Tampilkan postingan dengan label sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosok. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Mei 2017

Abdul Rokhim,SHi , Anak Nelayan Pengacara Handal LBH Demak Raya



 
A bdul Rokhim,SHi
Demak - Abdul Rokhim, S.Hi,. seorang Pengacara muda yang lahir di sebuah desa Pesisir tepatnya di Dukuh Tonosari, Morosari Sayung Demak. Meski di cap oleh kawan kawan sebagai Pengacara muda, beda, nekat dan berbahaya namun kehidupannya terbilang sederhana. Karena sejak kecil, Almarhum  ayah nya yang seorang nelayan tradisional telah membiasakan kehidupan yang sederhana, disiplin dan nguwongke uwong.

 Bahkan sang ibu selalu mengajarinya bagaimana hidup sederhana, bersahaja dan tidak neko neko. Ayah dari Qaesyar (3) tahun ini terjun secara total didunia hukum sejak tahun 2015 dan menjadi pengacara publik pada LBH Demak Raya sejak saat itu juga. Menjadi seorang pengacara seperti sekarang ini, sebelumnya juga tak pernah ada di dalam bayangannya, karena sebelumnya ia memang beberapa kali kerja dikantor Notaris.
 
 Namun  karena jiwa petualangannya dan dari pengalamanya secara langsung melihat banyaknya masyarakat desa utamanya yang tidak mampu ternyata lebih sering ditindas oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga sangat membutuhkan pembelaan untuk menjamin hak-haknya sebagai warga negara dihadapan hukum, maka sejak itulah niat untuk lebih fokus ke bantuan hukum secara cuma cuma muncul dari hatinya. 

Dengan seringnya ia membela kaum yang lemah dalam memperjuangkan hak haknya Tentunya sebagai seorang Pengacara banyak yang memuji, dan bahkan pula yang membencinya.Menski  pengacara gratisan pelayananya pun tak mau kalah dengan pengacara profit. Dan saat sekarang ini ia terus meningkatkan kapasitas keilmuanya .

Rokhim suami dari Iswanti bersama kawan kawanya di LBH Demak Raya juga menempuh pendidikan kuliah S2 Magister Ilmu Hukum pada Universitas Semarang,. Ia berprinsip walaupun sebagai Pengacara publik pendidikan saya harus tinggi, ia tidak mau ketinggalan dengan kawan kawan Advokat  lainnya. 

 Disamping kerap mengisi pendidikan dan penyuluhan hukum di sekolah sekolah SMA di kota Wali Rokhim juga sering memegang perkara-perkara yang menjadi perhatian public. Misalnya  mendampingi korban pengroyokan hingga mengakibatkan meninggal dunia, puluhan buruh yang tidak digaji oleh perusahaan dan lain sebagainya. 

Sebagai Pengacara Publik di LBH Demak Raya, Rokhim saat ini juga lagi merintis pendirian kantor R.I.M & Pertners yang mana kantor ini lebih dikenal dengan kantor Pengacara Fidusia karena eksistensinya lebih banyak ke penanganan Fidusia dan kebetulan juga sudah MoU juga dengan salah satu lembaga pembiayaan di Kab. Demak. 

Ke depan ia berharap Pemerintah dalam hal ini Pemkab Demak lebih peduli dengan masyarakatnya utamanya masyarakat kecil yang tidak mampu yang berhadapan dengan hukum, karena saat ini di Demak juga belum ada Regulasi khusus tentang bantuan hukum ini, akan tetapi meskipun begitu ia tetap komitment akan tetap membantu dan mendampingi masyarakat yang kurang mampu.

 Ia selalu ingat nasihat Alm. Ayahnya "sebaik sebaik manusia adalah yang berguna dan bermanfaat untuk sesamanya" Ya inilah yang saya pegangi hingga saat ini, karena keahlian saya di bidang hukum, ya saya harus "menghibahkan" keilmuan dan diri saya dalam hal ini, ujar Rokhim tutupnya. (K-1)

Rabu, 19 Maret 2014

Pak Djasri Maut Selalu Mengintai Di Ketinggian




Pak Djasri Dkk pasang plafond kubah


Kudus – Bagi sebagian orang bekerja di ketinggian merupakan hal yang menakutkan , namun bagi Djasri (54) warga desa Ngrunting kabupaten Pati itu merupakan hal yang biasa. Bahkan dari bekerja di ketinggian inilah dia bisa menghidupi anak istrinya puluhan tahun dan juga bisa kemana-mana dari keahliannya ini. 

