Jumat, 04 Oktober 2013

Air Bersih Bantuan Di Serbu Warga Desa Kedungmutih

Warga serbu air bantuan Pemda Demak 

Demak - Air bersih saat ini menjadi barang berharga bagi warga pesisir Wedung. Oleh karena itu ketika datang bantuan air bersih dari Pemda Demak lewat Kantor  BPDB di serbu warga. Pemandangan itu terekam di desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak .

“ Sudah hampir 2 bulan ini warga  membeli air bersih dari Jepara. Tandon air warga ketika musim penghujan sudah habis. Jadi ya kayak gini kalau ada bantuan datang “, tutur Suyadi (45) perangkat desa Kedungmutih.

Suyadi menuturkan , selama musim kemarau ini desa baru mendapatkan bantuan air bersih 2 kali. Satu kali kiriman sebanyak 5 tangki dengan kapasitas 5000 liter. Ke 5 tangki tersebut selanjutnya di sebar ke 5 tempat. Dengan menggunakan berbagai wadah air  merekapun antri mengisi air dari tangki.

“ Ya jika musim kemarau tiba warga di sini pasti kekurangan air. Bagi yang punya uang biasanya mereka beli pada penjaja air. Yang tidak punya uang biasanya nunggu bantuan “, kata Suyadi.

Suyadi menambahkan , kebutuhan air bersih terasa ketika stok air di Jepara menipis. Warga kesulitan untuk mendapatkan air bersih sehingga harganya bisa melambung tinggi. Oleh karena itu dia mengharapkan adanya sambungan air PDAM Demak.

“ Harapan kami pipa yang sudah ada bisa segera di aliri air , sehingga warga tidak lagi kesulitan air bersih jika musim kemarau tiba”, tambah Suyadi.

Menurutnya satu KK harus mengeluarkan biaya air Rp 7 – 10 ribu dalam sehari. Air itu di beli dari penjaja air dari daerah Jepara. 4 Jrigen 30 liter yang diangkut dengan sepeda motor berharga Rp 7 ribu rupiah. Jika satu keluarga anggotanya banyak sehari bisa butuh air hingga 2 rit.

Sutikan (40) warga desa Kedungmutih menyambut gembira adanya bantuan air bersih dari pemerintah daerah Demak. Namun dia mengharapkan bantuan itu bisa datang seminggu sekali . Harapannya dengan adanya bantuan air itu dia bisa mengirit pengeluaran harian.

“ Ya kita terima kasih sekali adanya bantuan air ini . Tetapi kalau bisa bantuan ini seminggu sekali datangnya sehingga warga bisa tertolong di saat kekeringan “, kata Sutikan yang sehari-harinya jualan sosis.

Selain untuk desa Kedungmutih bantuan air bersih lewat kantor BPBD Demak ini juga di suplai ke desa pesisir lain. Misalnya desa Kedungkarang, Tedunan, Kendalasem dan Babalan. (Muin)











BANSER GERUDUG RUMAH PENGURUS MTA


BANSER GERUDUG RUMAH PENGURUS MTA

Demak-Ratusan personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Demak, menggerudug rumah pengurus jamaah Majjelis Tafsir Alqur’an (MTA) di wilayah Desa Kedondong Kecamatan Demak.

Sedikitnya 200 personel Banser, menggerudug rumah Ketua II pengurus MTA Demak Supardi dan bendahara MTA Supriyanto. Aksi pengerahan pasukan ini diakibatkan jamaah MTA di Desa Kedondong akan menyelenggarakan kegiatan.

Menurut Ketua PC Ansor Demak, H Abdurrahman Kasdi secara tegas Ansor menolak masuknya faham dan ajaran dari jamaah MTA yang menyesatkan kaum Aswaja (ahlul sunnah wal Jamaah). 

Sejak dilayangkan surat penolakan adanya kegiatan pengajian dari jamaah MTA  yang disampaikan kepada Kapolres Demak, ada tiga hal yang tidak boleh dilakukan oleh jamaah MTA, yakni dilarang memasang atribut MTA, tidak boleh melakukan kegiatan apapun yang mengajarkan faham MTA, dan MTA tidak boleh melakukan kegiatan jamaah yang menghadirkan massa dari Demak atau dari luar kota Demak. 
Selama ini ajaran MTA dipandang sangat meresahkan warga yang menganut ajaran Aswaja, MTA justru ingin membangun jamaah kelompok Islam garis keras yang bermarkas di Desa Kedondong. 

