Tampilkan postingan dengan label air bersih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label air bersih. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Oktober 2014

Air Bersih Bantuan Bakorwil I Pati Di Serbu Warga




Demak – 14 tangki air bersih bantuan dari Bakorwil I Pati ,BPBD Demak  dan PMI  untuk desa Kedungmutih kecamatan Wedung di serbu warga. Bantuan air bersih bersamaan dengan kunjungan gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo Kamis ( 2/1) itu menjadi angin segar warga pesisir ini. Hampir setengah bulan ini warga kesulitan air bersih.

Kedatangan tangki air itu disambut antusias oleh warga desa Kedungmutih. Mereka  mengeluarkan berbagai macam tempat air untuk menampung air bantuan secara gratis. 14 mobil tangki itu disebar dibeberapa titik berkumpulnya warga. Mereka dengan sabar menanti petugas yang membagikan air. Di beberapa titik ada keributan kecil dalam pembagian air.

“ Air bantuan ini sudah lama di tunggu warga karena dari kabupaten paling banter sebulan dua kali. Saat ini air bersih sulit dicari harganya juga mahal bagi yangb kurang mampu hal ini cukup memberatkan”, tutur Adib perangkat desa Kedungmutih pada kabarseputar muria.




Menurut Adib karena terbatasnya jumlah air bantuan maka , belum semua warga menerima bantuan air bersih ini. Untuk memudahkan penyaluran air hari itu mobil tangki di tempatkan di jalan besar desa. Sehingga warga yang merasakan air bersih hanya sebagian atau yang rumahnya dekat jalan besar.

“ Hari ini mobil kita tempatkan di titik-titik jalan besar. Sedangkan warga yang rumahnya didalam belum menikmati air bantuan ini. Mudah-mudahan nanti ada lagi sehingga semua kebagian” , papar Adib.

Warga menyerbu air bersih dari tangki 




Mainah warga RT 01 RW 02 desa Kedungmutih mengucapkan terima kasih atas bantuan air bersih dari Bakorwil I pati. Dengan adanya air bantuan itu beberapa hari ke depan ia tidak membeli air bersih. Satu tong plastic besar ini paling tidak ia harus mengeluarkan uang Rp 20 ribu rupiah . Namun hari itu ia tidak membeli karena mendapatkan secara gratis.

“ Kami warga di sini berharap sering-seringlah ada bantuan air bersih seperti ini. Kami sangat terbantu karena tidak harus beli. Kebutuhan air bersih seharinya paling sedikit Rp 5 ribu – 10 ribu “, kata Mainah.(Muin)

Haji Aman dan Lancar bersama KBIH " Al-Firdaus" Jepara hubungi di  085 290 375 959



Kamis, 18 September 2014

Cerita Ruslan : Malam Hari Air Masih Mengalir, Kasihan Warga Demak


 

Ruslan menunjukkan bak air di rumahnya

Jepara – Ruslan (46) warga desa Kedungmalang kecamatan Kedung sebulan ini tidak lagi bisa lagi melayani pelaggannya yang membeli air dari bak penampungannya. Sejak seretnya air di pipa warga desa Kedungmalang kampung kongsi ijinnya sebagai mpenjual air dicabut sementara oleh PDAM Jepara. Meski saat ini bak penampungan air di rumahnya penuh air dia tidak berani menjual lagi ke pelanggannya warga Demak.

“ Habis bagaimana mas saya sudah terlanjur untuk menanda tangani pernyataan untuk tidak menjual air. Jika saya melanggar aturan itu bisa-bisa saya kena sangsi blokir jaringan yang dendanya cukup besar “, aku Ruslan padaFORMASS, (17/9).

Ruslan mengatakan pemberlakuan keputusan itu baru pertama kali tahun 2014. Sebelum itu tidak ada pencabutan ijin penjualan air bersih kepada warga lain desa. Yang sudah-sudah jika musim kemarau tiba dia bisa menjual bebas air bersih tanpa ada larangan . Jika pasokan habis ya berhenti dengan sendirinya.

“ Namun tahun ini saya heran dengan petinggi kenapa , karena laporan segelintir orang , menyebabkan orang banyak terkena imbasnya. Jika karena alasan suplai air habis jelas tak terbukti. Jika malam tiba aliran air cukup deras . Buktinya ini air dalam bak ini saya isi tadi malam”, kata Ruslan.