Ya memasang kubah masjid atau musholla inilah ia dapat mengelilingi hampir seluruh wilayah Indonesia , Sematera , Jawa , Kalimantan sampai dengan Ternate pernah ia sambangi. Keahliannya bekerja di ketinggian ini tidak bisa dilakukan sembarang orang , karena selain mempunyai keberanian juga harus mempunyai tekhnik kerja yang baik. Oleh karena itu meski harus menantang bahaya setiap hari , namun karena sudah ahli kemanapun ia siap dipekerjakan.

” Ya karena memang ini keahlian saya kemanapun bos saya mengajak bekerja yang manut saja sama bos. Kalau namanya bekerja saya sudah kerja pasang kubah masjid dan musholla di mana-mana hampir seluruh Indonesia pernah saya datangi ”, ujar Djasri pekerja Kafa Art Kudus yang bergerak dalam pembuatan kubah ketika ditemui ketika memasang kubah panel masjid ” Baitul Makmur ” desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak.

Pada awalnya Djasri mengaku bekerja memasang kubah diketinggian merupakan pekerjaan yang sangat berat , sehingga ketika awal bekerja badan ini rasa bergetar dan keringat dingin keluar. Namun setelah beberapa hari bekerja getaran di dadanya itu lama kelamaan hilang, apalagi dalam bekerja keamanaan untuk pekerja di perhatikan misalnya memakai tali pengaman yang kuat juga menghilangkan pandangan bawah dengan tutup. 

Sehingga meski bekerja diketinggian ia merasa enjoy dan kuat bertahan lama dan dibawa kemanapun oleh sang bos ia siap menjalankan tugas. Selain memasang besi-besi rangka kubah tugas yang dilakukan adalah memasang plafond kubah dari bahan galfanil dan juga memasang panel kubah dari bermacam-macam bahan.



” Ya yang namanya pekerja kita harus siap di tempatkan dibagian mana saja asal kita mampu, pada tahap awal pekerjaan biasanya memasang rangka dari bawah sampai ke atas , selanjutnya plafon dan terakhir pasang panel . Ya yang namanya bekerja ya berat Mas ”, ujar Djasri lagi.

Djasri mengakui ketrampilannya bekerja di ketinggian ini sudah diajarkan kepada dua anaknya dengan cara mengajaknya membantu bekerja . Kelihatannya mereka berdua tertarik pada pekerjaan yang membutuhkan tantangan dan keberanian ini yang setiap orang belum tentu bisa. Selain itu hasilnya telah membuktikan bahwa bekerja di ketinggian ini hasilnya bisa diandalkan untuk menafkahi keluarga .

 Oleh karena itu daripada sulit-sulit cari pekerjaan baru,bekerja di ketinggian meski banyak resiko asal hati-hati bisa di harapkan untuk menafkahi keluarga yang jika dihitung juga lumayan hasilnya.

Dilihat dari kejauhan

” Ya penghasilannya lumayan bisa untuk membiayai keluarga dan menyekolahkan anak-anak , bahkan dua anak sayapun sudah mempunyai ketrampilan seperti saya meski menantang bahaya namun mereka tidak takut seperti ayahnya ”, ujar Djasri menutup sua.(FM)

Kamis, 13 Maret 2014

Khamid Pustakawan Yang Nunggu Pengangkatan

Khamid Pustawakan SD Kedungmutih

Demak – SD Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak saat ini mempunyai gedung perpustakaan yang cukup bagus. Selain bangunan yang megah koleksi bukunya juga beragam . Sehingga membutuhkan tenaga ahli untuk mengelolanya.

Adalah Khamid (30) pustakawan yang setiap hari menunggu dan mengelola gedung perpustakaan . Statusnya saat ini adalah tenaga honorer atau wiyata. Namun demikian dia mengaku tetap bekerja setiap hari meski honor yang diterima belum memadai.

“ Wah malu mengatakan berapa honor saya sebulan , kurang etis kelihatan nya . Ya berapapun honor dari sekolah saya terima mudah-mudahan berkah “, kata Khamid pada FORMASS, Jum’at (14/3).

