Tampilkan postingan dengan label Nelayan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nelayan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2021

KONDISI NELAYAN KEDUNGMUTIH DEMAK MUSIM PENGHUJAN EKSTREM TAK BISA MELAUT

 Demak – Nelayan di desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupataen Demak sudah hampi sebulan ini tidak bisa melaut. Ombak dan angin besar memaksa mereka berdiam diri di rumah . Bagi yang mempunyai simpanan uang atau barang  mereka bisa bertahan hidup tetap bisa belanja sehari hari. Bagi yang tidak mempunyai uang di rumah banyak yang ngutang di warung tetangga. Selain itu ada beberapa warga yang mencari sampah plastic dipinggir laut.

Untung ada program kelompok MAMPU yang beranggotakan ibu ibu yang mempunyai program membeli sampah plastic dari warga desa Kedungmutih. Warga yang mempunyai sampah plastic bisa menjual ke kelompok Mampu yang dimotori ibu Sriyati yang tinggal di RT 01 RW 03 desa Kedungmutih. Ibu Sriyati bekerjasama dengan LSM di Demak membeli sampah plastic untuk membersihkan desa dan pantai dari sampah plastic.


Jumat, 03 Oktober 2014

Gubernur Jawa Tengah Respon Pendirian SPDN Di Kedungmutih



Demak – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo merespon pendirian SPDN ( Solar Paket Dealer Nelayan ) di desa Kedungmutih. Orang nomor satu di Jawa Tengah mengatakan adanya SPDN itu nelayan bisa membeli Solar dengan cepat dan murah. Solar adalah bahan bakar yang sangat vital bagi nelayan sehingga ketersediaannya harus dipikirkan oleh pemerintah.

“ Ya kalau memang sudah ada pengajuan nanti kami tinjau, Kalau pemerintah kabupaten Demak tidak mau nanti kita alihkan ke provinsi. Atau bisa kita tangani bersama sama “, kata Ganjar di sela-sela kunjungan ke desa Kedungmutih.

Dengan jumlah nelayan yang cukup besar di sekitar desa Kedungmutih  . Pendirian SPDN ini menjadi hal yang cukup penting untuk ketersediaan bahan bakar. Namun fihaknya tidak ingin nantinya SPDN ini menjadi lahan keuntungan oleh para pengusaha atau fihak ketiga.

“ Ketika awal pendirian katanya untuk kepentingan nelayan , setelah SPDN berdiri justru tidak dinikmati oleh Nelayan. Namun para pengusaha yang mengambil keuntungan saya tidak  ingin hal ini terjadi. “, tegas Gubernur.

Oleh karena itu ia nantinya akan memfasilitasi sepenuhnya pendirian SPDN di kampung nelayan ini. Fihaknya akan mengumpulkan data dan juga berkoordinasi dengan instansi terkait berkaitan dengan pengajuanSPDN ini. Ia berharap segera berdiri SPDN di desa Kedungmutih yang merupakan desa nelayan.

Sementara itu Hamdan Kepala Desa Kedungmutih mengemukakan , pendirian SPDN untuk nelayan di desanya sudah hampir final. Namun dari informasi yang di dapatkan ada dua lembaga yang mengharapkan penanganan SPDN itu. Satu lembaga namanya Layantara dan satunya lagi Perusda kabupaten Demak.

“ Mestinya tahun 2014 ini sudah berdiri SPDN di desa Kedungmutih. Namun karena adanya tarik ulur antara Layantara dan Perusda Demak jadi terkatung-katung. Kami berharap Gubernur Ganjar Pranowo bisa menyelesaikan hal ini “, harap Hamdan. (Muin)



Haji Aman dan Lancar bersama KBIH " Al-Firdaus" Jepara hubungi di  085 290 375 959


Minggu, 25 Mei 2014

Nelayan Kedungkarang Operasikan “Dogol” Penangkap Teri

Nelayan desa Kedungkarang berangkat melaut
Demak – Nelayan desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak dulu hanya dikenal sebagai penangkap ikan ,udang dan Kepiting. Namun saat ini sudah mulai mengoperasikan alat tangkap jenis dogol. Dogol adalah sejenis jarring yang special untuk menangkap ikan teri.