Memang pada pagi, siang atau sore hari aliran tidak begitu besar, namun ketika malam hari tiba aliran kembali normal. Oleh karena itu kebijakan mencabut sementara ijin penjualan air termasuk merugikan dirinya. Selain dirinya masih ada beberapa orang yang bernasib seperti dirinya. Padahal ijin pemakaian airnya termasuk niaga yang harganya lebih mahal dibandingkan pemakaian biasa.

“ Ya kami sih ingin agar blokir itu dibuka kembali sehingga kami bisa melayani warga Demak yang butuh air bersih untuk minum dan memasak . Ya kami akan menjual seadanya ketika air habis ya selesai malam diisi lagi “, papar Ruslan yang punya usaha londry pakaian di rumahnya.

Ruslan mengaku sedih kasihan terhadap warga Demak yang ke sana sini cari air bersih. Padahal bak di rumahnya penuh dengan air bersih. Jika air ini diberikan kepada warga Demak ia takut ada mata-mata yang kemudian melaporkan ke fihak desa atau PDAM . Bisa-bisa ia terkena sangsi pemblokiran yang berujung pada pembayaran denda yang besar.

“ Habis gimana lagi kita mentaati aturan Petinggi meski dirasa kurang berperikemanusiaan namun harus kita laksanakan. Mudah-mudahan mereka bisa antri air dari desa Panggung atau Surodadi “, kata Ruslan . (Muin)




Haji Aman dan Lancar bersama KBIH " Al-Firdaus" Jepara hubungi di  085 290 375 959


Ratusan Penjaja Air Demo , Tak Bisa Beli Dari Jepara



Hamdan Terima pengaduan warga


Demak – Puluhan  penjaja air dari desa Babalan, Kedungmutih dan Kedungkarang kecamatan Wedung pagi tadi Selasa (16/9) bergerombol di depan Balai Desa Kedungmutih. Tujuannya menyampaikan aspirasi agar mereka bisa lagi membeli air dari Warung air di desa Kedungmalang dan juga dari desa terdekat seperti Panggung dan Surodadi. Harapan mereka agar bisa kembali lagi membeli air dan dijajakan kepada warga yang membutuhkan di desa pesisir Wedung.

“ Kami datang ke sini mohon agar pak Lurah Hamdan bisa mengusahakan air bersih dari Kedungmalang, Panggung dan Surodadi bisa kami beli. Satu minggu belakangan ini saya harus kucing-kucingan dan puncaknya hari ini yang menjual air di segel , katanya atas perintah Petinggi Kedungmalang “, kata Sutarno penjaja air dari desa Kedungmutih padaFORMASS.

Pluhan Sepeda Motor Penjaja air


Sutarno mengatakan penyegelan atau pelarangan penjualan air baru kali ini terjadi setelah tahun 2002 yang lalu. Pada tahun yang lalu tidak ada pelarangan dan suplai air ke desa Pesisir Wedung yang kekurangan air seperti Babalan, Kedungmutih, dan Kedungkarang. Namun entah karena apa dua hari belakangan ini ada pelarangan . Akibatnya puluhan pelanggan air yang setiap hari membutuhkan air kekurangan air bersih.

“ Padahal air bersih itu sangat dibutuhkan untuk memasak dan minum . Jika hal ini tidak teratasi maka desa pesisir ini bisa krisis air yang parah. Saya harus memembeli air dari tempat yang jauh selain waktu yang lama juga harganya semakin mahal “, tambah Sutarno.

Hamdan Kepala Desa Kedungmutih dihadapan puluhan penjaja air mengatakan , dia tidak punya kapasitas untuk meminta kepada PDAM Jepara untuk membuka kembali penjualan air. Namun ia akan berjuang sekuat tenaga memohon kepada PDAM Demak untuk menambah suplai air bantuan dari Pemda Demak. Selain itu juga melaporkan aspirasi warga desa yang kekurangan air.

“ Ya karena beda wilayah saya tidak bisa berharap banyak. Mudah-mudahan aspirasi warga semua bisa kami haturkan ke atasan saya. Kita hanya bisa mengajukan bantuan air bersih ke PDAM. Mudah-mudahan PDAM Demak memberikan solusi yang terbaik”, kata Hamdan

Penjaja air Share dengan Kades Hamdan 


Hamdan mengatakan kejadian kekurangan air bersih ini terjadi setiap tahun jika musim kemarau tiba. Kendalanya memang di 3 desa itu belum ada air bersih dari PDAM Demak . Sedangkan desa seberang yang masuk wilayah Jepara airnya berlimpah sehingga bisa dijual ke warga desa di kecamatan Wedung lewat panjaja air.

