Tampilkan postingan dengan label Harian Semarang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harian Semarang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Januari 2014

Rebana dan Drumb Band Meriahkan Pindahan PKL Masjid Agung Demak


Pemkab Kabupaten Demak Jawa Tengah, memindah Pedagang Kaki Lima (PKL) di seputar Masjid Agung Demak (MAD) menuju Taman Tembiring Jogo Indah, dengan arakan musik rebana dan drum band.

Ratusan PKL yang biasa jualan diseputar MAD, oleh Pemkab Demak Jawa Tengah dipindah di Taman Tembiring. Mereka diarak dengan musik rebana dan drum band, menyusuri jalan kota, dari jalan Kiai Singkil menuju Taman Tembiring Desa Jogoloyo Kecamatan Wonosalam.

Atas kawalan mobil patroli, rombongan warga PKL berkonvoi. Kendati mereka banyak melembar senyuman kepada masayarakat yang menonton, namun dari wajah mereka masih menunjukan kemurungan, akibat lokasi jualannya dipindah.

Pedagang Nasi Mangut dan Pecel, Romijah (45) mengaku kurang nyaman bila dipindah di taman tembiring. Biasanya dia berjualan di MAD, ramai pembeli. Dia masih menyanksikan berjualan di Taman Tembiring akan seramai di seputar masjid.

“Kalau jualan dekat masjid, tidak hanya melayani wisatawan, pembelinya juga anak pelajar atau pengunjung di alun-alun Demak,” aku Romjah, Minggu (12/1)

Kalau jualan dekat masjid, sambung Penjual Bakso Balungan Iriyanto (50), sangat ramai, sehari bisa untung lebih Rp 100 ribu. “Jualan di Tembiring, saya hanya bisa berharap akan seramai dekat di Masjid Agung Demak,” pintanya.

Pedagang masih pesimis untuk berjualan di Taman Tembiring, mereka masih beranggapan keramaian kota hanya di seputar Masjid Agung Demak dan alun-alun. “Kita jualan disini masih uji coba, kalau sepi terpaksa mencari usaha lain,” jelas Kundari (54), pedagang Pecel Lele Lamongan.

Menurut Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Demak, M Ridwan, sebanyak 317 PKL akan ditempatkan di zona 1, 2 dan zona 3 Taman Tembiring. “Namun untuk sementara PKL masih menempati zona 1,” jelasnya.

Karena PKL biasa berjualan pada malam hari, sehingga di Taman Tembiring mereka akan berjualan pada sore hari sampai pagi.

Untuk lahan parkir kendaraan dan bus, akan ditempatkan dibagian belakang Taman Tembiring atau pada zona 2 dan zona 3. Sehingga penumpang harus berjalan kaki untuk menuju ke pintu gerbang taman.

Wisatawan yang akan memakai jasa ojek, becak atau dokar untuk menuju lokasi wisata religi Majid Agung Demak, harus berjalan kaki ke pintu gerbang. Karena pihaknya telah menematkan jasa angkotan itu, di depan gerbang masuk taman.

Dari proses perjalan wisatawan menuju pintu gerbang ini, mereka akan melewati los PKL yang menyajikan berbagai makan dan minuman, sehingga wisatawan bisa membeli masakan tanpa harus bersusah payah pergi ke tempat lain. (swi)


Sumber : Harian Semarang




Rabu, 09 Oktober 2013

Horeeee !!!! Bupati Demak Setujui UMK Rp 1.280.000

Demo Buruh di depan Kantor Bupati Demak


DEMAK- Bupati Moh Dachirin Said akhirnya memutuskan besaran Upah Minimum Kabupaten (UMK) 2014 senilai Rp 1.280.000. Keputusan itu diambil menyusul sidang Dewan Pengupahan yang mengalami kebuntuan.

Usulan tersebut merupakan jalan tengah setelah tidak ada kesepakatan saat sidang. Adapun besaran UMK 2014 yang diputuskan Bupati ini sudah mencapai 100 persen dari hasil survei Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di Demak senilai Rp 1.278.000.

Selanjutnya, besaran UMK tersebut dinilai mampu mengakomodir kepentingan buruh dan pengusaha. Kenaikan UMK yang dikehendaki buruh juga disesuaikan dengan kemampuan pengusaha.

“Kami nilai sudah memenuhi rasa keadilan. Di satu sisi buruh minta (UMK) naik, tapi di lain sisi juga harus dilihat kemampuan pengusaha,” imbuhnya.