Lulusan D2 Perpustakaan mengatakan dalam mengelola perpustakaan dibutuhkan keahlian dan juga kesabaran. Ribuan buku yang ada dirak selain diatur rapi menurut jenisnya juga di beri label agar tidak tertukar satu sama yang lainnya.

Selain itu juga ada buku-buku administrasi yang dipersiapkan untuk mengelola berbagai macam buku . Misalnya buku peminjam , buku induk , dan masih banyak lagi yang lainnya. Data di komputerpun ada juga untuk mempercepat pelayanan pada siswa.

“ Ya hitung-hitung mempraktekkan hasil kuliah mas , siapa tahu ada lowongan pustakawan di pendaftaran CPNS tahun depan “, harap Khamid.

Khamid mengatakan , dulunya ia berwiyata di SD Kedungmutih sebagai penjaga SD menggantikan Penjaga yang pensiuan. Namun karena ia memiliki ijasah Paket C maka ketika ada pembukaan D2 Perpustaakan UT iapun mendaftarkan dirinya.

Sambil berwiyata iapun kuliah sore hari dengan biaya honor yang didapatkan dari SD. Selain itu iapun kerja serabutan untuk tambahan biaya  kuliah. Misalnya angkut matreal , mengecat sampai dengan jadi pesuruh.Bahkan jaga malam ia lakoni demi untuk membayar kuliahnya.

Jika waktu pembayaran kuliah tiba iapun mengajukan pinjaman ke ke Koperasi yang dekat dengan SD. Dengan dijamin oleh bendahara sekolah iapun bisa dibiayai koperasi dengan cara potong honor. Begitu jalan terus hingga kuliahnya selesai.

“ Tanpa pinjam ke koperasi “ Margi Rahayu” ini mana bisa saya bayar kuliah dengan kontan. Satu-satunya biaya kuliah ya dari honor wiyata “, papar Khamid.

Kini dia bersyukur telah menyelesaikan kuliahnya di D2 perpustakaan. Sehingga kini dia tidak wiyata sebagai penjaga SD namun sebagai pustakawan yang mengelola perpustakaan. Harapan ke depan selain bisa diangkat menjadi pegawai negeri, iapun ingin melanjutkan kuliah S-1 Perpustakaan.


“ Ya doakan saja mas saya bisa jadi PNS dan lanjut kuliah hingga lulus S-1 perpustakaan “, katanya. (Muin)



Kamis, 20 Februari 2014

Masluri Guru Yang Membina Kelompok Tani “Jali Rejo”

Masluri, S Pd Guru yang juga petani

Jepara – Bagi warga desa Karangrandu kecamatan Pecangaan kabupaten Jepara Masluri (50) dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul. Meskipun profesinya sehari-hari sebagai guru di MA “Ribhul Ulum “ Kedungmutih Demak. Namun ia lebih senang  dikenal  sebagai petani karena ia juga menggarap sawah dan sehari-harinya bergaul dengan petani di desanya.

“ Alhamdulillah sampai saat ini saya masih membina para petani di desa saya yang tergabung dalam kelompok tani “ Jali Rejo “. Kalau tidak salah kelompok tani ini berdiri sudah lebih 10 tahun “, kata Masluri ,S pd pada FORMASS, Kamis (20/2).

Masluri mengatakan , Kelompok tani binaannya bisa dikatakan satu-satunya kelompok tani mandiri dan beranggotakan 35 orang. Dari kemandirian itulah saat ini kelompoknya mempunyai berbagai asset diantaranya mesin traktor, mesin blower dan juga genset.

Dari asset tersebut setiap waktu memasukkan pendapatan untuk kelompok. Hasil dari sewa peralatan tersebut selain untuk biaya perawatan juga untuk pemupukan modal simpan pinjam pra koperasi. Dulu usahanya hanya persewaan alat mesin pertanian ,namun kini telah berkembang dengan usaha simpan pinjam.

“ Asset untuk simpan pinjam yang di kelola oleh kelompok tani “ Jali Rejo “ saat ini sekitar 60 juta rupiah . Selain modal simpanan tim 11 juga hasil persewaan alsintan”, papar Masluri.