“Kabar yang kami terima jamaah MTA  akan menggelar kegiatan di Desa Kedondong, padahal sudah diminta tidak boleh menggelar kegiatan apapun,” ucap Kasdi didampingi Komandan Satkorcab Banser Kabupaten Demak Mustain, Rabu (2/10). Dia segera mengerahkan pasukan Banser untuk mendatangi rumah pengurus MTA.
Banser akan membawa kedua pengurus tersebut untuk berdialog di Mapolres. Pihaknya sendiri sudah meminta izin pihak kepolisian untuk menjadi mediasi persoalan ini.    

Mulai pukul 15.30 Banser sudah mendatangi rumah dua pengurus MTA, Supardi dan Supriyanto, tapi yang bersangkutan tidak berada di rumah. Hingga pukul 17.30, Banser menunggu di serambi Masjid At Taqwa Desa Kedondong, namun yang bersangkutan tak kunjung pulang ke rumahnya.  

Kedatangan Banser mendapat pengawalan dari TNI-Polri, hadir juga Waka Polres Demak Kompol Teddy Rayendra, Camat Demak Fathkurrohman, Danramil Kota Kapt Inf Bambang Susilo, Kapolsek Kota Iptu Ujang, dan Kades Kedondong H Suharno.	
	
Waka Polres meminta Banser untuk bersabar, kendati beda ideologi diminta tetap berkepala dingin. “Rencananya muspida akan membahas persoalan ini, kami minta teman-tamen Banser bisa bersabar,” kata Kompol Teddy. (harsem/swi/hst)

_____
Informasi lebih lengkap seputar Demak Kota Wali, silahkan kunjungi Blog WARGA DEMAK: http://wargademak.blogspot.com/  
_____
Waka Polres Demak Kompol Teddy Rayendra (kiri) memberi masukan agar Banser tetap tenang dan berkepala dingin.(harsem/sukmawijaya)


Demak-Ratusan personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Demak, menggerudug rumah pengurus jamaah Majjelis Tafsir Alqur’an (MTA) di wilayah Desa Kedondong Kecamatan Demak.

Sedikitnya 200 personel Banser, menggerudug rumah Ketua II pengurus MTA Demak Supardi dan bendahara MTA Supriyanto. Aksi pengerahan pasukan ini diakibatkan jamaah MTA di Desa Kedondong akan menyelenggarakan kegiatan.

Menurut Ketua PC Ansor Demak, H Abdurrahman Kasdi secara tegas Ansor menolak masuknya faham dan ajaran dari jamaah MTA yang menyesatkan kaum Aswaja (ahlul sunnah wal Jamaah).

Sejak dilayangkan surat penolakan adanya kegiatan pengajian dari jamaah MTA yang disampaikan kepada Kapolres Demak, ada tiga hal yang tidak boleh dilakukan oleh jamaah MTA, yakni dilarang memasang atribut MTA, tidak boleh melakukan kegiatan apapun yang mengajarkan faham MTA, dan MTA tidak boleh melakukan kegiatan jamaah yang menghadirkan massa dari Demak atau dari luar kota Demak. 

Selama ini ajaran MTA dipandang sangat meresahkan warga yang menganut ajaran Aswaja, MTA justru ingin membangun jamaah kelompok Islam garis keras yang bermarkas di Desa Kedondong.

“Kabar yang kami terima jamaah MTA akan menggelar kegiatan di Desa Kedondong, padahal sudah diminta tidak boleh menggelar kegiatan apapun,” ucap Kasdi didampingi Komandan Satkorcab Banser Kabupaten Demak 

Mustain, Rabu (2/10). Dia segera mengerahkan pasukan Banser untuk mendatangi rumah pengurus MTA.
Banser akan membawa kedua pengurus tersebut untuk berdialog di Mapolres. Pihaknya sendiri sudah meminta izin pihak kepolisian untuk menjadi mediasi persoalan ini.