Dengan demikian usulan UMK 2014 mengalami kenaikan sebesar Rp 285.000 atau 28,64% dibanding UMK 2013 senilai Rp 995.000. Sehubungan hal itu, aksi unjuk rasa kembali dilakukan ribuan buruh di depan Gedung DPRD Demak.

Aksi tersebut mendapat blokade aparat sehingga masa hanya bisa berorasi dari balik pintu gerbang. Koordinator aksi, Agus Mamoen Rizal mengatakan,demo lanjutan ini bentuk sikap kekecewaan buruh terhadap keputusan pemerintah daerah.

Buruh sendiri, menghendaki besaran UMK 2014 Rp 2,1 juta. Sedangkan tuntutan dari Apindo selaku perwakilan pengusaha sebesar Rp 1,187 juta.

“Teman-teman buruh hanya meminta besaran UMK yang diajukan bupati sesuai dengan hasil rapat pleno Dewan Pengupahan. Biarkan gubernur yang memutuskan apakah menyetujui usulan buruh Rp 2,1 juta atau Apindo Rp 1,187 juta,” kata Ketua PCAI FSPMI Demak.

Perwakilan buruh diterima Ketua DPRD Demak Muklasin, Wakil Ketua DPRD Demak Mugiyono, Kapolres AKBP R Setijo Nugroho Hasto Harjo Putro dan Dandim Letkol Inf Ari Aryanto. Mereka diminta menerima keputusan bupati secara arif dan bisa disampaikan kepada buruh lainnya.

Kabid Hubungan Industrial Dinsosnakertrans Kabupaten Demak, Haryanto mengatakan, meski jauh di bawah tuntutan buruh tapi nominal usulan UMK tersebut telah mempertimbangkan inflasi dan rata-rata survei KHL selama bulan berjalan pada 2013. (SMNetwork/J9/swi/hst)

Jumat, 04 Oktober 2013

BANSER GERUDUG RUMAH PENGURUS MTA


BANSER GERUDUG RUMAH PENGURUS MTA

Demak-Ratusan personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Demak, menggerudug rumah pengurus jamaah Majjelis Tafsir Alqur’an (MTA) di wilayah Desa Kedondong Kecamatan Demak.

Sedikitnya 200 personel Banser, menggerudug rumah Ketua II pengurus MTA Demak Supardi dan bendahara MTA Supriyanto. Aksi pengerahan pasukan ini diakibatkan jamaah MTA di Desa Kedondong akan menyelenggarakan kegiatan.

Menurut Ketua PC Ansor Demak, H Abdurrahman Kasdi secara tegas Ansor menolak masuknya faham dan ajaran dari jamaah MTA yang menyesatkan kaum Aswaja (ahlul sunnah wal Jamaah). 

Sejak dilayangkan surat penolakan adanya kegiatan pengajian dari jamaah MTA  yang disampaikan kepada Kapolres Demak, ada tiga hal yang tidak boleh dilakukan oleh jamaah MTA, yakni dilarang memasang atribut MTA, tidak boleh melakukan kegiatan apapun yang mengajarkan faham MTA, dan MTA tidak boleh melakukan kegiatan jamaah yang menghadirkan massa dari Demak atau dari luar kota Demak. 
Selama ini ajaran MTA dipandang sangat meresahkan warga yang menganut ajaran Aswaja, MTA justru ingin membangun jamaah kelompok Islam garis keras yang bermarkas di Desa Kedondong. 

“Kabar yang kami terima jamaah MTA  akan menggelar kegiatan di Desa Kedondong, padahal sudah diminta tidak boleh menggelar kegiatan apapun,” ucap Kasdi didampingi Komandan Satkorcab Banser Kabupaten Demak Mustain, Rabu (2/10). Dia segera mengerahkan pasukan Banser untuk mendatangi rumah pengurus MTA.
Banser akan membawa kedua pengurus tersebut untuk berdialog di Mapolres. Pihaknya sendiri sudah meminta izin pihak kepolisian untuk menjadi mediasi persoalan ini.    

Mulai pukul 15.30 Banser sudah mendatangi rumah dua pengurus MTA, Supardi dan Supriyanto, tapi yang bersangkutan tidak berada di rumah. Hingga pukul 17.30, Banser menunggu di serambi Masjid At Taqwa Desa Kedondong, namun yang bersangkutan tak kunjung pulang ke rumahnya.  