Dulu yang dikenal sebagai jagonya penangkap ikan teri adalah nelayan dari desa Panggung dan Surodadi kecamatan Kedung kabupaten Jepara. Namun seiring dengan kebutuhan dan juga prospek yang bagus maka nelayan desa Kedungkarang juga mengoperasikan alat tangkap jenis dogol ini.

“ Ya gimana lagi , nelayan harus tanggap dengan suasana jika laut sedang ramai ikan teri ya dimanfaatkan untuk menangkap jenis ikan ini. Harganyapun lumayan alat tangkapnyapun mudah mencarinya “, ujar Masrukan Nelayan dari desa Kedungkarang pada FORMASS, Minggu (25/5).

Masrukan mengatakan alat tangkap jenis dogol ini pengoperasiannya sama dengan alat tangkap jarring atau arad. Namun dari segi tenaga alat dogol ini membutuhkan tenaga yang lebih banyak. Untuk jarring atau arad hanya membutuhkan maksimal tenaga nelayan 2 orang.

es batu perbekalan nelayan kedungkarang

“ Nah untuk alat tangkap jenis dogol ini satu perahu rata-rata membutuhkan tenaga nelayan minimal 8 orang. Sedangkan perahunya juga harus lebih besar “, tambah Masrukan.

Menurut Masrukan nelayan desa Kedungkarang mulai mengoperasikan alat tangkap teri jenis dogol ini sudah setahun yang lalu. Awalnya hanya beberapa perahu saja . Namun saat ini ada sepuluh perahu lebih yang mengoperasikan alat tangkap teri ini.

Sebelum berangkat nelayan yang hendak melaut harus mempersiapakan bekal untuk dirinya. Bekal  operasional penangkapan  seperti bahan bakar juga es batu dipersiapkan untuk pengawetan ikan teri. Alat tangkappun dipersiapkan sebaik-baiknya.

“ Ya kalau sedang ramai satu perahu bisa dapat borongan Rp 2 – 3 Juta. Namun jika suasana laut sedang sepi ya Rp 1 juta dapat “, aku Masrukan.

Tidak setiap nelayan mempunyai perahu sendiri. Maka si pemilik perahu merupakan juragan dari nelayan yang lainnya. Oleh karena itu pembagian pendapatan dilakukan secara adil merata. Si pemilik perahu yang ikut dalam penangkapan mendapat bagian tersendiri sedangkan perahu mendapatkan 2 bagian.

“ Ya inginnya sih punya perahu sendiri namun karena kondisi ya terpaksa ikut njurag . Lumayan sehari jika ramai bisa mendapatkan Rp 200 ribu –Rp 300 ribu. Jika kondisi sepi ya Rp 100 ribu dapat “, kata Wandi teman Masrukan yang ikut berangkat melaut. (Muin)

Rabu, 26 Maret 2014

PIP Semarang Berikan Penyuluhan Pelayaran Untuk Nelayan

Capt. Suwiyadi berikan kenang-kenangan pada Hamdan Kades Kedungmutih

Demak -  Bertempat di Balai desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak  Kamis, (27/3) berlangsung Penyuluhan Keselamatan Pelayaran dan juga kesehatan bagi nelayan. Penyuluhan yang diadakan oleh Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang (PIP)  ini diikuti 75 nelayan warga desa Kedungmutih.

Dr. Capt. Suwiyadi, S.Mat, M Mar, MPd selaku Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat mewakili Direktur PIP mengatakan, acara penyuluhan untuk nelayan tersebut bertujuan agar nelayan yang melaut menangkap ikan selamat dan sehat dalam bekerja. Selain itu lingkungan laut juga terjaga kelestariannya.

Dikatakan , sering terjadi kecelakaan nelayan dilaut karena kurangnya ilmu pengetahuan dalam berlayar. Misalnya persiapan mesin perahu , kondisi perahu dan perbekalan yang lainnya.

Penyuluhan ini juga diharapkan para nelayan akan lebih trampil dalam berlayar sehingga selamat badannya  perahunya dan juga lingkungan. Tidak hanya badannya yang sehat , namun perahu dan mesin awet serta tidak menyebabkan polusi laut.


