang tiba.
1388026916478428305
Es dawetnya nyus
“Alhamdulillah selama lebih 20 tahun membuka warung . Pelanggan saya silih berganti namun banyak pula pelanggan lama yang sudah puluhan tahun merasakan pecel rujak cingur ini “, aku Ibu Maryam.
Untuk harganya saat ini satu porsi pecel rujak cingur beserta nasi atau horog-horog Rp 8 ribu rupiah. Sedangkan untuk minuman Es dawet Rp 4 ribu. Oleh karena itu jika kita masuk ke warung ini tidak usah bawa uang banyak cukup Rp 15 ribu bisa merasakan satu porsi pecel rujak cingur, satu gelas Es Dawet, dan beberapa gorengan.
Nah bagi pembaca yang belum pernah merasakan lezatnya “Pecel Rujak Cingur “ Ibu Maryam Purwogondo bisa klenang-klenong ke warung ini. Lokasinya cukup mudah anda dari Jepara atau Kudus sampai di protelon Purwogondo belok Kiri dan lurus sekitar 200 meter ada banner warung . Kalau belum ketemu langsung tanya pada orang sekitar dijamin ketemu Silakaaaan, (Muin)



Masjid “Sidiq Mulyo” Sidi Gede Dulu Diresmikan Hendro Martojo


Jepara – Beberapa hari  yang lalu  saya berjalan-jalan njajah desa milangkori ke desa Sidi Gede kecamatan Welahan kabupaten Jepara. Ketika itu waktu shalat Ashar tiba akhirnya saya anak saya mampir ke masjid untuk melaksanakan shalat.

Masjid tersebut bernama Masjid “Sidiq Mulya” dengan kondisi bangunannya  yang bagus  dibandingkan dengan yang lainnya. Selain halamannya luas untuk parkir dengan paving yang rapi. Tempat wudhunya juga banyak dan airnya cukup lancar. Kamar mandi dan WC juga tersedia untuk para jamaah.

Usai wudlu sayapun masuk ke dalam masjid untuk sholat. Meskipun tidak begitu besar kondisi dalam masjid cukup nyaman untuk shalat. Bentuk mihrabnya sederhana namun kelihatan gagah. Mimbar untuk khotbah kecil terbuat dari kayu jati berukir sehingga cukup nyeni untuk dilihat.

Bagian depan masjid berlantai dua tidak full. Namun disisakan dibagian depan. Kanan kiri serta belakang berlantai dua sehingga mampu menampung jamaah yang cukup banyak. Utamanya untuk shalat Jamaah Jum’at dan shalat hari raya.

Untuk lantainya memang agak kuno karena terbuat dari marmer kasar. Namun untuk jendela dan pintu dilihat cukup bagus karena terbuat dari kaca patri yang dipadukan dengan kusen kayu jati. Sedangkan untuk dinding selain dikeramik ada juga yang dicat halus.




Ketika saya lewat di bagian depan masjid ada prasasti yang cukup besar. Papan dari batu marmer itu bertuliskan kapan masjid itu usai dibangun dan diresmikan. Nah di batu itu tertulis masjid Sidiq Mulyo desa Sidi Gede itu diresmikan hari Rabu tanggal 27 Oktober 2010 oleh orang nomor 1 Jepara pada waktu itu Bapak Hendro Martojo.

Adapun renovasi pertama tertanggal 4 Maret 2004 . Sehingga Masjid yang cukup megah di kawasan Sidi Gede dan sekitarnya hanya dibutuhkan waktu sekitar 6 tahun. Warga Sidi Gede patut diacungi jempol untuk kegiatan pengumpulan dana pembangunan masjid ini.


Nah bagi anda yang belum pernah melihat kemegahan masjid “Sidiq Mulya” ini bisa mampir dan shalat di sana . Adapun lokasinya pinggir jalan antara desa Teluk Wetan menuju ke desa Karanganyar dan tepat dipinggir jalan. (Muin).