Kedatangan Banser mendapat pengawalan dari TNI-Polri, hadir juga Waka Polres Demak Kompol Teddy Rayendra, Camat Demak Fathkurrohman, Danramil Kota Kapt Inf Bambang Susilo, Kapolsek Kota Iptu Ujang, dan Kades Kedondong H Suharno.	
	
Waka Polres meminta Banser untuk bersabar, kendati beda ideologi diminta tetap berkepala dingin. “Rencananya muspida akan membahas persoalan ini, kami minta teman-tamen Banser bisa bersabar,” kata Kompol Teddy. (harsem/swi/hst)

_____
Informasi lebih lengkap seputar Demak Kota Wali, silahkan kunjungi Blog WARGA DEMAK: http://wargademak.blogspot.com/  
_____
Waka Polres Demak Kompol Teddy Rayendra (kiri) memberi masukan agar Banser tetap tenang dan berkepala dingin.(harsem/sukmawijaya)


Demak-Ratusan personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Demak, menggerudug rumah pengurus jamaah Majjelis Tafsir Alqur’an (MTA) di wilayah Desa Kedondong Kecamatan Demak.

Sedikitnya 200 personel Banser, menggerudug rumah Ketua II pengurus MTA Demak Supardi dan bendahara MTA Supriyanto. Aksi pengerahan pasukan ini diakibatkan jamaah MTA di Desa Kedondong akan menyelenggarakan kegiatan.

Menurut Ketua PC Ansor Demak, H Abdurrahman Kasdi secara tegas Ansor menolak masuknya faham dan ajaran dari jamaah MTA yang menyesatkan kaum Aswaja (ahlul sunnah wal Jamaah).

Sejak dilayangkan surat penolakan adanya kegiatan pengajian dari jamaah MTA yang disampaikan kepada Kapolres Demak, ada tiga hal yang tidak boleh dilakukan oleh jamaah MTA, yakni dilarang memasang atribut MTA, tidak boleh melakukan kegiatan apapun yang mengajarkan faham MTA, dan MTA tidak boleh melakukan kegiatan jamaah yang menghadirkan massa dari Demak atau dari luar kota Demak. 

Selama ini ajaran MTA dipandang sangat meresahkan warga yang menganut ajaran Aswaja, MTA justru ingin membangun jamaah kelompok Islam garis keras yang bermarkas di Desa Kedondong.

“Kabar yang kami terima jamaah MTA akan menggelar kegiatan di Desa Kedondong, padahal sudah diminta tidak boleh menggelar kegiatan apapun,” ucap Kasdi didampingi Komandan Satkorcab Banser Kabupaten Demak 

Mustain, Rabu (2/10). Dia segera mengerahkan pasukan Banser untuk mendatangi rumah pengurus MTA.
Banser akan membawa kedua pengurus tersebut untuk berdialog di Mapolres. Pihaknya sendiri sudah meminta izin pihak kepolisian untuk menjadi mediasi persoalan ini.

Mulai pukul 15.30 Banser sudah mendatangi rumah dua pengurus MTA, Supardi dan Supriyanto, tapi yang bersangkutan tidak berada di rumah. Hingga pukul 17.30, Banser menunggu di serambi Masjid At Taqwa Desa Kedondong, namun yang bersangkutan tak kunjung pulang ke rumahnya.

Kedatangan Banser mendapat pengawalan dari TNI-Polri, hadir juga Waka Polres Demak Kompol Teddy Rayendra, Camat Demak Fathkurrohman, Danramil Kota Kapt Inf Bambang Susilo, Kapolsek Kota Iptu Ujang, dan Kades Kedondong H Suharno.

Waka Polres meminta Banser untuk bersabar, kendati beda ideologi diminta tetap berkepala dingin. “Rencananya muspida akan membahas persoalan ini, kami minta teman-tamen Banser bisa bersabar,” kata Kompol Teddy.
(harsem/swi/hst)

_____
Informasi lebih lengkap seputar Demak Kota Wali, silahkan kunjungi Blog WARGA DEMAK: http://wargademak.blogspot.com/ 
_____
Waka Polres Demak Kompol Teddy Rayendra (kiri) memberi masukan agar Banser tetap tenang dan berkepala dingin.(harsem/sukmawijaya)
Sumber : HARIAN SEMARANG

Senin, 30 September 2013

Hati-hati !!!! BERI TUMPANGAN MALAH DITODONG

ilustrasi dari 

Demak-Apes menimpa supir truk box, Bambang Mahmudian (29) warga Desa Depok kecamatan Toroh, Grobogan. Bermaksud menolong memberi tumpangan, malah dirinya menjadi korban penodongan.