Suasana Penyuluhan nelayan dari PIP Semarang


“ Dalam pelatihan ini selain Persiapan berlayar , kami juga berikan penyuluhan mengenai perbaikan mesin kapal atau perahu. Sehingga para nelayan bisa mengatasi kerusakan mesin perahu dengan cepat”, kata Capt Suwiyadi pada demakpos.

Selain itu acara penyuluhan ini  juga sebagai ajang pengenalan Politeknik Ilmu Pelayaran untuk para nelayan. Diharapkan putra atau putri  nelayan yang ada di Demak bisa belajar di PIP ini. Sehingga nantinya mejadi tenaga pelayaran yang profesional.

“ Kita berharap putra-putri nelayan dari Kedungmutih ini ada yang meneruskan pendidikan di PIP Semarang. Agar kelak menjadi pelaut yang handal “, tambahnya.
Hamdan Kepala Desa Kedungmutih mengatakan acara penyuluhan untuk nelayan dari PIP Semarang diapresiasikan oleh nelayan Kedungmutih cukup positif. Oleh karena itu nelayan  yang datang ke balai desa melebihi kuota yang disediakan.

Oleh karena itu dia selaku pemerintahan desa Kedungmutih mengucapkan terima kasih pada PIP . Dengan adanya penyuluhan tersebut diharapkan para nelayan lebih profesional dalam berlayar. Selain itu juga kemanan dan kesehatan para nelayan terjaga dengan baik.

“ Harapan saya ke depan ada lagi putra nelayan yang belajar di PIP ini. Saat ini ada satu taruna dari desa Kedungmutih yang belajar di sana”, kata Hamdan.

Menurut Hamdan  Amirul adalah salah satu taruna PIP yang berasal dari desa Kedungmutih. Dia adalah anak seorang nelayan dari RT 07 RW 03 . Saat ini sedang menempuh ujian akhir. Ke depan diharapkan ada lagi taruna atau Taruni PIP yang berasal dari desa Kedungmutih kecamatan Wedung Kabupaten Demak. (Muin)




Sabtu, 22 Maret 2014

Separoh Lebih Perahu Kedungmutih belum BerPas



Demak - Desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak merupakan salah satu desa nelayan di kabupaten Demak. Menurut data yang ada desa jumlah nelayan di Kedungmutih lebih dari 400 orang. Mereka menggunakan berbagai jenis perahu dari perahu kecil sampai berukuran sedang.

 Setiap hari mereka menangkap ikan di perairan sekitar Demak dan  Jepara . Namun pada waktu-waktu tertentu mereka sado mencari ikan hingga ke Tayu, Semarang dan Batang.

“ Bahkan ada beberapa nelayan dengan perahunya dibawa ke daerah lampung untuk menangkap ikan di sana “, papar Hamdan (56) Kepala Desa Kedungmutih.

Jumlah perahu nelayan yang berukuran kecil dan sedang ada sekitar 300an perahu. Namun dari jumlah tersebut yang mempunyai surat PAS kurang dari separohnya. Hal ini disebabkan kurangnya  informasi tentang manfaat kartu PAS perahu tersebut.

Selain itu mereka juga kurang informasi bagaimana pengurusan PAS perahu. Oleh karena itu usai sosialisasi PAS perahu yang diselenggarakan kantor Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi . Diharapkan semua perahu yang belum mempunyai Pas segera dibuatkan.

“ Tentunya acara sosialisasi ini cukup bermanfaat . Kami sebenarnya hanya mengundang 50 nelayan namun yang hadir sekitar 70 orang. Ini menunjukkan  nelayan cukup antusias “, kata Hamdan.

Sementara Sabarudin yang sudah mengantongi kartu Pas perahu mengemukakan imbal balik dari fungsi kartu pas perahu tersebut. Dia mengharapkan pemerintah memberikan fasilitas keamanan dilaut agar nelayan aman dan nyaman dalam menangkap ikan .