Mulai pukul 15.30 Banser sudah mendatangi rumah dua pengurus MTA, Supardi dan Supriyanto, tapi yang bersangkutan tidak berada di rumah. Hingga pukul 17.30, Banser menunggu di serambi Masjid At Taqwa Desa Kedondong, namun yang bersangkutan tak kunjung pulang ke rumahnya.

Kedatangan Banser mendapat pengawalan dari TNI-Polri, hadir juga Waka Polres Demak Kompol Teddy Rayendra, Camat Demak Fathkurrohman, Danramil Kota Kapt Inf Bambang Susilo, Kapolsek Kota Iptu Ujang, dan Kades Kedondong H Suharno.

Waka Polres meminta Banser untuk bersabar, kendati beda ideologi diminta tetap berkepala dingin. “Rencananya muspida akan membahas persoalan ini, kami minta teman-tamen Banser bisa bersabar,” kata Kompol Teddy.
(harsem/swi/hst)

_____
Informasi lebih lengkap seputar Demak Kota Wali, silahkan kunjungi Blog WARGA DEMAK: http://wargademak.blogspot.com/ 
_____
Waka Polres Demak Kompol Teddy Rayendra (kiri) memberi masukan agar Banser tetap tenang dan berkepala dingin.(harsem/sukmawijaya)
Sumber : HARIAN SEMARANG

Pak Sunaryo Sediakan Hewan Ternak Untuk Kurban dan Hajatan

Pak Sunaryo tunjukkan Kerbau untuk kurban


Jepara - Jelang hari raya Iedul Adha permintaan Ternak ( Kerbau, Sapi , Kambing) naik drastic. Jika dihitung dengan hari biasa kenaikan bisa dua kali atai tiga kali lipat . Oleh karena itu satu bulan sebelum hari raya stok harus ditambah agar pelanggan tetap  bisa mendapatkan hewan kurban.

“ Kalau hari biasa kita menyediakan kerbau, sapi atau kambing untuk keperluan hajatan. Namun khusus untuk bulan ini kami juga menyediakan hewan untuk korban jadi stok kami tambah dua atau tiga kali lipat “, ujar Sunaryo pengusaha jual beli hewan ternak di desa Sowan Kidul Jepara.

Sunaryo yang membuka usaha sejak tahun 1997 mengatakan, hewan ternak yang dijual itu didatangkan dari berbagai daerah seputaran Jepara. Ada yang di datangkan dari Kudus, Purwodadi dan juga Demak. Selain kerbau dan sapi juga ada kambing berbagai ukuran.

“ Kalau   Kerbau dan Sapi untuk keperluan korban kami bisa menjualnya dari  harga Rp 12 juta – 20 juta . Jika kambing yang bagus harga diatas Rp 2 juta dibawahnya juga ada tergantung barangnya “, papar Sunaryo.

Selama hampir dua puluh tahun menekuni usaha jual beli ternak . Sunaryo mengaku cukup bagus dan prospektif untuk dikembangkan bagi yang berminat. Agar menguntungkan harus dibekali teknik pemilihan hewan , selain itu juga teknik pemeliharaan di kandang.

Puluhan sapi dan kerbai di kandang

“ Untuk melayani hewan korban saja pasokan saya bisa mencapai 40 – 50 ekor kadang lebih. Selain pribadi yang datang ke sini instansi pemerintah dan   swasta juga  membeli hewan korban dari sini “, tambah Sunaryo.

Untuk instansi pemerintah biasanya sekolah dan kantor dinas. Sedangkan instansi swasta misalnya pabrik dan juga perusahaan . Sedangkan pribadi-pribadi biasanya mereka gabungan , entah jamaah musholla , jamaah masjid maupun kewrukunan RT.

“ Nah itu yang datang pengurus Masjid mereka korban berombongan kemudian setelah terkumpul uangnya datang ke sini mencari hewan korban , Akhirnya mereka beli Kerbau dengan harga Rp 16,5 juta “, kata Sunaryo sambil menunjukkan satu kerbau yang telah di pesan oleh pengurusw Masjid di Demak.

