Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juni 2014

Waduh !!!!!! Baru Dua Tahun Ditempati, Pasar Bintoro Mulai Rusak



Pasar Demak (Foto: www.lensaindonesia.com)

DEMAK – Baru dua tahun ditempati pedagang, bangunan Pasar Bintoro mulai rusak di sana-sini. Di antaranya pipa saluran buangan dari lantai dua bocor sehingga merugikan pedagang yang berada di lantai dasar. Air buangan dari saluran yang bocor itu menetes ke dalam kios. Padahal, air yang menetes itu berasal dari saluran buangan toilet di lantai atas.

‘’Saya terpaksa mengeluarkan barang dagangan ke luar kios supaya buah-buah tidak terkena tetesan air,’’ kata Kusrinah (45), pedagang buah di sisi barat pasar kepada wartawan, Selasa (3/6) kemarin.

Kondisi serupa juga terjadi pada kios warung makan milik Sri Zubaedah (40), yang berada pada lantai dasar di sisi selatan pasar. Pipa saluran buangan dari los ikan di lantai dua ternyata bocor dan tetesan airnya sampai ke kios tersebut.

Kondisi tersebut ternyata sudah berlangsung tiga bulan terakhir. Sejumlah pedagang buah pun menyayangkan kelambanan reaksi petugas pasar lantaran terkesan membiarkan kondisi tersebut, bahkan beberapa pemilik warung makan terpaksa menutup usahanya, karena warung makannya sepi disebabkan oleh bau tidak sedap tersebut.

Meskipun pedagang sudah berinisiatif memasang terpal dihubungkan dengan ember penampung bocoran dengan maksud agar air buangan dari pipa yang bocor itu tidak menetes ke kios mereka. Namun bocoran tersebut seakan dibiarkan sehingga masih terus berlangsung dan menebarkan bau tidak sedap.

Petugas Tidak Tegas


Berkali-kali pedagang menyampaikan laporan kepada petugas pasar, namun sepertinya tidak ambil pusing. Menurut mereka, sikap petugas dinilai tidak tegas dari instansi pasar membuat sejumlah pemilik warung berjualan di lantai atas.
’’Dulu, kios lantai atas tidak boleh untuk berjualan warung makan. Kini, dibiarkan,’’ kata Sri Zubaedah.

Kepala Bidang Pasar Dinperindagkop dan UMKM Demak, Shokip mengaku belum tahu persis soal kerusakan bangunan Pasar Bintoro, dengan alasan dia baru beberapa hari menjabat, dan pihaknya akan mengecek akta perjanjiannya, apakah kerusakan ini masih jadi tanggung jawab rekanan atau tidak. (SM/J9)



SUMBER BERITA : DEMAKPOS

Senin, 19 Mei 2014

Pasar Pagi Desa Semat Jepara Masih Butuh Pengembangan


Jepara – Salah satu desa Pantai di kecamatan Tahunan kabupaten Jepara adalah Desa Semat. Sebagian wilayah desa ini terletak dipinggir pantai laut Jawa. Oleh karenanya desa ini juga mempunyai hamparan pantai dengan pasir putihnya.

Jika pagi hari tiba dipinggir pantai desa itu ada keramaian tersendiri . Persisnya di pesisir sebelah selatan desa yang berhadapan dengan laut. Di tempat itulah kini pasar desa berada. Meskipun sederhana namun bisa dijadikan alternative belanja warga Semat dan sekitarnya.

Dulu sebelum ada bangunan di tempat itu pasar desa hanyalah pasar “kremyeng “ yang menempati pinggir jalan. Letaknya sekitar lima puluh meter dari tempat sekarang. Namun karena mengganggu jalan maka pemerintah desa memindahkan pasar ke tempat baru.



Pasar Desa Semat ini kondisinya sangat sederhana. Bangunan pasar tempat penjual menggelar dagangannya beratap genting dan bertiang kayu . Para Pedagang menggelar dagangannya di meja-meja panjang. Sedangkan beberapa perdagang membuat lapak sendiri gubug-gubug kecil di seputar bangunan pasar.

“ Habis tidak mendapatkan jatah di bangunan besar . Saya membuat sendiri lapak ini . Meski sederhana yang penting bisa digunakan untuk jualan ikan “, aku ibu Hajjah Njiah pedagang ikan warga Surodadi pada FORMASS.

Njiah mengatakan dia berjualan ikan di pasar Semat sudah lebih 15 tahun. Dia kulakan ikan di pasar baru desa Kedungmutih setiap habis subuh. Selan jutnya ikan ia bawa ke pasar desa Semat. Sekitar jam 10 ia sudah kembali ke rumah .



“ Alhamdulillah setiap hari selalu ramai pembeli ikan disini. Meski sederhana kondisinya namun membawa berkah bagi keluarga kami “ aku Ibu Hajjah Njiah.