“ Namun karena sebab apa  dua hari ini ada pelarangan penjualan air ke desa di wilayah Wedung Demak. Katanya debit air di sana masih cukup dan air masih mengalir deras kenapa ada pelarangan  saya kurang tahu “, kata Hamdan.
Sementara itu Kepala Desa Kedungmalang F. Razikin yang dihubungi lewat telpon genggam mengatakan , warga desanya memang sebagian ada yang kekurangan air bersih karena pipa tidak mengalir air. Mengenai pelarangan penjualan air kepada warga di Demak itu merupakan keputusan dari PDAM Jepara. (Muin)



Haji Aman dan Lancar bersama KBIH " Al-Firdaus" Jepara hubungi di  085 290 375 959


Selasa, 27 Mei 2014

Warga Pesisir Wedung Utara Akan Rasakan Air PDAM

 

Demak – Warga desa di pesisir Wedung Utara mulai dukuh Menco ,desa Babalan, Kedungmutih dan juga Kedungkarang akan rasakan air bersih dari PDAM Demak. Sesuatu yang sejak dulu diharap-harap kini tinggal selangkah lagi. Dua tahun yang lalu pipa besar telah dipasang ,kini pipa-pipa kecil juga telah di tanam.

“ Pipa besar untuk saluran air antar desa. Sedangkan pipa kecil ini merupakan saluran air menuju ke rumah warga “, ujar Dimin (45) kuli borong pasang pipa pada WARTA DEMAK, Senin (26/5).

Dimin mengatakan pemasangan pipa kecil ini mulai dari dukuh Menco , kemudian desa Babalan dan juga desa Kedungkarang. Sedangkan untuk desa Kedungkarang belum saat ini. Namun dalam waktu dekat pipa-pipa kecil juga akan dipasang sampai di desa Kedungkarang.

“ Untuk Menco semua bisa terpasang dengan lancar tanpa masalah. Namun di desa Babalan ada beberapa titik yang bermasalah dengan warga. Jadi belum semua titik tersambung “, tambah Dimin.

Sementara itu pemasangan pipa kecil di desa Kedungmutih , menurut Ahmad Mushonnef salah satu perangkat desa tidak ada masalah yang berarti. Semua warga merelakan depan rumah di gali untuk pemasangan pipa. Bahkan beberapa ruas jalan harus dihancurkan untuk kelancaran pemasangan pipa.

“ Untuk desa kami warga tidak mempermasahkan galian justru mereka senang . Air bersih telah ditunggu-tunggu sejak lama memasuki rumah mereka. Kelihatannya seluruh titik sudah tersambung pipa sampai di kampong relokasi sana “, ujar Ahmad Mushonnef.




Menurut dia , jika kemarau tiba hamper semua warganya membeli air bersih dari Jepara. Selain lewat penjaja air menggunakan sepeda dan sepeda motor. Ada juga warga yang mendatangkan air bersih lewat  mobil tangki dari Kudus dan juga Semarang.

Oleh karena itu dengan adanya sambungan pipa air bersih dari PDAM Demak ini . Warga bisa menghemat uang untuk membeli air. Setiap hari mereka mengeluarkan uang minimal Rp 5 ribu – 6 ribu untuk membeli air bersih. Selain untun kebutuhan minum mereka juga butuh air untuk memasak , mandi dan juga mencuci.

“ Apalagi jika musim kemarau panjang kebutuhan air bersih menjadi hal yang utama karena sumur –sumur tak berair . Yang ada hanya air asin dari sungai Serang.”, tambah Ahmad Mushonnef.
Menurut Mushonnef , sambungan pipa air ini akan mulai dirasakan warga akhir tahun ini. Oleh karena itu dia mengharapkan kepada warga untuk menyiapkan segala sesuatunya. (Muin)


Jumat, 04 Oktober 2013

Air Bersih Bantuan Di Serbu Warga Desa Kedungmutih

Warga serbu air bantuan Pemda Demak 

Demak - Air bersih saat ini menjadi barang berharga bagi warga pesisir Wedung. Oleh karena itu ketika datang bantuan air bersih dari Pemda Demak lewat Kantor  BPDB di serbu warga. Pemandangan itu terekam di desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak .

“ Sudah hampir 2 bulan ini warga  membeli air bersih dari Jepara. Tandon air warga ketika musim penghujan sudah habis. Jadi ya kayak gini kalau ada bantuan datang “, tutur Suyadi (45) perangkat desa Kedungmutih.

Suyadi menuturkan , selama musim kemarau ini desa baru mendapatkan bantuan air bersih 2 kali. Satu kali kiriman sebanyak 5 tangki dengan kapasitas 5000 liter. Ke 5 tangki tersebut selanjutnya di sebar ke 5 tempat. Dengan menggunakan berbagai wadah air  merekapun antri mengisi air dari tangki.

“ Ya jika musim kemarau tiba warga di sini pasti kekurangan air. Bagi yang punya uang biasanya mereka beli pada penjaja air. Yang tidak punya uang biasanya nunggu bantuan “, kata Suyadi.

Suyadi menambahkan , kebutuhan air bersih terasa ketika stok air di Jepara menipis. Warga kesulitan untuk mendapatkan air bersih sehingga harganya bisa melambung tinggi. Oleh karena itu dia mengharapkan adanya sambungan air PDAM Demak.

“ Harapan kami pipa yang sudah ada bisa segera di aliri air , sehingga warga tidak lagi kesulitan air bersih jika musim kemarau tiba”, tambah Suyadi.

Menurutnya satu KK harus mengeluarkan biaya air Rp 7 – 10 ribu dalam sehari. Air itu di beli dari penjaja air dari daerah Jepara. 4 Jrigen 30 liter yang diangkut dengan sepeda motor berharga Rp 7 ribu rupiah. Jika satu keluarga anggotanya banyak sehari bisa butuh air hingga 2 rit.

Sutikan (40) warga desa Kedungmutih menyambut gembira adanya bantuan air bersih dari pemerintah daerah Demak. Namun dia mengharapkan bantuan itu bisa datang seminggu sekali . Harapannya dengan adanya bantuan air itu dia bisa mengirit pengeluaran harian.

“ Ya kita terima kasih sekali adanya bantuan air ini . Tetapi kalau bisa bantuan ini seminggu sekali datangnya sehingga warga bisa tertolong di saat kekeringan “, kata Sutikan yang sehari-harinya jualan sosis.

Selain untuk desa Kedungmutih bantuan air bersih lewat kantor BPBD Demak ini juga di suplai ke desa pesisir lain. Misalnya desa Kedungkarang, Tedunan, Kendalasem dan Babalan. (Muin)











Senin, 16 September 2013

Warga Pesisir Wedung Utara Beli Air Bersih dari Jepara, Harapkan Sambungan Pipa PDAM Demak


 
warga antri air bersih bantuan pemda Demak
Demak - Musim kemarau bagi sebagian warga pesisir Wedung merupakan musim sulit air bersih karena tandon air bersih yang dikumpulkan ketika musim penghujan tiba sudah habis. Untuk mencukupi kebutuhan air bersih setiap hari mereka  membeli air bersih dari penjaja air yang kulakan  air bersih dari daerah Jepara.

Desa yang setiap musim kemarau warganya membeli air diantaranya desa Kedungmutih, Kedungkarang, dan Babalan  karena ketiga desa tersebut belum tersambung oleh pipa PDAM kabupaten Demak. Sehingga kebutuhan air bersih mereka jika musim kemarau tiba dipasok oleh penjaja air yang setiap hari berkeliling. Dengan membawa tempat air berupa jrigen mereka berkeliling kampung dengan sepeda atau sepeda motor.

“ Setiap dua hari sekali saya membeli air bersih dari penjaja air , satu sepeda berisi 5 jrigen kami harus mengeluarkan uang Rp 5 ribu . Sedangkan jika berisi 7 jrigen kami harus membayar Rp 6 ribu – Rp 7 ribu  . Hitung saja berapa pengeluaran saya untuk membeli air setiap bulannya “, ujar Ibu Ilya (38) warga desa Kedungmutih  

Jika musim kemarau tradisi membeli air bersih terus lestari karena sumur, kolam atau sungai airnya sudah berasa asin. Sebelum musim kemarau tiba sumur yang dimiliki warga masih bisa untuk mandi dan mencuci karena airnya tidak telalu asin. 

