Tampilkan postingan dengan label Tulisan Pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan Pribadi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Maret 2014

Pak Djasri Maut Selalu Mengintai Di Ketinggian




Pak Djasri Dkk pasang plafond kubah


Kudus – Bagi sebagian orang bekerja di ketinggian merupakan hal yang menakutkan , namun bagi Djasri (54) warga desa Ngrunting kabupaten Pati itu merupakan hal yang biasa. Bahkan dari bekerja di ketinggian inilah dia bisa menghidupi anak istrinya puluhan tahun dan juga bisa kemana-mana dari keahliannya ini. 

Ya memasang kubah masjid atau musholla inilah ia dapat mengelilingi hampir seluruh wilayah Indonesia , Sematera , Jawa , Kalimantan sampai dengan Ternate pernah ia sambangi. Keahliannya bekerja di ketinggian ini tidak bisa dilakukan sembarang orang , karena selain mempunyai keberanian juga harus mempunyai tekhnik kerja yang baik. Oleh karena itu meski harus menantang bahaya setiap hari , namun karena sudah ahli kemanapun ia siap dipekerjakan.

” Ya karena memang ini keahlian saya kemanapun bos saya mengajak bekerja yang manut saja sama bos. Kalau namanya bekerja saya sudah kerja pasang kubah masjid dan musholla di mana-mana hampir seluruh Indonesia pernah saya datangi ”, ujar Djasri pekerja Kafa Art Kudus yang bergerak dalam pembuatan kubah ketika ditemui ketika memasang kubah panel masjid ” Baitul Makmur ” desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak.

Pada awalnya Djasri mengaku bekerja memasang kubah diketinggian merupakan pekerjaan yang sangat berat , sehingga ketika awal bekerja badan ini rasa bergetar dan keringat dingin keluar. Namun setelah beberapa hari bekerja getaran di dadanya itu lama kelamaan hilang, apalagi dalam bekerja keamanaan untuk pekerja di perhatikan misalnya memakai tali pengaman yang kuat juga menghilangkan pandangan bawah dengan tutup. 

Sehingga meski bekerja diketinggian ia merasa enjoy dan kuat bertahan lama dan dibawa kemanapun oleh sang bos ia siap menjalankan tugas. Selain memasang besi-besi rangka kubah tugas yang dilakukan adalah memasang plafond kubah dari bahan galfanil dan juga memasang panel kubah dari bermacam-macam bahan.



” Ya yang namanya pekerja kita harus siap di tempatkan dibagian mana saja asal kita mampu, pada tahap awal pekerjaan biasanya memasang rangka dari bawah sampai ke atas , selanjutnya plafon dan terakhir pasang panel . Ya yang namanya bekerja ya berat Mas ”, ujar Djasri lagi.

Djasri mengakui ketrampilannya bekerja di ketinggian ini sudah diajarkan kepada dua anaknya dengan cara mengajaknya membantu bekerja . Kelihatannya mereka berdua tertarik pada pekerjaan yang membutuhkan tantangan dan keberanian ini yang setiap orang belum tentu bisa. Selain itu hasilnya telah membuktikan bahwa bekerja di ketinggian ini hasilnya bisa diandalkan untuk menafkahi keluarga .

 Oleh karena itu daripada sulit-sulit cari pekerjaan baru,bekerja di ketinggian meski banyak resiko asal hati-hati bisa di harapkan untuk menafkahi keluarga yang jika dihitung juga lumayan hasilnya.

Dilihat dari kejauhan

” Ya penghasilannya lumayan bisa untuk membiayai keluarga dan menyekolahkan anak-anak , bahkan dua anak sayapun sudah mempunyai ketrampilan seperti saya meski menantang bahaya namun mereka tidak takut seperti ayahnya ”, ujar Djasri menutup sua.(FM)

Jembatan Bungo Demak Lokasi Memancing Yang Mengasyikkan


 "Pemancing berjajar rapi di jembatan"


Demak - Salah satu tempat favorit untuk memancing ikan di seputaran Jepara , Kudus dan Demak adalah jembatan Bungo yang dibawahnya mengalir sungai Wulan yang dikenal cukup deras alirannya. Jembatan ini yang terletak di desa Bungo kecamatan Wedung kabupaten Demak ini bagi penggemar olah raga memancing bukan tempat asing lagi , karena setiap hari puluhan orang memanfaatkan tempat ini untuk melampiaskan hoby memancing mereka . 

Puncaknya jika hari Minggu atau liburan tempat ini penuh dengan pemancing yang datang dari berbagai penjuru daerah Kudus , Jepara dan Demak . Mereka biasa datang 3 – 4 orang dengan membawa peralatan memancing dan juga umpan berupa udang hidup yang dibeli dari kiri kanan jembatatan.

” Saya bisa dipastikan memancing disini seminggu sekali , jika tidak ada pekerjaan bisa dua kali seminggu habis gimana udah hobi . Selain itu dalam setiap memancing saya dipastikan bisa membawa pulang ikan jadi ya ketagihan terus ”, ujar Ngadono (45) pemancing dari Welahan Jepara 

Ngadono yang siang itu ditemani 5 rekannya yang mempunyai hobny sama mengatakan , meskipun hasil memancing dengan biaya operasional memancing kadang lebih banyak biaya operasionalnya namun setiap kali mereka pasti berangkat memancing . 

Padahal selain meluangkan waktu mereka juga mengeluarkan biaya untuk membeli umpan berupa udang hidup, bensin atau ongkos transportasi dan juga untuk biaya makan satu hari . Namun hal itu bagi mereka bukanlah menjadi halangan , karena menurut mereka dengan memancing ikan bisa menghilangkan stres apalagi jika pulang membawa ikan besar hati ini rasanya gembira bukan kepalang.