Peristiwa nahas tersebut terjadi di wilayah jalan raya Dempet-Godong wilayah Desa Jerukgulung Kecamatan Dempet, Sabtu (28/9) kemarin. Sekitar 14.00, saat Mahmudian melintas di jalan itu, tiba-tiba ada dua pengendara motor meminta tumpangan.

“Karena mengaku dari aparat, saya mau saja hitung-hitung bisa ikut menjaga keamanan saya di jalan pak,” akunya saat melapor ke Mapolsek Dempet, kemarin. Mahmudian segera menghentikan truknya nomor polisi K-1633-JF, dan memberi tumpangan salah satu pengendara motor tersebut.

Awal perjalanan pembonceng biasa saja, mengaku sebagai anggota berasal dari Purwodadi dan akan pulang ke kampungnya. Belum ada setengah jam merasa aman, pembonceng meminta paksa sopir nahas itu untuk berhenti dan menyerahkan tasnya.

Karena dibawah ancaman senjata tajam, Mahmudian mengikuti saja dan dengan berat hati menyerahkan tas yang berisi barang berharga miliknya. Selanjutnya pelaku turun dan pergi, segera dia melaporkan hal ini ke Polisi.

Saat ditemui, Kasubag Humas Polres Demak AKP Sutomo membenarkan laporan tersebut, korban mengaku di todong sehingga menyerahkan tasnya yang berisi uang sekitar Rp 7,3 juta. “Korban diminta berhenti dan pelaku meminta tas yang dibawa korban yang berisi uang, selanjutnya pelaku turun dari truk dan membonceng temannya lagi ke arah Dempet,” katanya. Setelah pihaknya menerima laporan, petugas Polsek Dempet segera mengecek lokasi untuk olah tempat kejadian perkara (TKP). (harsem/swi/hst)


Kamis, 19 September 2013

PANEMBAHAN KADILANGU JADI PEMIMPIN ADAT










PANEMBAHAN KADILANGU JADI PEMIMPIN ADAT

Demak-Setelah muncul surat pernyataan bersama, antara Sesepuh Paguyuban Sunan Kalijaga Kadilangu dengan Lambaga Adat Kadilangu (LAK), kedua pihak sudah mengakui Panembahan Kadilangu secara mutlak sebagai pemimpin adat di Kadilangu.

Menyusul pernyataan bersama, soal penyerahan kunci kantor kesekretariatan Kasepuhan Kadilangu dari Paguyuban Sunan Kalijaga kepada LAK, secara otomatis kedua pihak mengakui Panembahan Kadilangu  menjadi pemimpin adat di Kadilangu.
	
pernyataan yang ditandatangani Sesepuh Paguyuban Sunan Kalijaga, R Sudjono dengan Wakil Ketua LAK, R Krisnaidi, Rabu (18/9), telah sepakat Sesepuh Paguyuban menyerahkan kunci kantor sekretariat Kasepuhan kepada LAK untuk menjadi kantor sekretariat LAK.
	 
“Dalam kesepakatan itu, disebutkan juga status gedung sekretariat Kasepuhan akan dibicarakan satu bulan setelah pelaksanaan Grebeg Besar tahun 2013 berlangsung,” kata Wakil Ketua LAK, R Krisnaidi, kemarin.
	
Dengan selesainya persoalan internal keluarga besar ahli waris Sunan Kalijaga, maka tidak ada lagi suryo kembar (dua pemimpin) di Kadilangu. Sehingga ahli waris bisa melanjutkan dan meluruskan adat serta budaya Kadilangu tanpa ada intervensi dari pihak lain.
	
Dalam kesempatan itu, Panembahan Kadilangu H R Rachmad sudah membentuk panitia Penjamasan Pusaka yang akan digelar dalam acara Grebeg Besar, dan menunjuk selaku Ketua Panitia Penjamasan Pusaka, R Edi Nursalien.
	
“Setelah penerimaan kunci, kami segera menyusun rencana budaya penjamasan pusaka, dan menggunakan gedung eks sekretariat Kesepuhan menjadi kegiatan LAK,” kata Edi. Dalam penyerahan kunci tersebut Paguyuban juga mengakui kegiatan adat akan dipimpin langsung oleh Panembahan Kadilangu, bukan Sesepuh.
         	
