Tampilkan postingan dengan label banjir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label banjir. Tampilkan semua postingan
Selasa, 30 Desember 2014
Rabu, 19 Februari 2014
Hamdan : Ucapkan Terima Kasih Usai Banjir Pantura
Demak – Berkaitan dengan dengan masuknya puluhan
warga desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak di berbagai Rumah Sakit
di Jepara, Kudus dan Demak usai banjir pantura.
Hamdan (55) Kepala desa Kedungmutih mengucapkan
terima kasih kepada semua fihak. Utamanya pengelola Rumah Sakit yang telah
merawat warganya dengan baik hingga sembuh dan pulang kembali ke rumah
masing-masing.
“ Meski kami masuk wilayah Demak , namun karena
lokasi yang jauh dari Demak maka warga kami usai banjir di rawat di rumah sakit
luar Demak “, ujar Hamdan pada FORMASS , Rabu (19/2).
Hamdan mengatakan warganya yang jatuh sakit dan
harus di rawat di rumah sakit dan Puskesmas berjumlah puluhan orang. Mereka di
rawat di RSU “ Kartini Jepara “ , RS “Graha Husada” Jepara, RSI “ Sultan
Hadirin “ Jepara, RS “Kumala Siwi “ Pecangaan dan Kudus . Selain itu ada juga
yang di rawat di Puskesmas Mutih Kulon Demak, Puskesmas Bakalan Jepara dan PKU
Mohammadiyah Mayong .
“ Selaku Pemerintahan desa Kedungmutih saya
mengucapkan terima kasih atas pelayanan yang telah diberikan kepada warga kami.
Mereka yang di rawat hampir semuanya adalah peserta Jamkesmas karena mereka
dari keluarga miskin”, tambah Hamdan.
Sampai saat ini warga desa Kedungmutih setiap
harinya masih ada satu atau dua pasien yang harus di bawa ke rumah sakit karena
berbagai penyakit usai banjir. Oleh karena itu setiap hari fihaknya terus
memantau perkembangan warganya yang di rujuk ke rumah sakit. Terutama bila ada
warga yang sakit secepatnya harus di bawa ke Puskesmas atau rumah sakit.
“ Kami tidak ingin mereka terlambat penanganan yang
berakibat pada kematian. Karena pada bulan ini jumlah orang meninggal termasuk
tinggi akibat banjir kemarin”. Kata Hamdan lagi.
Berkaitan dengan bantuan yang telah didapatkan
,menurutnya jumlahnya tidak begitu banyak . Bantuan datang dari ormas dan masyarakat berupa Sarimi, Roti
kering dan Beras. Sedangkan dari pemerintah daerah meskipun dia sudah bertemu
dengan Bupati Demak namun sampai saat ini belum ada bukti riil.
“ Untuk bantuan dari pemerintah kami belum
mendapatkan , padahal data kerugian dari banjir sudah kami kirimkan . namun
sampai saat ini belum ada bantuan dari pemerintah yang turun “, papar Hamdan.
Harapannya pemerintah menurunkan bantuan selain
fisik berupa pembangunan tanggul juga bantuan lain untuk ,meringankan beban
warga yang telah terkena dampak banjir pantura. Selain pemukiman yang terendam
air harta benda mereka berupa garam dan ikan ludes tersapu banjir . (Muin)
Minggu, 16 Februari 2014
Kerugian Banjir di Demak Capai Rp 161 Miliar
![]() |
banjir Demak ( dok : formass) |
DEMAK, suaramerdeka.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak memperkirakan kerugian material akibat banjir di empat kecamatan mencapai Rp 161.760.437.800.
Kerusakan dan kerugian terbesar dialami sektor pemukimaan dan ekonomi warga terdampak banjir di Kecamatan Mijen, Wedung, Karanganyar dan Sayung.
Plt Sekda Demak, Singgih Setyono menyatakan data kerugian dan kerusakan akibat banjir ini nantinya dijadikan dasar dalam menyusun langkah strategis pemulihan paska bencana.
Hanya saja, pihaknya tidak akan gegabah menyatakan puso pada areal pertanian yang rusak akibat tergenang banjir.
‘’Bantuan logistik masih mengalir. Tapi, sesuai arahan Menteri Pertanian bahwa lahan pertanian tidak tergesa-gesa dinyatakan puso,’’ ujarnya, Senin (10/2).
Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Demak, Bambang Saptoro, mengatakan data rekapitulasi kerusakan dan kerugian akibat banjir ini diharapkan bisa mendorong alokasi bantuan baik yang disalurkan pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten.
Bantuan tersebut nantinya bisa mempercepat pemulihan kondisi infrastruktur maupun sektor ekonomi yang rusak pascabanjir. Meski begitu, pemulihan kondisi pascabanjir ini tidak bisa dilakukan satu sektor instansi saja.
Dengan data ini, ia berharap bupati bisa berkoordinasi dengan gubernur untuk memetakan sektor apa saja yang nantinya bisa dimintakan bantuan dari pusat.