Resep keberhasilan dari kelompok tani “Jali Rejo” adalah tidak adanya campur tangan dari pemerintah desa utamanya para perangkat desa. Selain itu juga kemandiarian permodalan. Meskipun Gapoktan desa Karangrandu telah mencairkan dana PUAP namun kelompoknya sepeserpun tidak di alokasikan.

Ia merasa bersyukur , dengan modal yang ia dapatkan dari anggota usaha kelompok taninya berkembang pesat. Namun demikian dalam era kepemerintahan  kepala desa saudara Sahlan yang notabene petani tulen ia berharap pertanian desa Karangrandu lebih maju lagi.

“ Kami mengharapkan adanya kerjasama yang baik antara Kepala Desa yang baru dengan para perangkat. Kami lihat masih ada kendala dalam hal komunikasi antara Kepala desa dan perangkat “,, tukas Masluri.

Masluri berharap dengan komunikasi yang baik antara Kepala Desa dan perangkat desa Karangrandu desanya akan berkembang dan lebih maju diberbagai sector. Meskipun Kepala Desanya hebat dan pintar tanpa bantuan para perangkat sulit membawa kemajuan dan juga pemberdayaan masyarakat desa.


“ Ya efek dari Pilkades kita harapkan hilang semua . Dari semua elemen masyarakat bersatu bergerak bersama untuk kemajuan desa. Apalagi desa baru saja terkena bencana banjir “, tutup Masluri. (Muin)


Senin, 23 Desember 2013

pak Hadi Utomo Tukang Parkir Bisa Kuliahkan Anak Di Unnes


Jepara – Bagi Hadi Utomo (50) warga desa Pecangaan Kulon Kecamatan Pecangaan bekerja bukanlah untuk mencari kekayaan. Namun hanyalah untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anak. Oleh karena itu meskipun tergolong pas-pasan dari segi penghasilan namun ucap syukur setiap hari terus terucapkan.

“ Meski dipandang sebelah mata kerja sebagai tukang parkir . Namun saya tidak mempedulikan yang penting halal dan bisa membiayai anak-anak sekolah dan juga belanja di rumah “, aku Hadi Utomo pada FORMASS Senin (23/12).

Hadi utomo mengatakan kerja sebagai tukang parkir sudah dijalani lebih dari 10 tahun . Dulu sebelum markir ia bekerja sebagai karyawan pabrik Aqua di Pudak Payung Semarang. Namun setelah berumah tangga iapun beralih profesi sebagai tukang parkir.

Awal terjun sebagai tukang parkir memang ada rasa malu . Tetapi rasa malu itupun disingkirkan jauh-jauh demi menghidupi anak dan istrinya. Setelah beberapa bulan iapun telah terbiasa dan enjoy saja. Meskipun harus mengumpulkan uang recehan tetapi berkat uang recehan itu ia mampu menguliahkan anak ke Perguruan Tinggi.

“ Alhamdulillah anak sulung saya kini sudah semester 7 jurusan sejarah di UNNES Semarang. Semua biaya kuliah juga dari hasil parkir dan juga kerja istri di Catering milik tetangga “, tambah Hadi Utomo.

Bekerja sebagai tukang parkir menurut Hadi membutuhkan kesadaran tersendiri . Tidak semua orang tahu aturan parkir oleh karena itu jika ada yang tidak memberika uang parkir ia tidak memaksakan. Bagitu juga ketika ada yang memberikan uang lebih iapun memberikan uang kembali.

pak Hadi


“ Aturannya untuk parkir sepeda motor bayarnya Cuma Rp 500. Sedangkan untuk mobil Rp 1.000. Tetapi ada juga yang diberi kembalian namun diberikan kembali . Ya saya terima mungkin ini rezeki lebih saya”, kata Hadi Utomo.

Hadi Utomo mengaku kerjanya sebagai tukang parkir di depan Masjid Walisongo Pecangaan legal. Setiap bulan ia menyetor ke dinas perhubungan sebagai kewajiban mengisi kas daerah. Dari sisa setor itulah yang menjadi haknya sebagai tukang parkir. Dari selisih setor ke Dinas perhubungan itulah setiap bulannya ia bisa mencukupi kehidupan harian rumah tangganya.

“ Anak saya tiga pak laki-laki semua. Yang nomor dua dan nomor tiga kini duduk di SMA semua. Alhamdulillah anak-anak saya nurut sama orang tua . Itulah yang menjadi tabungan saya kelak. Saya tidak bisa meninggalkan harta hanya ilmu yang mudah-mudahan kelak bermanfaat “,urai Pak Hadi.