Pembeli sedang melihat-lihat Kerbau


Bagi yang ingin membuka usaha seperti dirinya Sunaryo mengatakan, selain modal yang besar juga ketekunan dalam merawat hewan. Modal digunakan untuk kulakan hewan dan juga membuat kandang yang layak.

Kandang miliknya dibuat cukup luas sehingga hewan bisa bergerak dengan leluasa. Selain itu pakan juga harus tersedia setiap waktu . Yang tak kalah pentingnya adalah perawatan harian oleh orang yang ahli.

“ Dengan pengelolaan yang baik saya yakin usaha jual beli hewan ternak ini akan menguntungkan . Saya alami sendiri meski pernah mengalami jatuh bangun namun itu tidak jadi halangan bagi saya “, imbuh Sunaryo yang juga Carik desa Sowan Kidul kecamatan Kedung kabupaten Jepara. (Muin).

Profil Usaha
Nama     : Sunaryo
Alamat   : Desa Sowan Kidul Kec. Kedung Kab. Jepara

No HP    :  081 229 473 972




Kamis, 03 Oktober 2013

Di Jepara Ada Taksi Lho , Bisa Melayani Kemana anda Suka

DNA Taksi di Terminal Jepara
Jepara - Dulu mobil Taxi hanya di operasikan di kota besar saja. Namun seiring dengan perkembangan jaman Taxi kini sudah ada di kota-kota kecil.  Di Jepara misalnya kini sudah ada Taxi yang bisa membawa kemanapun anda suka. Meski mobilnya tidak berjenis sedan , namun fungsi sama dengan taksi semisal di Semarang atau Jakarta.

“ Untuk routenya ya kemana saja tergantung permintaan , bisa jarak dekat bisa jarak jauh ongkosnya juga menyesuaikan “, kata Mursito Driver DNA Taksi di Terminal Jepara.

Mursito mengatakan armada DNA Taksi masuk ke Jepara sekitar 3 bulan yang lalu. Dengan armada awal 5 mobil Avanza ini diharapkan bisa meningkatkan pelayanan dibidang transportasi. Terutama kelas menengah ke atas yang ingin kenyamanan dan kecepatan menjadi bidikan utama pasar. Namun masyarakat kelas bawahpun bisa memanfaatkan DNA taksi ini untuk kenyamanan perjalanan.

“ Memang untuk bidikan awal kelas menengah ke atas. Namun pengguna taksi ini setelah kita luncurkan siapapun menggunakannya. Semisal menjemput saudara di Bandara  Semarang, mengantar orang ke rumah sakit , sampai penjemupatan anak sekolah kami siap antar jemput “, tutur Mursito.

Menurut Mursito tarip atau ongkos DNA Taksi Jepara ini bisa Argo bisa borongan . Tergantung dari keinginan konsumen yang menggunakan . Semisal untuk penjemputan ke bandara Semarang atau ke luar kota lainnya biasanya menggunakan sistem borongan. Namun untuk perjalanan dalam kota biasanya dengan sistem Argo.

“ Namun untuk sistem argo ini ada nilai minimum paling dekat Rp 15.000. Sehingga perjalanan dalam kota paling dekat harus membayar 15.000. Untuk selanjutnya tergantung jarak tempuh yang dipergunakan “, tambahnya.

Mursito salah satu Driver DNA Taksi Jepara

Dalam waktu kurang lebih 3 bulan beroperasi kelihatannya permintaan akan jasa taksi ini cukup bagus. Selain warga Jepara sendiri DNA Taksi ini juga sering membawa turis dari manca negara berkeliling kota dan juga mengunjungi obyek wisata. Para turis bisa mengunjungi berbagai obyek wisata dengan aman dan nyaman.

“ Saya sering mengantar para turis kemanapun mereka inginkan. Dengan taksi ini biaya lebih murah apalagi jika mereka berombongan perjalanan mereka tambah mengasyikkan “, lanjut Mursito.

Mursito mengemukakan siapapun bisa menggunakan jasa DNA taksi ini . Selain mangkal di tempat strategis seperti Terminal , Pasar dan juga tempat lainnya. Pengguna yang menginginkan taksi ini bisa langsung calling  dia dengan nomor HP081 227 447 221. Dengan cepat dia ataupun temannya akan bergerak menjemput penumpang.