Jembatan Bungo lama tempat

” Seperti beberapa bulan yang lalu di tempat ini pernah ada pemancing yang mendapatkan ikan kakap dengan berat hampir 20 Kg , hari selanjutnya pemancing datang kesini secara berduyun-duyun sehingga jembatan ini penuh dengan manusia ”, tambah Ngadono yang setiap mancing pasti pulang membawa ikan.

Namun demikian ada yang disayangkan oleh para pemancing yang mengkal di jembatan Bungo ini yaitu kurang bersihnya kondisi air di sungai Wulan yang diakibatkan oleh limbah pabrik . 

Pada saat-saat tertentu kondisi air jadi keruh sehingga ikan-ikanpun lari ke laut lagi , bahkan kadang kala ikan-ikan ditemukan para pemancing sudah dalam keadaan mati mengambang. 

Oleh karena itu mereka berharap kondisi air di sungai Wulan ini dapat bersih terus , dan pengelola pabrik di daerah Kudus tidak membuang limbahnya ke sungai Wulan. Dengan kondisi sungai yang bersih itu ikan-ikan besar akan datang ke sungai , sehingga para pemancing dapat mendapatkan ikan yang besar sebagai jerih payahnya memancing sehari.

” Bagi teman-teman yang punya hobi mancing dan bertempat tinggal disekitar Demak bisa coba mancing di jembatan Bungo ini , kita tanggung puas ”, ujar bang Kliwir teman Ngadono. (FM)



Sabtu, 26 Oktober 2013

Ahmad Shoim, Sumbangkan Tenaganya Jadi Kader Penggerak Masyarakat Desa

Kliping Berita FORMASS  ,30 Desember 2011
Ahmad Shoim KPMD Desa Babalan
Bagi Ahmad Shoib (36) warga desa Babalan kecamatan Wedung Kabupaten Demak hidup harus berbagi dengan yang lainnya. Oleh karena itu selama lebih 10 tahun ini meski dia tidak punya jabatan penting di desa namun kiprahnya dalam pemberdayaan desa patut diacungi jempol. Dimulai menjadi kader karangtaruna dia mulai urun rembug dan urun tenaga dalam rangka kemajuan di desa. Di dalam organisasi remaja desa itu dia menghidupkan pemikiran teman-temannya untuk peduli pada kemajuan desa pesisir ini.

Setelah berkecimpung dalam organisasi karang taruna mulailah ia berkiprah di lembaga desa LKMD sebagai mitra kerja Kepala Desa dalam rangka melaksanakan berbagai proyek pembangunan dan kegiatan pemberdayaan di desanya. Setelah datangnya era PPK dan PNPM iapun tidak ketinggalan beberapa posisi telah di tempatinya misalnya sebagai FD, TPK dan yang terakhir ini dia aktif sebagai KPMD ( Kader Penggerak Masyarakat Desa). Dalam posisi ini dia bertindak sebagai fasilitator desa yang memfasilitasi masyarakat desa dalam rangka pelaksanaan kegiatan PNPM. Mulai dari Musrenbang , kegiatan pengusulan , pembuatan proposal sampai dengan pelaksanaan kegiataan.

“ Kegiatan kami yang terakhir ini adalah menyelesaikan program PNPM 2011 pasca krisis dengan anggaran 42 juta yang dialokasikan untuk betonisasi jalan. Selain itu masih ada yang lainnya karena kami berkecimpung dalam kegiatan PPK dan PNPM hampir 10 tahunam “ aku Ahmad Shoib pada wartademak Jum’at (30/12/2011).

Ahmad Shoib mengemukakan desa Babalan yang terletak dipesisir , masih membutuhkan pemberdayaan diberbagai sector . Untuk pembangunan fisik utamanya jalan masih ada puluhan titik yang harus dibenahi. Selain  masih berujud macadam dan tanah liat juga sangat rendah posisinya sehingga jika air pasang tiba jalan tersebut tergenang air . Jembatan-jembatan kecil penghubung antar kampung juga masih sangat diperlukan , sehingga program PNPM bagi warga desa cukup membantu.

“ Selain masalah jalan dan jembatan , yang terpenting lagi adalah kebutuhan air bersih . Saat ini warga desa kami jika musim kemarau sangat membutuhkan air bersih . Kebutuhan mereka masih dipenuhi dari membeli air dari para penjaja air. Kami mengharapkan desa kami ada sambunga pipa PDAM “, harap Ahmad Shoib.

Ketika di tanya apa motivasi menjadi kader KPMD ?  Ahmad Shoib mengatakan , sebagai manusia harus berguna pada yang lainnya. Oleh karena itu meski tidak mendapatkan honor yang layak jika dibutuhkan ia tetap akan membantu desa sebagai tenaga KPMD. Namun demikian dia mengharapkan kesungguhan dia dalam rangka ikut memberdayakan masyarakat desa itu didukung sepenuhnya oleh aparat pemerintah desa.
Saat ini dia menganggap aparat pemerintah desanya masih kurang maksimal dalam rangka memberdayakan masyarakat , pelayanan kepada masyarakat masih jauh dari harapan. 


Diantaranya dalam hal anggaran dalam rangka pemberdayaan masyarakat masih kurang , sehingga dia kesulitan dalam menggerakkan masyarakat peduli terhadap kemajuan desa.Padahal aparat desa tersebut notabenenya adalah pegawai yang mendapatkan bayaran berupa tanah bengkok yang bisa digarap atau diuangkan.

“ Meski banyak tomboknya namun sebagai tenaga KPMD banyak manfaatnya bagi saya karena mendapatkan banyak pengalaman dari pelatihan-pelatihan yang saya ikuti. Yang terakhir adalah pelatihan BUMDes”, papar Ahmad Shoib menutup sua.(Fatkhul Muin)