Ketika Warna Kulit Menentukan Kemerdekaan



Judul Film    : 12 Years A Slave
Tahun            : 2013
Genre            : drama-histori
Durasi           : 134 menit
Sutradara      : Steve McQueen
Produser       : Brad PittDede Gardner, Jeremy Kleiner, Bill Pohlad, Steve McQueen, Arnon Milchan Anthony Katagas
Pemain         :  Chiwetel Ejiofor (Solomon Northup), Michael Fassbender (Edwin Epps), Lupita Nyong’o (Patsey), Sarah Paulson (Mary Epps), Benedict Cumberbatch (William Ford) Brad Pitt (Samuel Bass), Paul Dano (John Tibeats)
Tahun           : 2013

Semua menjadi benar ketika hukum membenarkan
Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara penegak hak asasi manusia, memiliki sejarah kemanusiaan yang kelam. Lewat filmnya yang diadaptasi dari kisah nyata, sutradara Steve McQueen mencoba menghidupkan kembali suasana di Amerika Serikat tahun 1841. Ketika perbudakan dilegalkan dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat 1776.
Solomon Northup, negro merdeka yang hidup bersama istri dan kedua anaknya di Saratoga Spring, New York, adalah seorang tukang kayu dan pemain biola yang handal. Suatu hari dia ditawari pekerjaan oleh dua orang orang tak dikenal sebagai pemain biola pada sirkus dengan gaji yang menggiurkan. Malam setelah minum-minum dengan dua orang tersebut, Northup terbangun di sebuah ruangan dengan tangan dan kaki dirantai. Ia terjebak dalam perbudakan  dan dijual kepada William Ford pemilik perkebunan di New Orleans. Northup dipaksa mengaku sebagai “Platt”, nama budak buronan dari Georgia.
Sebagai budak, Northup membantu Ford merancang jalur air untuk mengangkut kayu secara  cepat dan efisien. Kepandaiannya membuat Ford terkesan dan menghadiahkan sebuah biola kepadanya. Kedekatan Northup dan majikannya membuat John Tibeats, mandor tukang kayu, sangat membencinya. Konflik antara keduanya memuncak ketika Northup melawan saat Tibeats hendak menyiksanya. Sang majikan terpaksa menjual Northup ke Edwin Epps, pemilik perkebunan kapas demi melindunginya dari Tibeats. Sebelum dirinya dijual, Northup mengaku pada Ford bahwa dirinya adalah negro merdeka tetapi Ford tidak memercayainya.
Tugas pertama Northup adalah memanen kapas. Setiap budak diharuskan memanen paling sedikit 200 pound (±90.72 kg) setiap hari. Tetapi, Patsey (budak wanita muda) mampu memanen 500 pound (±226 kg) setiap harinya. Patsey mendapatkan perhatian khusus dari Epps sehingga Istri Epp sangat cemburu padanya. Panen pertama diliputi dengan wabah ulat kapas. Epps percaya wabah tersebut dikirim Tuhan melalui budak barunya. Kemudian ia menyewakan budak-budaknya ke perkebunan kawannya selama satu musim. Disana, Northup diberi sejumlah uang oleh pemilik perkebunan sebagai hadiah karena telah bermain biola pada pesta pernikahan temannya.
Ketika kembali ke perkebunan Epps, Northup menggunakan uangnya untuk membayar mantan mandornya agar mengirimkan surat ke temannya di New York untuk membebaskannya. Mantan mandor Northup setuju dan mengambil uangnya, tetapi melaporkannya pada Epps. Ia beruntung dapat meyakinkan Epps bahwa cerita itu palsu, tetapi Epps masih tetap curiga. Selanjutnya, Northup mulai bekerja di pembangunan paviliun dengan buruh kulit putih asal Kanada bernama Bass. Northup menceritakan penculikan dirinya pada Bass. Bass percaya dan mengambil resiko membantu Northup mengirim surat ke temannya.
Ketika sedang bekerja, Northup dipanggil oleh sheriff setempat bersama seorang pria yang kemudian menanyakan tentang masa lalu Northup. Northup mengenali pria yang bersama sheriff  adalah Parker, penjaga toko dari Saratoga. Parker datang untuk membebaskannya setelah 12 tahun menjadi budak. Northup di bebaskan dan kembali ke keluarganya. Pertemuan mengharukan terjadi ketika anak perempuannya yang telah menikah menggendong seorang bayi yang merupakan cucunya.
Melalui sudut pandang seorang merdeka yang diperbudakkan, film ini cukup jelas menceritakan bagaimana sosok budak pada saat itu diperlakukan. Mulai dari banyaknya kekerasan harus mereka terima, berpisah dari keluarganya dan kehilangan semua hak yang seharusnya mereka miliki sebagai manusia. Budak hanya dianggap sebagai alat pekerja, sehingga hampir tidak ada dari mereka yang bisa membaca dan menulis. Bahkan sang majikan dengan radikal menyangkutpautkan perbudakan dengan alkitab. Terlihat dari dialog “And that servant which knew his Lord’s will and prepared not himself, neither did according to his will, shall be beaten with many stripes.  That nigger that don’t take care, that don’t obey his lord – that’s his master, shall be beaten with many stripes.  Now, “many” signifies a great many.  Forty, a hundred, a hundred and fifty lashes,  That’s Scripter (in holy book)!”. Dimana sang majikan menyalahartikan Lord (tuhan) sebagai Master (majikan).
Film yang memenangkan Overall Audience Favorite dalam Mill Valley Film Festival 2013 Oktober lalu, memiliki banyak adegan yang menyentuh rasa kemanusiaan terkait perlakuan terhadap budak. Budak adalah manusia yang tidak merdeka. Namun, menjadi benarkah untuk mengeksploitasi mereka sedemikian rupa, padahal mereka juga manusia. Hal ini, tentunya akan kembali pada aturan yang berlaku pada masa itu bahwa perbudakan memang dilegalkan.
Diakhir bagian, diceritakan sedikit epilog tentang perjuangan Northup setelah dia kembali ke New York dalam melawan perbudakan. Hal ini menjadi nilai tambah, karena apa yang yang menjadi akhir dari film bukan berarti akhir dari cerita Northup. Sayangnya, dalam film ini penggambaran waktu 12 tahun kurang terlihat, mungkin dikarenakan kurang detailnya waktu pada film. Namun, terlepas dari kekurangannya, penggambaran keadaan pada masa perbudakan dengan sangat baik. Film ini penuh dengan adegan penyiksaan yang terlihat nyata sebagaimana dalam film The Passion of Jesus Christ. Terdapat pula adegan sang majikan yang melecehkan budak secara seksual. Oleh karena itu, film ini  tidak disarankan untuk anak dibawah umur. [Nailil Husna, Isnaini Ahmadi]