“ Kemanapun akan saya antar dengan aman dan nyaman . Tidak usah ragu jika  butuh kami tinggal calling saja . Armada kami akan siap meluncur ke rumah anda “, tutup Mursito berpromosi. (Muin)


Inilah Mengapa Lurah Susan Kena Demo , Gara- gara Terlalu Cantik ?


Jakarta - Susan Jasmine Zulkifli, 43 tahun, dilantik menjadi Lurah Lenteng Agung, Jakarta Selatan oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) pada 27 Juni lalu. Sejak menjabat, lurah berparas ayu itu rajin 'blusukan', ke kampung-kampung mengikuti gaya sang atasan, Jokowi.

Setiap Sabtu dan Minggu, Lurah Susan mengadakan kerja bakti di wilayah Lenteng Agung. Tak hanya menginstruksikan, dia juga terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Dia rajin berbaur dan berdialog langsung dengan warga. Kehadiran lurah cantik Susan tersebut memantik semangat warga untuk ikut gotong royong. 

Bahkan para pengurus rukun tetangga dan rukun warga, yang umumnya laki-laki makin giat menggelar kerja bakti. Rupanya semangat para kaum bapak itu menimbulkan rasa cemburu di kalangan ibu-ibu warga Lenteng Agung. 

Siti Maimunah (44 tahun), warga RT 14 RW 03, Lenteng Agung mengaku sejak Susan menjabat lurah banyak pengurus RT yang kegenitan. Misalnya, pengurus RT bela-belain ikut kerja bakti pada hari Minggu untuk membersihkan selokan. Padahal, pada saat bersamaan ada acara hajatan pernikahan di rumah tetangganya. 

“Bapak-bapak ada yang malah ganjen sekarang. Mereka pakai minyak wangi lah kalau kerja bakti. Sokkerajinan gitu deh,” kata Maimunah yang sudah menetap di Lenteng Agung sejak 1980 tersebut kepada detikcom, Selasa (1/10). 

Hal yang sama dikatakan warga RT 08 RW 04, Khadijah (39 tahun). Dia bersama Maimunah mengaku diajak ikut demo menolak Lentang Agung dipimpin oleh lurah Susan. Namun penolakan itu bukan karena adanya perbedaan agama. 

Tapi, persoalan perempuan cantik menjadi lurah yang dikhawatirkan akan salah kaprah. “Ya bingung aja cakep-cakep ngapain jadi lurah. Mending pria saja yang lurah,” kata Khadijah. Unjukrasa penolakan terhadap Lurah Susan pun kebanyakan diikuti oleh kaum perempuan.
Sejumlah warga Lenteng Agung lainnya juga tidak mempersoalkan keyakinan agama yang dianut Lurah Susan Jasmine Zulkifli. Yang terpenting bagi mereka seorang lurah bisa membawa perubahan, khususnya bagi pelayanan terhadap warga.

Mantan Ketua RT 04/RW 05 Kelurahan Lenteng Agung yang juga sesepuh warga H. Abdul Rahman, 64 tahun, mengatakan persoalan agama itu masing-masing urusan pribadi. 

Secara pribadi dia melihat sosok Susan adalah pamong yang bisa membaur dengan warganya. Tidak ada sikap kaku. Meski kadang sejumlah warga antipati terhadap kegiatan kerja bakti yang dilakukan Susan untuk persiapan Piala Adipura. 

Bahkan secara gamblang, ia membandingkan dengan lurah Lenteng Agung sebelumnya yang kaku dan tidaklow profile. “Kalau lurah yang lama boro-boro datang lihat langsung warga. Saya saja kalau ke kantor kelurahan jarang lihat dia,” kata Abdul kepada detikcom. 

Sementara menurut Koordinator Forum Warga Lenteng Agung Nasri Nasrullah, penolakan terhadap Lurah Susan sudah terjadi sejak awal pelantikan oleh Jokowi. Dia menyesalkan sistem lelang jabatan yang tidak memperhatikan aspirasi warga Lenteng Agung. 