Selain ikan di pasar ini dijual berbagai macam makanan dan kebutuhan rumah tanggal lainnya. Yang paling ramai adalah penjual makanan tradisional. Selain  nasi dengan lauk pauk beraneka ragam untuk sarapan. Juga tersedia makanan kecil berbagai jenis berbahan tepung, ketela dan lainnya.

Oleh karena itu yang belanja di pasar ini tidak hanya warga Semat saja. Namun warga lain desa yang kebetulan lewat juga mampir untuk berbelanja di pasar ini. Utamanya jika hari Minggu atau libur pasar ini cukup ramai kondisinya karena kedatangan warga lain yang jalan-jalan di seputar pantai desa Semat ini.


Namun sayangnya bangunan pasar desa ini masih kelihatan sederhana. Ke depan diperlukan pembenahan dengan merenovasinya sehingga kelihatan menarik para pembeli. Dana pengembangan pasar desa ini bisa bersumber pada dana desa , dana kabupaten ataupun dana pusat. (Muin)


Jumat, 28 Maret 2014

RAT KSP “ Margi Rahayu” Kedungmutih Tutup Buku 2012 Meriah dan Lancar

Suasana RAT KSP "Margi Rahayu"

Demak - KSP ( Koperasi Simpan Pinjam ) “ Margi Rahayu” desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak , Jum’at (28/3) mengadakan RAT tutup buku 2013. Acara Rapat tahunan itu rutin dilaksanakan dalam rangka laporan kepada seluruh anggota . Selain dihadiri oleh pengurus, pengelola pengawas , anggota juga tamu undangan dari Kantor Koperasi Demak.

Zaenal Fathoni Ketua KSP “Margi Rahayu” Kedungmutih pada demakpos mengatakan, RAT rutin dilaksanakan setiap tahun sekali. Untuk tahun ini waktunya agak mundur dibandingkan tahun sebelumnya. Hal itu dikarenakan banjir beberapa waktu yang lalu .

“ Banjir kemarin kantor Keperasi kami kemasukan air , hal itu mengganggu persiapan RAT . Tapi Alhamdulillah hari ini kami bisa melaksanakan RAT sebagai pertanggungjawaban kami pada anggota semuanya”, kata Zaenal Fathoni.

Hamdan Kades Kedungmutih serahkanm doorprize


Dijelaskan oleh Zaenal , KSP “ Margi Rahayu” dulunya KSU yang berdiri pada tahun 1999 dengan jumlah anggota pendiri 50 an orang. Dengan modal awal sekitar 3 juta rupiah. Anggotanya adalah para nelayan, petani,pedagang dan juga wirausaha lainnya.

Namun setelah mengalami perkembangan lebih dari 15 tahun pada tahun 2013 berubah menjadi KSP sesuai dengan UU No: 17 tentang perkopersian. Jumlah anggotanya juga berkembang lebih dari 400 orang . Adapun wilayah kerjanya meliputi seluruh propinsi Jawa Tengah.

“ Awal berdiri memang hanya sebatas kabupaten Demak saja, dalam perkembangan kita melayani anggota di luar kabupaten Demak. Ada yang dari Kudus, Jepara, dan juga lainnya”, kata Zaenal yang guru SD Kedungmutih.

Selain membahas laporan pertanggungjawaban pengurus dan BP tahun buku 2013 acara tersebut juga membahas RAPB dan juga Rencana Kerja tahun 2014. Sesi lain yang cukup menarik dari RAT ini adalah pembagian SHU ( Surplus Hasil Usaha ) masing masing anggota sesuai dengan jumlah modal yang ada di koperasi.

Secara keseluruhan   RAT tutup buku 2013 KSP “ Margi Rahayu” berjalan lancar sesuai dengan acara yang ditetapkan. Diawali pembacaan laporan pertanggungjawaban, tanggapan dari anggota  , pengesahan dan ditutup dengan do’a.

Anggota Yang hadir dapat Sovenir payung cantik

Dalam Rapat Anggota Tahunan itu juga digelar pembagian doorprize kepada anggota yang hadir berupa Kompor gas, Magis com, Magic Jar , Termos dan juga setrika kepada anggota yang beruntung. Untuk anggota semuanya pengurus memberikan kenang-kenangan berupa payung. (Muin)

Berkoperasi Banyak Manfaatnya

Hanafi

Demak- Berkoperasi bagi Hanafi salah satu anggota KSP “ Margi Rahayu” banyak manfaatnya. Selain satu tahun bisa bertemu di acara RAT ( Rapat Anggota Tahunan ) anggota juga bisa memanfaatkan  koperasi sebagai tempat untuk pinjam dan juga meyimpan uang.

“ Dengan menjadi anggota Koperasi kita bisa menyimpan dan pinjam uang , sehingga jika perlu modal tidak perlu jauh-jauh ke bank atau lembaga lain”, kata Hanafi pada demakpos di Acara RAT KSP “Margi Rahayu” desa Kedungmutih , Jum’at (28/3).