Senin, 23 Desember 2013

Puluhan Rumah Di Kedungmutih Demak Menunggu Di Bedah


Demak – Desa Kedungmutih kecamatan Wedung   merupakan salah satu desa pesisir di kabupaten Demak. Sejak dahulu desa ini dikenal sebagai kantong kemiskinan karena warganya hanya mengandalkan laut sebagai mata pencaharian.

Namun seiring dengan pemberdayaan yang telah dilakukan oleh pemerintah desa ini mulai beranjak dari keterpurukan ekonomi. Selain pembukaan lapangan pekerjaan baru . Warga desa ini remaja putrinya banyak yang keluar desa sebagai TKW ( Tenaga Kerja wanita ) ke luar negeri.

“ Dulu yang mendominasi adalah TKW di Arab Saudi . Tetapi karena saat ini telah di tutup mereka bergeser ke Abu Dhabi, Kuwait dan Malaysia”, kata Hamdan (57) Kepala desa Kedungmutih pada FORMASS Senin (23/12).




Bagi mereka yang keluarganya menjadi TKW ke luar negeri ekonomi mereka mulai tertata. Rumah merekapun kelihatan layak huni karena telah direnovasi. Selain ditinggikan dinding rumah digantikan dengan tembok dan rata-rata berlantai keramik.

“ Tetapi masih ada puluhan rumah lainnya yang tidak layak huni karena tidak mempunyai biaya untuk merenovasi. Biasanya mereka hanya mengandalkan tenaga saja untuk mencukupi kehidupan sebagai buruh kasar”, tambah Hamdan.

Hamdan yang telah menjabat kepala desa yang kedua kali mengatakan. Satu setengah tahun yang lalu memang desanya mendapatkan bantuan pemerintah bedah rumah. Namun karena jumlah bantuan yang terbatas maka belum semua rumah tidak layak huni . Jadi masih ada seratusan rumah yang harus diperhatikan.




Seperti halnya rumah milik Yuyun warga RT 01 RW 1 desa Kedungmutih ini. Selain kecil juga tidak layak huni karena kondisinya sangat sederhana. Dinding rumah terbuat dari gedek  dan atapnya terbuat dari asbes. Ukurannya hanya 3 X 4 meter. Lantainya pun masih tanah liat jika hujan tiba didalam becek.

“ Ya habis bagaimana saya hidup sendirian dengan anak saya. Suami sudah tidak mempedulikan saya semenjak saya sakit. Ya kalau hujan bocor dan air tergenang di sana –sini “, aku Yuyun yang disambangi FORMASS.