Namun seiring semakin lamanya musim kemarau sumur-sumur mulai kering dan mengeluarkan sumber air yang berasa asin. Sehingga untuk keperluan mandi saja harus membilas dengan air tawar . Apalagi untuk mencuci atau memasak air harus membeli.

“ Entah kapan derita ini berakhir , bagi keluarga yang mempunyai penghasilan lebih sih tidak menjadi halangan harus membeli air karena ada uang. Tetapi bagi warga yang kurang mampu hal ini membuat masalah tersendiri “, tambah Ilya.

Sementara itu Fatkhan, SH anggota DPRD kabupaten Demak fraksi Demokrat pada Warta Demak mengatakan, fihaknya secara resmi belum pernah menerima keluhan warga atau pemerintahan desa yang kekurangan air jika musim kemarau tiba. 

Oleh karena itu dia mengharapkan adanya aksi secara riil misalnya dengan mengajukan permohonan sambungan air bersih pada PDAM Demak . Dia sebagai anggota DPRD yang kebetulan konstituennya ada di kecamatan Wedung akan sekuat tenaga membantu terealisasinya sambungan air bersih dari PDAM Demak.

“ Jika para Kepala desa mau secara bersama-sama mengajukan permohonan ke PDAM Demak maka kamipun akan mengawalnya secara serius. Namun sampai sekarang belum ada selembar suratpun yang berisi permohonan sambungan air bersih pada PDAM Demak “ kata Fatkhan.


Ditanya menyambung ke Jepara , dia mengatakan terlalu sulit pengurusannya karena PDAM Demak sendiri kelihatannya berupaya untuk mengalirkan air bersih menuju desa-desa di kecamatan Wedung Utara. Oleh karena itu jalan satu-satunya ada memantapkan pengajuan oleh pemerintah desa yang kekurangan air bersih kepada PDAM Demak. (Muin)

Senin, 09 September 2013

Kemarau Rejeki bagi Penjaja Air Bersih Di Pesisir Wedung


Demak - Bulan ini di kawasan pesisir Wedung bagian Utara mulai kekeringan. Tandon air yang berupa blumbang, sumur atau kolam mulai mongering airnya . Desa pesisir seperti Kedungmutih, Kedungkarang, Babalan , dan Tedunan mulai kesulitan air bersih.

Akibatnya warga yang kebanyakan hidupnya mengandalkan tambak dan laut ini mulai membeli air bersih. Utamanya untuk memasak dan minum mereka harus mengeluarkan sejumlah uang. Untuk mandi atau mencuci mereka masih mengandalkan air dari sumur atau blumbang meski kebersihannya tidak terjamin.

“ Habis bagaimana lagi kalau semua mengandalkan air dengan membeli. Sehari tidak cukup uang 20 ribu karena satu drigen ukuran 40 liter disini sudah Rp 3.000,-  “, ujar Haji Achmadi warga desa Kedungkarang.

Menurut haji Achmadi di desanya sudah ada air bersih dari PAMSIMAS. Namun karena air simpanan yang tidak mencukupi  ketika musim kemarau tiba air habis. Sumber air digantikan dari air tanah , namun kualitasnya kurang bagus. Selain rasanya masin juga warnanya tidak bening.

“ Paling-paling warga menggunakannya untuk MCK saja. Untuk kebutuhan memasak atau minum warga sini kebanyakan membeli air bersih dari penjaja air. “, kata Ahmadi.
Di desa Kedungmutih juga mengalami hal yang sama. Justru di desa pesisir ini sejak kemarau tiba warganya mulai membeli air bersih. Selain tidak ada instalasi air bersih PAMSIMAS juga hal ini sudah terbiasa. Untuk mencukupi kebutuhan air bersih mereka mengandalkan jasa penjaja air.

Hal inilah yang membuat rejeki tersendiri bagi Misbahul Azmi (36) salah seorang penjaja air. Setiap harinya ia memasok air bersih ke sejumlah warga desa. Dengan berbekal sepeda motor iapun menyambangi tiap rumah yang membutuhkan air. Air ia beli dari daerah Jepara kemudian ia antarkan ke warga dengan jarak tempuh sekitar 2 Km.