Sejauh ini, penanganan darurat 16 titik tanggul kritis sudah disetujui akan dilakukan tahun ini oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana. Penguatan tanggul kritis diharapkan juga diikuti dengan pengeerukan sedimen dan normalisasi sungai.
‘’Sedimentasi sungai-sungai besar di Demak sudah sedemikian tinggi, seperti Sungai Pelayaran. Debit volume sungai itu sempat naik dan melimpas hingga badan jalan pantura,’’ imbuhnya.
Sementara itu, Kasi Rekonstruksi BPBD Demak, Agus Budiyono menambahkan, banjir selama tiga minggu telah merendam 44 desa di empat kecamatan.
Dengan rincian 17 desa di Kecamatan Sayung, 16 desa di Kecamatan Wedung, sembilan desa di Kecamatan Mijen dan dua desa di Kecamatan Karanganyar.
( Hartatik / CN37 / SMNetwork ) Senin, 10 Februari 2014
Banjir Kedungmutih , Lagi, 7 Warga Demak Positif Demam Berdarah
TRIBUNJATENG.COM, DEMAK- Kemarin tercatat sudah 28 warga terjangkit demam berdarah dan 3 diantaranya meninggal dunia. Kini, ada lagi tambah 7 warga Kedungmutih, Kecamatan Wedung, Demak positif demam berdarah.
Kepala Desa Kedungmutih, Hamdan mengatakan, warga yang dirawat di RS bertambah 7 orang. Saat ini masih banyak warga yang rawat jalan di klinik dokter maupun di Puskesmas.
Desa Kedungmutih Kecamatan Wedung yang terletak di tepi pantai dan berbatasan dengan Kabupaten Jepara tersebut dilanda banjir selama dua minggu lebih. Hamdan mengatakan lebih lanjut, saat ini warga yang sakit sedang dalam penanganan dan pantauan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Demak dan Puskesmas Wedung II.
"Sudah sejak Sabtu (8/2/2014) ada bantuan fogging di rumah warga oleh Dinas Kesehatan untuk mengurangi berkembang biak nyamuk," terang Hamdan, Minggu (9/2/2014) siang. (*)
Laporan Tribun Jateng, Alfi M Muhamad
TRIBUNJATENG.COM, DEMAK- Sebanyak 28 warga Desa Kedung Putih, Wedung menderita demam berdarah disinyalir karena dampak banjir yang melanda daerah di Demak tersebut.
Kepala Desa Kedungmutih, Hamdan, mencatat sebanyak 28 warganya menderita demam berdarah dan sebagian besar sudah dirawat di RS wilayah Kudus dan Jepara. Tiga diantarannya sudah dinyatakan meninggal. Satu orang meninggal saat dirawat di RSUD Kartini Jepara dan dua lainnya meninggal sebelum dibawa ke rumah sakit
"Ada 28 warga yang sakit demam berdarah. Ada 3 warga yang sudah meninggal akibat penyakit tersebut yaitu warga Rt 02 RW 02, Ibu Salami (50) meninggal dunia setelah dirawat di RSUD Kartini. Sedangkan dua warga lainnya meninggal sebelum dibawa ke RS yaitu warga RT 08 Rw 01 Bapak Kundori (78) dan Bapak Matori (84) keduanya warga RT 8 RW 1," ujar Hamdan saat dihubungi Tribun Jateng, Jumat (7/2/2014) siang.
Selain warga yang dirawat di RS Hamdan mengatakan ada ratusan warga yang sakit tapi dilakukan rawat jalan di klinik dokter setempat dan Puskesmas Wedung yang ada di Desa Mutihkulon.
"Ini kali pertama kejadian wabah demam berdarah menimpa warga kami. Dari hasil pemeriksaan puskesmas total 77 persen dari 44 KK terjangkit demam berdarah kami menggratiskan pengobatan untuk penanganan darurat," lanjutnya.
Desa Kedungmutih terkena dampak luapan Sungai Serang selama hampir dua minggu. Para warga tidak bisa beraktifitas hanya tinggal di pengungsian dan ada yang memilih bertahan.
"Kami ingin dari Pemerintah daerah memberikan bantuan fogging dan memberi obat kaporit untuk sumur warga agar nyamuk tidak berkembangbiak di genangan-genangan air. Penyakit tak hanya demam berdarah, warga juga ada yang menderita diare dan kencing tikus," tandas Hamdan. (*)
Banjir Kedungmutih Demak, Puluhan Warga Masih Di Rawat
Demak - Banjir yang yang melanda desa Kedungmutih kecamatan
Wedung kabupaten Demak akhir Januari tahun ini masih menyisakan duka lara bagi
ratusan warga. Selain harta benda yang terkurang habis nyawa juga terancam
karena terserang berbagai penyakit pasca banjir.
“ Saat ini warga kami yang masih berada di rumah
sakit sekitar 32 orang . Mereka tersebar di berbagai RS dan Puskesmas di Jepara
, Demak dan Kudus “, kata Hamdan Kepala Desa Kedungmutih Minggu (9/2).