Selain pak Hadi diseputaran Pecangaan ada beberapa tukang parkir yang mempunyai daerah kerja masing-masing. Dan pak hadi Utomo adalah salah satu potret tukang parkir yang berhasil mendidik anaknya hingga ke perguruan tinggi dari hasil kerja markir. (Muin)




Minggu, 15 Desember 2013

Kisah Remaja Kreatif , Ternak Domba Membawa Berkah


Muda, cerdas, dan sukses. Kira-kira itulah yang bisa digambarkan dari sosok bernama Andi Nata.
Pria kelahiran Cirebon, 5 Januari 24 tahun silam ini telah berhasil mengembangkan usaha hingga menghasilkan omzet ratusan juta rupiah per bulan. Bisnis domba yang ia geluti bermula dari kecelakaan yang dialami sang ayah.
Siapa yang mengira lulusan Teknik Mesin Universitas Indonesia ini justru tertarik untuk mengembangkan bisnis domba. Usaha yang tentunya bertolak belakang dari ilmu yang ia dapat di kampus.
Andi mengaku, memulai usaha terpaksa karena keadaan. Diawali ketika sang bapak kecelakaan kerja dan butuh biaya operasi yang besar di masa awal kuliah. Secara terbuka dan terang-terangan anak ketiga dari enam bersaudara ini lalu menceritakan kondisi tersebut kepada teman, dosen dan orang tua murid yang kursus dengan dia. Karena faktor kepercayaan dan iba, mereka bersedia meminjamkan uang.
Untuk mengganti uang pinjaman tersebut, Andi terpaksa berjualan donat. Ia pun ngebut mengajar les privat matematika, kimia, dan fisika dari SD, SMP, maupun SMA tiap hari Senin sampai Sabtu seusai kuliah. ”Penghasilan dari jualan donat dan mengajar les privat tidak cukup, saya pun ikut berbagai lomba,” kata Andi kepada HARIAN NASIONAL beberapa waktu lalu.
Usahanya tidak sia-sia, Andi menang lomba karya tulis berhadiah Rp 8 juta dan lomba Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan berhak atas hadiah Rp 10 juta. “Sekitar delapan bulan kemudian, saya pun berhasil melunasi pinjaman saya tersebut,” ujarnya.
Setelah utang lunas, ia mulai melirik terjun ke bisnis domba. “Saya melihat domba punya potensi besar karena kebutuhan daging di Indonesia sangat besar,” ujar peraih penghargaan Wirausaha Muda Mandiri 2011 itu.
Dengan modal pinjaman Rp 8 juta, Andi memulai usaha domba di Cirebon, tempat kelahirannya. Dari modal tersebut, dia bisa membeli satu domba Garut jantan plus empat kambing betina. ”Pada prinsipnya domba Garut itu bibit unggul yang kalau dikawinkan dengan kambing atau domba betina, hasilnya akan memuaskan,” katanya.
Penjualan domba yang bernaung di bawah nama PT Farm Maju Bersama ini melonjak dengan cepat. Domba miliknya dipesan untuk acara aqiqah dan pada musim qurban omzet penjualan naik berkali lipat.
Untuk memenuhi permintaan pesanan yang semakin meningkat,  Andi lalu berinisiatif mengembangkan usaha bersama petani. ”Sekarang ini sudah sekitar 30 petani dari sekitar Jawa Tengah dan Jawa Barat yang sudah bekerja sama dengan kami, dan jumlahnya akan terus bertambah lagi,” ujarnya.
Usaha domba yang ia tekuni kini telah berkembang memiliki 15 karyawan di Depok, 5 karyawan di Cirebon, dan sekitar 10 karyawan untuk menangani kemitraan (franchise).
Tak puas berjualan domba, pria yang juga meraih penghargaan Wirausahawan Sukses dari Kementerian Koperasi dan UKM 2012 itu juga berkreativitas dengan mengolah daging domba menjadi masakan lezat semacam  sate, gulai, dan tongseng. Untuk menguji kualitas rasa, dia pun selalu mencicipi makanan yang diolah agar diterima baik di pasar.
Usahanya tidak sia-sia, karena masakan daging domba olahan Andi sukses masuk hotel bintang lima. Ia berhasil menjadikan daging domba olahannya lebih enak dari daging kambing biasa. “Hasilnya dagingnya empuk dan tidak amis, apalagi yang paling utama tidak mengandung kolestrol,” ujar Presiden Direktur CV Produktif Indonesia itu.
Kreativitas Andi lainnya adalah kandang domba yang dibuat dengan baja ringan. Dengan investasi yang lebih murah dibandingkan memakai mebel kayu, baja ringan dapat bertahan hingga 10-15 tahun. “Sekrup yang ada di baja ringan juga bisa dicopot sehingga memudahkan dilepas saat ingin pindah atau sedang terkena musibah banjir,” kata peraih penghargaan Mahasiswa Berprestasi dari Fakultas Teknik UI ini.
Kini, usaha Andi menghasilkan omzet hingga ratusan juta rupiah per bulan. Untuk membuka peluang bagi yang ingin terjun ke bisnis domba, ia juga menjalin kemitraan dengan modal Rp 100 juta dengan mendapat kandang, domba, katering, dan pemasaran. Ada pula modal Rp 50 juta yang khusus untuk katering dan pemasaran daerah Jabodetabek. Selain itu ia juga membuat resto gerobak dan restoran yang disesuaikan dengan bujet pemodal. | Fifia A. Himawan
Biodata:
Andi Nata
Tempat Tanggal Lahir: Lahir di Cirebon, 7 Januari 1989,
Pendidikan: S1 Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Jabatan:
Presiden Direktur CV Produktif Indonesia
Presiden Direktur Koperasi Masyarakat Teknik FTUI
Penghargaan:
-         Mahasiswa Berprestasi Kategori Sosial dan Kategori Entrepreneur FTUI
-         Wirausaha Muda Mandiri 2011
-         Wirausaha Sukses bidang Peternakan Domba Garut dari Kementerian Koperasi dan UKM 2012
 Sumber : Harian Nasional