“ Contohnya di laut yang dangkal perlu adanya mercusuar agar nelayan tidak terjebak di dalamnya. Sampai saat ini belum ada fasilitas tersebut”, kata Sabar.

Selain itu Sabar juga menyinggung tentang asuransi kecelakaan bagi nelayan yang meninggal di laut. Sampai saat ini nelayan di desanya belum ada santunan nelayan yang meninggal karena kecelakaan dilaut. Jika ada     nelayan yang meninggal tidak ada santunan dari fihak manapun.

Dia mengharapkan nelayan yang menangkap ikan dilaut jika mengalami kecelakaan sampai meninggal . Keluarganya mendapatkan santunan yang bisa digunakan untuk meringankan beban. Untuk bentuknya bisa asuransi atau yang lainnya.


“ Saya selama menjadi nelayan di desa Kedungmutih kelihatannya belum ada program santunan atau asuransi untuk nelayan yang meningal di laut “, kata Sabar. (Muin)

Rabu, 27 November 2013

Ini Dia Wanita Demak Lulusan SD Berantas Kemiskinan di Desa Kumuh Nelayan

Masnu'ah

AyoGitaBisa.com - Berpendidikan rendah dengan akses terbatas membuat Masnu'ah tak pernah berani memimpikan hal besar. Namun, kegelisahannya memuncak karena menyaksikan kemiskinan dan belenggu budaya partiarki di desanya dan membulatkan tekad untuk mengubah para perempuan Dusun Moro, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

"Saya sangat paham kondisinya karena hidup di sini dan mengalaminya juga. Para istri nelayan hidup susah dan sering menjadi korban kekerasan suami, diperlakukan seenaknya seperti barang," ujar perempuan yang hanya mengenyam pendidikan SD ini beberapa waktu lalu.

Kesempatan datang akhir tahun 2005. Melalui koperasi beras hasil iuran swadaya seribu rupiah dan jimpitan beras, ia membentuk kelompok Puspita Bahari. Kelompok ini lahir semata untuk membantu mendorong peningkatan ekonomi keluarga nelayan.

"Modal awal satu juta rupiah untuk membeli beras, tapi bangkrut. Tidak mudah mengajak mereka karena suami tidak mengizinkan keluar rumah. Saya tidak dipercaya, jadi harus aksi," katanya.

Tak menyerah, meski sering menuai jalan buntu. Kemiskinan yang mendera keluarga nelayan yang menempatkan perempuan dalam posisi marjinal justru memicunya. Mas'nuah pun tergerak mengajak istri nelayan membuat produk olahan seperti kerupuk, keripik, dan abon berbahan baku ikan murah. Juga merangkul para suami dengan menjadi mediator bantuan tiga kapal untuk melaut dari Dompet Dhuafa yang disalurkan lewat LBH Layar Nusantara dan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), dan bergabung dalam forum masyarakat peduli lingkungan lewat Program Peduli Penghijauan Mangrove.

"Selama ini banyak ikan terbuang sia-sia diolah dan dijajakan ke pasar, koperasi, warung. Selain itu juga mengelola sampah untuk mengurangi kekumuhan desa nelayan," jelas perempuan yang keberhasilannya ini diganjar penghargaan Kusala Swadaya sebagai kelompok perempuan nelayan yang berhasil mengatasi kekumuhan di perkampungan nelayan.

Tekadnya bulat, ia bahkan rela berkeliling desa mengajak warga menekan budaya konsumtif dengan menabung dengan datangi tiap rumah untuk mengambil tabungan. "Seribu hingga lima ribu per minggu. Harus mengalah," ujar perempuan yang memiliki 100 nasabah ini.

Tak hanya peningkatan kesejahteraan, Masnu'ah juga memberdayakan kesetaraan gender, penyuluhan kesehatan reproduksi, HIV AIDS, dan KDRT yang menjadi masalah krusial di desanya.

Tapi jalan berliku tetap dihadapi, termasuk ketika mendapat ancaman dan kecaman dari warga, keluarga dan bahkan suaminya sendiri. "Saya pernah diancam ketika mendampingi istri nelayan korban KDRT ke pengadilan. Berat dan sulit karena tidak ada dukungan, bahkan dari suami," kenang istri Su'udi ini.