Seperti diberitakan sebelumnya, Sesepuh Paguyuban Kadilangu berusaha menguasai urusan adat dan budaya di Kadilangu. Dan berupaya mengintervensi kedudukan pimimpin adat. Namun para ahli waris Sunan Kalijaga di Kadilangu telah membentuk lembaga adat yang selanjutnya menobatkan H R Rachmad selaku Panembahan Kadilangu, menggantikan jabatan pemimpin adat Kadilangu yang bergelar Sesepuh.
	
Dalam kegiatannya LAK akan mengembalikan semua adat dan budaya Jawa-Islam warisan dari Sunan Kalijaga yang belakangan ini perlahan-lahan pudar, karena kurang tegasnya pemimpin adat sebelumnya. (harsem/swi/hst)      
_____
 Wakil Ketua LAK R Krisnaidi bersama Ketua Panitia Penjamas Pusaka R Edi Nursalien mencopot papan nama Sekretariat Sesepuh Ahli Waris, rencananya kantor akan dijadikan Sekretariat LAK.(harsem/sukmawijaya)
Add caption


Demak-Setelah muncul surat pernyataan bersama, antara Sesepuh 

Wakil Ketua LAK R Krisnaidi bersama Ketua Panitia Penjamas Pusaka R Edi Nursalien mencopot papan nama Sekretariat Sesepuh Ahli Waris, rencananya kantor akan dijadikan Sekretariat LAK.(harsem/sukmawijaya)

 Demak-Setelah muncul surat pernyataan bersama, antara Sesepuh Paguyuban Sunan Kalijaga Kadilangu dengan Lambaga Adat Kadilangu (LAK), kedua pihak sudah mengakui Panembahan Kadilangu secara mutlak sebagai pemimpin adat di Kadilangu.

Menyusul pernyataan bersama, soal penyerahan kunci kantor kesekretariatan Kasepuhan Kadilangu dari Paguyuban Sunan Kalijaga kepada LAK, secara otomatis kedua pihak mengakui Panembahan Kadilangu menjadi pemimpin adat di Kadilangu.

pernyataan yang ditandatangani Sesepuh Paguyuban Sunan Kalijaga, R Sudjono dengan Wakil Ketua LAK, R Krisnaidi, Rabu (18/9), telah sepakat Sesepuh Paguyuban menyerahkan kunci kantor sekretariat Kasepuhan kepada LAK untuk menjadi kantor sekretariat LAK.

“Dalam kesepakatan itu, disebutkan juga status gedung sekretariat Kasepuhan akan dibicarakan satu bulan setelah pelaksanaan Grebeg Besar tahun 2013 berlangsung,” kata Wakil Ketua LAK, R Krisnaidi, kemarin.

Dengan selesainya persoalan internal keluarga besar ahli waris Sunan Kalijaga, maka tidak ada lagi suryo kembar (dua pemimpin) di Kadilangu. Sehingga ahli waris bisa melanjutkan dan meluruskan adat serta budaya Kadilangu tanpa ada intervensi dari pihak lain.

Dalam kesempatan itu, Panembahan Kadilangu H R Rachmad sudah membentuk panitia Penjamasan Pusaka yang akan digelar dalam acara Grebeg Besar, dan menunjuk selaku Ketua Panitia Penjamasan Pusaka, R Edi Nursalien.

“Setelah penerimaan kunci, kami segera menyusun rencana budaya penjamasan pusaka, dan menggunakan gedung eks sekretariat Kesepuhan menjadi kegiatan LAK,” kata Edi. Dalam penyerahan kunci tersebut Paguyuban juga mengakui kegiatan adat akan dipimpin langsung oleh Panembahan Kadilangu, bukan Sesepuh.

Seperti diberitakan sebelumnya, Sesepuh Paguyuban Kadilangu berusaha menguasai urusan adat dan budaya di Kadilangu. Dan berupaya mengintervensi kedudukan pimimpin adat. Namun para ahli waris Sunan Kalijaga di Kadilangu telah membentuk lembaga adat yang selanjutnya menobatkan H R Rachmad selaku Panembahan Kadilangu, menggantikan jabatan pemimpin adat Kadilangu yang bergelar Sesepuh.

Dalam kegiatannya LAK akan mengembalikan semua adat dan budaya Jawa-Islam warisan dari Sunan Kalijaga yang belakangan ini perlahan-lahan pudar, karena kurang tegasnya pemimpin adat sebelumnya. (harsem/swi/hst) 
Sumber : Harian Semarang