Menurut Nasri, persoalan ini penting karena mayoritas warga Lenteng Agung muslim. Apalagi dalam sejarah Lenteng Agung selalu dipimpin oleh seorang lurah yang beragama Islam. 

“Harusnya kami di dengar dulu ingin itu ingin apa. Banyak warga yang tanya-tanya sejak lama sebelum proses lelang itu. Kalau seperti ini kan bentuk kekecewaan kami. Kalau memang ingin benerin, Jokowiblusukan dong ke sini,” kata Nasri kepada detikcom, Rabu (2/10) kemarin.

 Sumber : Detikdotcom








Selasa, 01 Oktober 2013

Azizin Datangkan Burung Kicau Mania Dari Kalimantan

Azizin dan burung dagangannya


Demak - Saat ini bisnis burung berkicau lagi booming. Hal ini bisa dilihat dari ramainya pasar burung di berbagai tempat . Jika hari Minggu atau libur penggemar burung tumplek blek di pasar burung. Peluang inilah yang dibidik oleh Azizin (30) warga desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak . Enam bulan ini ia membuka usaha jual beli burung berkicau di rumahnya. Ia mendatangkan berbagai jenis burung berkicau dari Kalimantan.

“ Dulu sebelum terjun bisnis burung ini saya kerja pabrik  di Pontianak Kalimantan. Ketika ada peluang bisa membawa burung dari Kalimantan sayapun akhirnya membuka bisnis jual burung ini “, Kata Azizin yang ditemui di rumahnya.

Azizin mengatakan tahun 2002 ia sudah merantau ke Kalimantan sebagai pekerja proyek , petugas kebersihan dan berbagai kerja serabutan lain. Sampailah ia terdampar di kantor Karantina Hewan sebagai tenaga honorer. 

Di situlah ia tahun bagaimana cara memasukkan hewan ke luar pulau . Selain burung ada berbagai macam jenis hewan dan ikan bisa di bawa keluar pulau secara legal.

Melihat kesempatan itu ketika pulang ke Jawa ia membawa beberapa burung berkicau yang terkenal di Pulau Kalimantan. Selain Murai batu , Cucak Hijau, Kacer Poci dan banyak lagi yang lainnya. Sampai di rumahnya burung itu kemudian menjadi dagangan yang cukup laris. Satu ekor burung ia bisa meraup untung Rp 50 ribu – 100 ribu.

Melihat peluang yang bagus itu iapun menghubungi rekannya yang kerja di kantor Karantina hewan. Dari temannya di Kalimantan itulah ia mendapatkan kiriman burung yang dikirim lewat paket. Satu kali kirim ada 20 – 30 ekor burung berbagai jenis . Burung-burung itu dikirim via kapal laut sehingga iapun mengambil burung itu di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

“ Sebulan biasanya 3 – 4 kali kirim , satu kali kirim minimal 20 ekor burung. Ketika awal buka usaha saya memang bawa burung ke pasar-pasar burung sekitar Jepara. Namun sekarang para bakul sudah langsung datang ke rumah saya jika burung dari Kalimantan datang “, kata Azizin.

Dulu awal pertama kali ia membawa burung ke pasar , namun hal itu justru membuat para bakul terganggu. Oleh karena itu sekarang ia hanya duduk manis di rumah menunggui dagangannya . Para bakul sudah datang sendiri ke rumahnya. Selain datang dari Pecangaan, Purwogondo, Mayong dan Jepara . Beberapa pedagang burung ada yang dari Kudus atau Demak.

kurungan burung bertengger di rumahnya


“ Bisnis burung berkicau ini sangat lumayan untungnya. Jika sesama bakul kita mengambil untung paling tinggi Rp 50 ribu. Namun jika dijual ke konsumen keuntungannya bisa Rp 100 ribu lebih. Apalagi jika burungnya bagus keuntungan lebih besar lagi “ , papar Azizin.

Selama menekuni bisnis burung selama 6 bulan ini Azizin mengaku tidak pernah merugi. Modalnyapun relative kecil karena pembayaran burung dengan sistem laku bayar. Artinya setelah burung laku baru ia membayar burung kepada pemasok dengan sistem transfer via bank. Satu kali kiriman biasanya ia mentranfer uang berkisar Rp 4 – 5 juta rupiah.