Kini, Mas'nuah bisa tersenyum. Dusun Moro, Demak berubah lebih baik dan tertata. Keinginan mengajak para perempuan nelayan menjadi agen perubahan membuahkan hasil. "Meski ada saja yang tidak percaya dan mengawasi. Bahkan mengolok-olok dan melecehkan. Yang penting tujuan benar dan bisa membantu seseorang," yakinnya.

Mas'nuah juga membuat jaringan dan persaudaraan nelayan se-Indonesia untuk membantu menangani permasalahan nelayan dan studi banding untuk perempuan nelayan di Aceh, Sumatera, Tuban."Selain di Bau-Bau, kami juga membebaskan nelayan Rembang yang disandera di Sumatera. Dan membantu ABK nelayan Jateng yang berada di Balikpapan," kata Masnu'ah lagi.

Atas usahanya itu, Masnu'ah menjadi satu-satunya perempuan Indonesia yang menerima penghargaan Honouring 100 Women to Mark 100 Years of Womens Resistence for Rights, Empowerment and Liberation dari Asian Rural Womens Coalition (ARWC) atas kontribusinya memperjuangkan hak-hak dan kepentingan perempuan pedesaan di Asia, dan dipilih mengikuti pelatihan pemberdayaan untuk masyarakat pesisir di Bangkok. "Itu sangat luar biasa dan membanggakan," tukasnya sambil tersenyum.

13 lebih perjuangannya dirasa belum cukup karena masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk perbaikan masyarakat wilayah pesisir. Semangatnya menular kepada Mohamad Vicky Alansyah (18), anak semata wayangnya yang kini menjadi bagian dari 11 anak miskin berprestasi yang mendapat beasiswa dari Universitas Internasional Batam. "Sekarang saya berani mimpi dan ingin anak menjadi orang hebat seperti orang yang saya temui," ucapnya.
[yac]

Kamis, 31 Oktober 2013

Sobirin Harapkan Dana Perbaikan Rumah Nelayan



Sobirin di depan rumahnya

Demak - Sobirin nelayan warga desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak mengaku kecewa berat karena tak menerima dana pemugaran rumah nelayan. Tetangga kanan kiri  telah menerima bantuan itu sehingga bisa dipergunakan untuk memperbaiki rumahnya. Dia kini hanya duduk termenung dan berdo’a agar tahun depan gilirannya mendapatkan bantuan untuk memperbaiki rumahnya.

“ Ya dari cerita tetangga ada yang menerima Rp 6 juta tetapi ada juga yang menerima 11 juta rupiah tergantung dari kondisi rumah yang diajukan. Tahun ini saya terlewati padahal kondisi rumah saya juga masih perlu perhatian”, kata Sobirin pada Warta Demak yang menyambangi rumahnya Selasa (5/2)

Sobirin mengatakan , ketika ada pendaftaran dia sedang opname dirumah sakit karena penyakit kanker ganas di lengan tangannya. Sehingga hampir satu tahun dia tidak bekerja dalam rangka mengobati penyakitnya itu. Akhirnya dokter memutuskan untuk mengamputasi lengan kanan sampai pangkalnya. Setelah itu juga melakukan kemoterapi beberapa kali yang mengharuskan bolak-balik ke rumah sakit Kariadi Semarang.

“ Nah kebetulan ada persyaratan KTP dan juga KK untuk pengajuan bantuan bedah rumah nelayan itu. Karena saya harus focus untuk menyembuhkan penyakit kanker semua berkas semua ada di semarang karena setiap waktu dibutuhkan.  Jadilah saya tertinggal tidak mendapatkan bantuan bedah rumah itu”, tambah Sobirin.

Dengan kondisi fisik yang lemah karena tangan hilang satu itulah niatnya untuk memperbaiki rumah tidak kesampaian lagi. Semua hartanya dari perahu, mesin sampai alat tangkap dijual untuk membiayai penyembuhan kanker selama hampir satu tahun. Dengan adanya program bantuan itu dia sangat mengharapkan agar pada tahun depan gilirannya dia mendapatkan dana tersebut untuk memperbaiki rumahnya.