Aminin Hamid Keliling Indonesia, Bawa Misi Perdamaian. Ingin Ketemu Presiden


Dalam perjalanan ke Jepara kota, tidak sengaja saya melihat seorang Bapak tua berjaket penuh instansi lambang dengan sepeda onthelnya yang dipasangi bendera merah putih bertiang yang pada saat itu beliau sedang singgah dirumah warga tepat didepan SPBU Ngabul, Jepara. 

Saya coba menghampiri, berkenalan lalu berbincang-bincang untuk mencari tahu tentang beliau dan menjawab penasaran sejak pertama melihat.

Beliau adalah Aminin Hamid, berasal dari Dusun Seuleumak Baru Leubuk Pempeng, Kecamatan Perlak, Kabupaten Raja Timur, Aceh.

Memiliki tekad dan niat mulia keliling indonesia dari Sabang sampai Merauke dengan membawa misi perdamaian ke seluruh daerah yang ada di Indonesia. Mengawali perjalanan sejak 20 Juli 2010 dari aceh dan sudah mengelilingi beberapa Provinsi dan kota di Indonesia, Bapak Aminin tiba di Jepara pada tanggal 7 desember 2013 turut menghadiri acara Java Scooter Rendezvous VIII yang diadakan pada tanggal 7-8 desember 2013 lalu, di Pantai Bandengan Jepara.

Bapak berusia setengah abad ini mengucapkan banyak terima kasih untuk seluruh panitia Java Scooter Rendezvous yang sudah memperlakukannya dengan baik dan senang hati.
Bapak Aminin akan melanjutkan perjalanan hingga ke Indonesia bagian timur. Meski tidak tahu kapan waktu pasti menuntaskan perjalanan dengan sepeda onthelnya, ia yakin sanggup mewujudkan impiannya keliling indonesia membawa misi perdamaian.

Diakhir perbincangan kami, beliau menyampaikan jika sudah tuntas perjalanan misi ini, ingin bertemu dengan Presiden atau Wakil Presiden.

Saya turut bangga dan mendukung niat mulia beliau. Semoga bapak Aminin Hamid sehat selalu, diberi kelancaran dan terwujudkan Misi Perdamaian yang dibawa olehnya. Dan harapan saya bagi masyarakat yang melihat atau bertemu beliau, mari beri simpati kepadanya. Salam

- Marken Nainggolan

Sumber : Kompasiana .com