Menurut Azizin bisnis burung berkicau jika ditekuni hasilnya cukup lumayan.  Satu kali kiriman dengan jumlah burung minimal 20 ekor  untungnya bisa mencapai 1 juta rupiah. Kalau dijual ke konsumen untungnya bisa lebih besar lagi. Oleh karena itu setelah berbisnis burung ini ia tidak lagi kerja ke Kalimantan.

“ Ya setelah ini ya saya di rumah menunggu dagangan burung ini . Kalau barang habis ya kerja ke tambak membuat garam . Kalau kondisi laut tidak ombak sebulan bisa 3 – 4 kali kiriman . Namun kalau cuaca kurang bagus sebulan paling 1 – 2 kali kiriman “, kata Azizin sambil memberikan nomor HP nya 085 865 998 734. (Muin)






Sunarlan Jahit Sepatu dan Reparasi Payung Sejak Dulu

Pak Sunarlan
Jepara - Bagi Sunarlan warga desa Pelang kecamatan Mayong kabupaten Jepara kerja adalah suatu kewajiban. Oleh karena itu setiap hari jika badan sehat dengan sepeda bututnya ia keluar rumah berkeliling menawarkan jasa. Dengan jarak tempuh lebih 10 km bahkan lebih tidak dirasakan suatu yang memberatkan.

“ Kalau di hitung saya kerja keliling jahit sepatu , sandal dan juga reparasi payung sudah lebih dua puluh tahun. Dari rumah ya naik sepeda onthel sejak dulu hingga sekarang “, aku Sunarlan.

Sunarlan mengatakan menjual jasa jahit dan sepatu dilakoni dengan senang hati . Selain tidak ada modal untuk kerja lainnya juga hasilnya sudah cukup untuk menghidupi keluarganya.Oleh karena itu iapun tidak melirik pekerjaan lainnya.

“ Penginnya sih kerja yang lebih ringan dengan hasil yang banyak . Tetapi gimana lagi bisanya njahit sepatu dan reparasi payung ya saya jalani . Soal hasilnya relative bagi saya ya cukuplah untuk belanja sehari-hari “, kata Sunarlan.

Menurut Sunarlan usaha jahit sepatu dan reparasi membutuhkan ketekunan tersendiri . Oleh karena itu setiap hari ia menyambangi desa-desa yang jadi pelanggannya. Sejak dulu hingga sekarang ia keliling di desa pesisir Demak dan Jepara.

Desa yang ia sambangi di pesisir Demak diantaranya desa Tedunan , Kendalasem, Kedungkarang, Kedungmutih , Babalan dan Menco. Sedangkan desa pesisir di Jepara misalnya desa Karangaji, Kedungmalang, Panggung, Surodadi sampai dengan Bulak Baru. Dengan sepeda tuanya itu ia menyusuri gang-gang sempit untuk menjemput order.

“ Kerja seperti saya ini yang penting keluar rumah pasti dapat uang . Soal banyak sedikit itu tergantung yang diatas . Oleh karena itu jika badan saya sehat saya pasti keluar rumah untuk cari upo “, kata pak Sunarlan.

Upah menjahit Sepatu , sandal atau mereparasi payung taripnya ditentukan dari pekerjaan. Semakin lama  dan semakin sulit pengerjaannya maka upahnya juga banyak. Namun untuk sekali jahit atau reparasi paling sedikit dia mengantongi Rp 5.000,-. Jika yang dijahit banyak maka upahnya bisa sampai Rp 10 – 15 ribu.

Begitu juga ketika dia mereparasi payung , upah yang ia terima berkisar Rp Rp 10 – 20 ribu . Untuk payung biasanya ongkosnya lebih banyak karena selain mereparasi juga dia mengganti spare part yang rusak. Sprare part itu biasanya dari payung-payung bekas yang kadang ia tidak beli.


“ Ya kalau ramai sehari bisa bawa pulang uang Rp 75 ribu , tetapi jika sepi ya Rp 25 ribu dapat. Berapapun  kami terima semua itu rejeki dari Allah SWT. Yang penting badan sehat Mas sudah syukur “, kata pak Narlan . (Muin).