Kepala Desa Kedungmutih Hamdan yang dikonfirmasi membenarkan bahwa nelayan warga desanya masih banyak yang tersentuh dana bedah rumah. Oleh karena itu fihaknya telah mengajukan kembali pada program yang sama untuk nelayan yang belum mendapatkan. Bahkan dia berinisiatif tidak hanya rumah nelayan yang diajukan.

Siapapun warga desanya yang kondisi rumahnya masih memprihatinkan akan diajukan dana perbaikan lewat dinas instansi terkait. Dengan bekerja sama dengan Ketua RT dan RW fihaknyakini  mendata sekaligus mengambil gambar pada rumah-rumah yang kurang layak huni. Selanjutnya dibuatkan proposal yang ditujukan pada dinas yang terkait.

“ Untuk yang nelayan ya ke Dinas Perikanan , Yang jompo miskin ya Ke dinas Sosial , dan ke kantor dinas lainnya. Pokoknya warga kami bisa  merasakan bantuan bedah rumah “ tukas Hamdan. (Muin)

Selasa, 16 Juli 2013

Pelumas Bekaspun Membawa Rejeki Bagi Hudi

Pak Hudi tunjukkan Oli bekas

Bagi sebagian orang pelumas bekas pakai atau oli blothong adalah barang yang tak berguna , namun bagi Hudi ( 55 ) warga desa Kedungmalang kecamatan Kedung kabupaten Jepara merupakan barang yang berharga.

Dari usaha mengumpulkan oli blothong ini dia mampu menghasilkan pemasukan tambahan yang lumayan bagi keluarganya. Setiap hari ia mendatangi bengke-bengkel sepeda motor yang menjadi langganannya , dengan mengunakan sepeda motor  dan peralatan pompa minyak iapun mengisi jrigen yang dibawanya dengan olie bekas pakai.

Sekali datang ia membawa 4 – 5 jrigen yang setiap jrigennya berisi oli 25 literan, sehari ia kadang bisa balik lagi jika simpanan oli blotong dipenampungan masih banyak.

” Bagi orang biasa oli blothong ini tidak ada artinya , namun bagi saya itu merupakan rejeki karena satu jrigen seperti ini saya bisa menjual kepada bakul Rp 80 ribu  dan saya bayar pada bengkel disini Rp 50 ribu ”   ujar Hudi yang ditemui di salah satu bengkel sepeda motor resmi di Pecangaan Jepara.

Hudi yang pekerjaan utamnya sebagai nelayan menuturkan , dulu sebelum harga Solar melambung tinggi oli bekas bukan barang yang istimewa karena semua mesin perahu masih menggunakan solar sebagai bahan bakar.

Namun ketika solar melambung tinggi para nelayan banyak yang beralih bahan bakar dari solar ke minyak tanah yang lebih murah , namun agar pemanasan lebih bagus maka dicampurlah dengan oli bekas.

Mulai saat itulah ia berburu oli bekas sebagai bahan campuran minyak tanah untuk bahan bakar mesin perahunya dan juga teman-temannya. Melihat olie bekas membawa rejeki , beberapa orang tetangga desa mencoba membuka usaha seperti dirinya.

Namun ia beruntung meskipun beberapa bengkel yang menjadi langganannya didatangi dengan membayar lebih namun mereka tetap mempercayakan kepadanya.

Sehingga mereka mencari bengkel yang lebih jauh sehingga ongkos operasionalnya lebih tinggi dari dirinya , selain itu  stok merekapun tidak begitu banyak seperti dirinya.

Oleh karena itu dikawasan pesisir Demak dan Jepara ia yang dikenal orang sebagai pemasok oli bekas , meskipun saat ini sudah banyak yang terjun berbisnis olie bekas seperti dirinya. (Muin)


Haji yaman Bersama KBIH " Jabal Nur " Bandengan Jepara 
 Nama Kelompok : “ Jabal Nur “
Alamat                    :   Ds. Bandengan Kec. Kota Jepara
Pengasuh              : Ustad H. Abdullah Uzair
Telp                         : 081 393 577