Rumah ibu Yuyun

Yuyun adalah salah satu potret keluarga miskin di Kedungmutih yang rumahnya tidak layak huni. Di desa Kedungmutih masih ada puluhan keluarga miskin yang mengaharapkan bantuan bedah rumah dari Kementrian Perumahan atau dinas instansi terkait lainnya. (Muin)



pak Hadi Utomo Tukang Parkir Bisa Kuliahkan Anak Di Unnes


Jepara – Bagi Hadi Utomo (50) warga desa Pecangaan Kulon Kecamatan Pecangaan bekerja bukanlah untuk mencari kekayaan. Namun hanyalah untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anak. Oleh karena itu meskipun tergolong pas-pasan dari segi penghasilan namun ucap syukur setiap hari terus terucapkan.

“ Meski dipandang sebelah mata kerja sebagai tukang parkir . Namun saya tidak mempedulikan yang penting halal dan bisa membiayai anak-anak sekolah dan juga belanja di rumah “, aku Hadi Utomo pada FORMASS Senin (23/12).

Hadi utomo mengatakan kerja sebagai tukang parkir sudah dijalani lebih dari 10 tahun . Dulu sebelum markir ia bekerja sebagai karyawan pabrik Aqua di Pudak Payung Semarang. Namun setelah berumah tangga iapun beralih profesi sebagai tukang parkir.

Awal terjun sebagai tukang parkir memang ada rasa malu . Tetapi rasa malu itupun disingkirkan jauh-jauh demi menghidupi anak dan istrinya. Setelah beberapa bulan iapun telah terbiasa dan enjoy saja. Meskipun harus mengumpulkan uang recehan tetapi berkat uang recehan itu ia mampu menguliahkan anak ke Perguruan Tinggi.

“ Alhamdulillah anak sulung saya kini sudah semester 7 jurusan sejarah di UNNES Semarang. Semua biaya kuliah juga dari hasil parkir dan juga kerja istri di Catering milik tetangga “, tambah Hadi Utomo.

Bekerja sebagai tukang parkir menurut Hadi membutuhkan kesadaran tersendiri . Tidak semua orang tahu aturan parkir oleh karena itu jika ada yang tidak memberika uang parkir ia tidak memaksakan. Bagitu juga ketika ada yang memberikan uang lebih iapun memberikan uang kembali.

pak Hadi


“ Aturannya untuk parkir sepeda motor bayarnya Cuma Rp 500. Sedangkan untuk mobil Rp 1.000. Tetapi ada juga yang diberi kembalian namun diberikan kembali . Ya saya terima mungkin ini rezeki lebih saya”, kata Hadi Utomo.

Hadi Utomo mengaku kerjanya sebagai tukang parkir di depan Masjid Walisongo Pecangaan legal. Setiap bulan ia menyetor ke dinas perhubungan sebagai kewajiban mengisi kas daerah. Dari sisa setor itulah yang menjadi haknya sebagai tukang parkir. Dari selisih setor ke Dinas perhubungan itulah setiap bulannya ia bisa mencukupi kehidupan harian rumah tangganya.

“ Anak saya tiga pak laki-laki semua. Yang nomor dua dan nomor tiga kini duduk di SMA semua. Alhamdulillah anak-anak saya nurut sama orang tua . Itulah yang menjadi tabungan saya kelak. Saya tidak bisa meninggalkan harta hanya ilmu yang mudah-mudahan kelak bermanfaat “,urai Pak Hadi.


Selain pak Hadi diseputaran Pecangaan ada beberapa tukang parkir yang mempunyai daerah kerja masing-masing. Dan pak hadi Utomo adalah salah satu potret tukang parkir yang berhasil mendidik anaknya hingga ke perguruan tinggi dari hasil kerja markir. (Muin)




Minggu, 22 Desember 2013

Kemabruran Haji Harus Tetap Terjaga

Ustadz H. Misbahuddin berikan tausiyah

Jepara – Haji adalah salah satu ibadah yang tidak setiap orang bisa menjalani. Selain ada persyaratan tertentu juga situasi dan kondisi menjadi salah satu penentu keberhasilan ibadah ini. Oleh karena itu siapapun orang yang pernah menjalani ibadah haji harus menjaga kemabruran haji yang telah diperolehnya.

“ Ya salah satu menjaga kemabruran haji adalah tetap terjalinnya silaturahim. Yaitu dengan idaroh semacam ini silaturahim tetap terjaga . Oleh karena itu diharapkan kegiatan ini terputus “, kata Ustadz H. Misbahuddin dari Demangan Jepara di acara Silaturahim Paguyuban haji KBIH “Jabal Nur” tahun 2012/1433 H di rumah H. Sukardi Demaan Jepara.