“ Ya setiap hari kalau ramai bisa 10 kali tarikan . Dari warung air 3 jrigen saya beli Rp 3 ribu sampai sini Rp 7 – 8 ribu tergantung dari jauh dekatnya “, aku Misbahul .

Misbahul mengataka setiap kemarau tiba profesi sebagai penjaja air ia jalani. Ia sudah mempunyai puluhan pelanggan yang setiap hari membutuhkan air bersih. Rata –rata kebutuhan air bersih mereka dua hari sekali 3 jrigen. Namun yang keluarganya banyak setiap hari minta di beri satu kali.

Dari pekerjaan sebagai penjaja air Misbahul bisa mendapatkan hasil Rp 50 ribu – Rp 75 ribu setiap harinya. Dengan hasil itu dia bisa memenuhi kebutuhan belanja keluarganya sehari-hari. Selain itu bisa juga ditabung untuk keperluan penting lainnya.

“ Selain saya masih banyak lagi penjaja air disini. Tidak hanya warga Kedungmutih saja namun warga desa tetangga seperi Babalan, Kedungkarang dan Tedunan banyak yang berprofesi sebagai penjaja air seperti saya”, katanya lagi ( Muin )



Jumat, 06 September 2013

16 DESA KERING DI DEMAK DAPAT DROPING AIR BERSIH

Penjaja air bersih di desa Kedungmutih

DEMAK-Mengantisipasi kekurangan air bersih di wilayah Kabupaten Demak, sedikitnya belasan desa rawan kekeringan. Beberapa kecamatan di Kabupaten Demak pun menerima droping air bersih dari BPBD Demak.

Musim kemarau kali ini memang cukup membuat warga daerah rawan kering, kesulitan mencari air bersih. Kebanyakan dari mereka memanfaatkan air sungai untuk komsumsi. Hal ini mendorong pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) membantu droping air bersih di wilayah tersebut.

Mulai Jumat (6/9), terdapat dua desa di Kecamatan Karanganyar yang menjadi lokasi pertama penerima bantuan air bersih, yaitu Desa Cangkring Besar dan Desa Undakan Kidul. “Tiap desa akan menerima masing-masing lima tangki air berkapasitas 5.000 liter," ujar Kasi Kedaruratan BPBD Demak, Sururi.

Selanjutnya, droping air dijadwalkan sampai Sabtu (14/9), yang akan dikirim ke wilayah Kecamatan Wedung Kedungkarang, meliputi Desa Kedungmutih, Berahanwetan, Kendalasem, Mutihwetan, Mutihkulon, dan Desa Jetak. Untuk Kecamatan Bonang, penerimanya Desa Karangrejo dan Sumberejo. Menyusul Kecamatan Wonosalam masing-masing Desa Kuncir, Mrisen, dan Desa Mojodemak.


Di Kecamatan Demak Kota, yang menerima droping air adalah Desa Kedondong. Desa Ngaluran Kecamatan Karangnyar pun akan dibantu droping air bersih, karena wilayahnya tengah kekeringan.

Berdasarkan hasil rakor kerawanan air bersih, sebanyak 13 kecamatan dari total 14 kecamatan di Demak yang akan mendapatkan bantuan air bersih. Setiap kecamatan akan mendapatkan sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.

Kepala BPBD Demak Bambang Saptoro Subandrio mengatakan, secara keseluruhan yang akan menerima droping air bersih sebanyak 78 desa di 13 kecamatan. Hanya Kecamatan Karangtengah yang tak dapat bantuan, karena wilayah itu belum membutuhkannya. 

Dana bantuan air bersih tersebut diambil dari anggaran APBD Demak yang disalurkan secara gratis kepada warga yang membutuhkan. 

Terpisah, Kepala Desa Cangkring Besar, Zamharir mengatakan, kurangnya air bersih di desanya rutin terjadi tiap musim kemarau panjang. Pihaknya sempat mengajukan permohonan penyaluran jaringan air bersih dari PDAM, namun sambungan pipa yang jauh, butuh biaya yang besar sehingga urung dilakukan.

Untuk mengatasinya, warga biasanya membeli air melalui pedagang air keliling. "Biasanya harga per jerigen Rp 2.000," jelas Zamharir. 

Selain dari Pemkab, lanjutnya, tiap kali musim kemarau datang, warga desa juga mendapatkan bantuan air bersih dari pihak swasta, seperti perusahaan rokok Djarum.
(harsem/swi/yul)