Sedangkan yang positif meninggal dunia dalam kasus
pasca banjir ini ada 3 orang . Masing-masing Kondori (76), Matori (84) dan
Sawami (50). Untuk Kondori dan Matori mereka meninggal dunia di rumah
masing-masing. Sedangka Sawami meninggal di Rumah Sakit “ RA Kartini “ Jepara.
Dengan adanya musibah yang terjadi pasca banjir
Hamdan mengharapkan bantuan semua fihak . Utamanya Dinas Kesehatan mulai dari
tingkat kabupaten ,propinsi sampai dengan pusat. Musibah yang tergolong luar
biasa itu baru kali ini terjadi.
“ Banjir kali ini marupakan banjir yang terbesar
sepanjang sejarah desa kami. Selain merendami hampir semua rumah dampak yang
ditimbulkan cukup luar biasa berkenaan dengan penyakit yang menyerang “, tambah
Hamdan.
Fatkul M dari Pusat Informasi Masyarakat Pesisir
mengatakan , Banjir yang melanda wilayah Wedung memang berdampak cukup besar
bagi warga desa. Selain penyakit yang menyerang warga pasca banjir juga
menyebabkan beberapa warga terkena depresi.
Harta mereka berupa garam dan ikan di tambak
semuanya hanyut terbawa air. Padahal harta tersebut adalah simpanan mereka yang
diharapkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Puluhan warga mempunyai
simpanan garam ikan di tambak namun semunya habis di sapu banjir.
“ Dari keterangan yang saya dapatkan dari Kepala
Desa Kedungmutih ada seorang warga yang mengalami depresi dan harus diikat
karena mengamuk terus. Pasalnya garam sekitar 50 ton miliknya terendam oleh air
banjir”, kata Fatkhul.
Fatkhul mengharapkan dengan kondisi tersebut diatas
dia mengharapkan bantuan dari berbagai fihak utamanya pemerintah untuk
menuntaskan derita warga desa Kedungmutih. Selain bantuan kesehatan seperti
pengobatan gratis , rujukan ke rumah sakit dan juga pembersihan kampung dari
berbagai macam virus yang menyebarkan penyakit.
“ Kami tidak ingin ada musibah yang kedua kali yang
melanda desa Kedungmutih ini . Karena kondisi saat ini masih hujan sehingga
akan muncul genangan kembali “, kata Fatkhul . (Muin)
Jumat, 24 Januari 2014
Banjir di Wedung Demak Rendam Ribuan Rumah
![]() |
Pasar Baru Desa Kedungmutih |
Demak – Hujan lebat yang mengguyur seputaran gunung Muria
dan pantai utara hampir seminggu membuat sungai SWD II meluap di berbagai
tempat . Akibatnya daerah yang dilalui sungai itu kebanjiran karena air memasuki
puluhan desa di Jepara dan Demak.
Di Demak tepatnya di kecamatan Wedung setidaknya 6
Desa mengalami rendaman air banjir. Sehingga ribuan rumah di desa Mutih Kulon, Mutih Wetan,
Tedunan, Kendalasem , Kedungkarang, Kedungmutih dan Babalan tergenang air
banjir.
![]() |
Salah satu rumah warga desa Kedungmutih |
Rendaman air banjir paling tinggi mencapai satu
setengah meter terjadi di desa Tedunan dan Kedungkarang. Sedangkan desa
Kendalasem, Kedungmutih, Babalan , Mutih Kulon dan Mutih Wetan juga mengalami
kondisi yang sama. Genangan banjir selain merendam pemukiman juga melenyapkan
ribuan ton garam di lahan.
“ Untuk kerugian materi yang terbesar justru di
areal pertambakan selain ikan dan udang yang lepas . Garam milik petani di
puluhan gudang tidak terselamatkan “, kata Suhari (50) warga desa Kedungmutih
Jum’at (24/1).
Suhari mengatakan banjir yang melanda desa
Kedungmutih dan sekitarnya diperkirakan karena jebolnya tanggul SWD 1 di desa
Tedunan . Banjir kali ini merupakan banjir terbesar dua puluh terakhir . Tahun
1970 an dulu pernah terjadi banjir yang sama besarnya.
![]() |
Ngungsi di Masjid jami' Kedungmutih |
Sementara itu Kepala Desa Kedungmutih Hamdan
mengatakan, rumah warga desanya yang terendam air hampir 80 persen. Rendaman
yang paling parah terjadi di sebelah selatan desa. Rumah yang tidak terendam
banjir kebanyakan rumah bangunan baru . Sedangkan lainnya hampir semua rumah
terendam.
Warga yang rumahnya terendam air cukup tinggi
mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Diantaranya ke SD Kedungmutih, Mts “
Ribhul Ulum “ Kedungmutih, MA “Ribhul Ulum” dan
Masjid Jami’ “Baitul Makmur” Kedungmutih. Selain itu warga juga
mengungsi di rumah keluarga terdekat bahkan ada yang keluar dari desa
Kedungmutih.
“ Bantuan sudah ada berupa nasi bungkus dari dapur
umum BPBD Demak di Mutih , selain itu ada beberapa warga dari luar yang membawa
bantuan berupa mie dan roti “, kata Hamdan. (Muin).
Langganan:
Postingan (Atom)