Ustadz H. Misbahuddin yang berangkat ibadah haji tahun 2006 mengatakan, haji yang mabrur akan mendapat 2 keistimewaan. Keistimewaan yang pertama akan dikabulkan segala permintaannya . Oleh karena itu jika memohon kepada Allah diharapkan permintaan yang baik saja.

Sedangkan keistimewaan yang kedua mereka akan mendapatkan maghfiroh atau pengampunan kepada Allah. Segala kesalahan yang diperbuat terdahulu akan mendapat pengampunan dari Allah SWT. Namun demikian diharapkan setelah mendapatkan ampunan tidak akan melakukan kesalahan lagi.

Sebagian Anggota paguyuban


“ Selain itu masih banyak lagi keistimewaan yang didapatkan oleh orang yang mendapatkan predikat haji Mabrur. Oleh karena itu kita mohon kepada Allah mudah-mudahan ibadah haji yang telah kita kerjakan mendapatkan predikat Haji Mabrur “, tambah Ustad Misbahuddin.

Sementara itu H. Agus Ketua Paguyuban haji KBIH Jabal Nur tahun 2012 mengatakan acara Silaturahim haji sudah menjadi agenda rutin. Acara silaturahim diadakan setiap 2  bulan sekali dengan tempat berpindah sesuai dengan giliran masing-masing.

Awalnya anggota berjumlah sekitar 60 orang . Namun karena tempatnya yang berpencaran di Jepara . Maka yang benar-benar aktif mengikuti acara silaturahim sekitar 40 orang. Meskipun demikian tidak semua anggota bisa menghadiri acara karena terbentur dengan kesibukan keluarga masing-masing.

“ Ya kita tidak dapat memaksakan agar bisa datang semua. Harapan kami meskipun tidak bisa full datang semua paling tidak ada separoh lebih agar acara ini bisa gayeng “, kata H. Agus. (Muin)





Sabtu, 21 Desember 2013

Pak Zarkoni : Ketua RT Kerja Sosial Tanpa Bayaran

pak zarkoni

Jepara – Bagi Zarkoni warga desa Kuanyar kecamatan Mayong kabupaten Jepara kerja sebagai ketua RT adalah kerja social. Meskipun cukup merepotkan namun jabatan sebagai ketua RT ini dijalani dengan senang hati. 

Jika dihitung jabatan itu dilakoni lebih 20 tahun dengan banyak permasalahan.
Karier sebagai ketua RT berawal dari ayahnya dulu sebagai Ketua RT dikampungnya. Kala itu dia diberi tugas sebagai sekretaris RT membantu ayahnya . Namun setelahnya ayahnya uzur karena usia iapun didaulat warga untuk menduduki jabatan itu.

“ Ya di katakan senang ya senang. Dikatakan susah ya susah . Menjadi ketua RT bagi saya amanat yang harus dijalankan meski tidak ada bayaran seperti halnya perangkat desa “, kata Zarkoni (47) ketua RT 05 RW 03  yang akrab dipanggil pak gandul oleh temannya sesama pengebreak.

Menjadi ketua RT menurut Pak Gandul banyak suka daripada dukanya. Oleh karena itu meskipun dari segi financial tidak ada apa-apanya. Namun dari segi kemanusian banyak sekali manfaatnya. Terutama dalam bertetangga dan bermasyarakat.

Oleh karena itu dia berprinsip bila warga masih membutuhkan tenaganya. Ia akan terus mengabdi dan berhidmat kepada desa dan masyarakat dilingkungannya. Namun demikian dia mempunyai usulan agar tercipta ketertiban administrasi maka ada anggaran khusus untuk RT setiap tahunnya.

“ Dana itu nantinya bisa digunakan untuk melengkapi administrasi di tingkat RT misalnya untuk membeli buku , alat tulis dan keperluan adminstrasi lainnya. Sementara ini kita nombok terus”, papar Zarkoni.

Untuk tahun 2013 ini lingkungannya mendapatkan jatah dari pemerintahan desa  Kuanyar perbaikan jalan kampung. Dana tersebut kemudian ditambah dengan swadaya masyarakat diwujudkan dengan betonisasi jalan. Meski baru satu jalur namun hal ini cukup membantu masyarakat.

“ Alhamdulilah selain mengeluarkan swadaya masyarakat berupa uang. Warga juga bergotongroyong dalam pengerjaan betonisasi jalan kampung ini “ kata pak Zarkoni sambil menunjukkan jalan kampung  yang telah diperbaiki. (Muin)