Hanafi mengatakan dia menjadi anggota KSP “ Margi Rahayu “ sudah lebih 10 tahun . Dia merupakan anggota pendiri yang dulunya KSU “Margi Rahayu” . Setiap RAT dirinya pasti menghadiri acara tersebut selain menerima SHU dan hak lainnya . Dalam kesempatan itu juga mengajukan usul serta saran untuk kemajuan koperasi.

“ Memang saya sering usul dan bertanya , tadi saya mengusulkan agar anggota diberikan seragam . Sehingga tahun depan ketika hadir disini bisa kompak pakaiannya “, tutur Hanafi.

Manfaat yang paling dirasakan sebagai anggota koperasi aku Hanafi , ketika dia butuh uang dengan cepat . Pernah ia meminjam ke koperasi karena mau punya gawe. Dengan membawa persyaratan yang telah ditentukan beberapa menit uang sudah didapatkan.

“ Jadi bagi anggota tidak ada ruginya menjadi anggota koperasi. Ini saya alami sendiri . Tiap butuh uang untuk keperluan apa saja bisa diatasi lewat KSP “ Margi Rahayu “ ini “, kata Hanafi.



Hal sama juga dikatakan Hamdan Kepala desa Kedungmutih. Dia merupakan inisiator berdirinya KSP “ Margi Rahayu” tersebut. Setelah dilantik menjadi Kepala Desa iapun mempunyai gagasan mendirikan lembaga koperasi ini. Harapannya ke depan koperasi ini dapat meningkatkan perekonomian desa Kedungmutih.

“ Dan harapan saya berhasil meski awalnya memang berat namun setelah berjalan lebih 10 tahun ada perkembangan yang bagus. Ini RAT yang ke 14 belas . Dan saya menjabat kepala desa ya lebih 14 tahun “, kata Hamdan.

Hamdan berharap KSP “Margi Rahayu” ini terus berkembang yang lebih baik lagi. Melayani anggota dengan sepenuh hati dan professional. Persaingan semakin ketat harus di landasi dengan ketekunan kejujuran dan ketelitian dalam mengelola uang.


“ Jika pengelolaan asal-asalan maka pengurus dan pengelola berhadapan dengan aparat hukum yang berakibat akan masuk penjara. Maka hati-hatilah dalam mengelola koperasi ini “, pesan Hamdan pada pengurus dan pengelola saat RAT. (Muin)

Senin, 24 Februari 2014

Pagi-Pagi Belanja Ikan di Pasar Baru Desa Kedungmutih Demak Mengasyikkan

Udang dari tambak 

Demak – Bagi penggemar atau pedagang ikan dan hasil laut lainnya di seputaran Demak dan Jepara pasti pernah datang ke Pasar Ikan pagi desa Kedungmutih. Selain dikenal komplit ikannya juga jangkauannya cukup mudah. Sehingga tidak mengherankan jika pasar ini selalu ramai didatangi penjual dan pembeli.

“ Jam 3 pagi pasar ini mulai di datangi penjual atau pembeli . Puncak keramaian pasar ini sekitar jam 6 pagi. Jika sedang ramai penjual dan pembeli bisa membludag hingga ke jalan “, kata Rohman (35) petugas parkir pasar baru desa Kedungmutih.

Rohman mengatakan , Pasar ikan desa Kedungmutih ini di bangun sekitar lima tahun yang lalu. Penjual ikan datang dari desa desa seputaran Kedungmutih seperti desa Babalan , Kedungkarang, Menco Demak. Dan juga desa Kedungmalang, Panggung, Surodadi dan Kalianyar Jepara.


ikan dari laut tinggal pilih


Sedangkan para pedagang yang datang ke pasar ikan Kedungmutih adalah para bakul atau pengepul ikan dari  desa Kedungmutih dan juga luar kota. Seperti dari kota Jepara , Pecangaan, Mayong dan juga Kudus. Mereka datang menggunakan sepeda motor atau mobil .

“ Ikan dan hasil laut dari pasar baru desa Kedungmutih ini selanjutnya di bawa atau dipasarkan ke pasar ikan di seputaran Demak seperti pasar Jepara, Mayong, Kudus , Pati , Semarang dan juga sampai ke Solo dan Yogya “, tambah Rohman.

Selain ikan dan hasil laut  pasar ikan desa Kedungmutih juga menjual ikan hasil dari tambak. Berbagai ikan dari yang kecil semua ada , Udang berbagai jenis sampai dengan kepiting dan rajungan . Ikan air tawar juga ada ada nila , bawal, gabus dan juga lele.

Oleh karena itu bagi penggemar atau pedagang hasil laut dan tambak bisa datang ke pasar ini habis subuh. Selain harganya yang miring juga barangnya masih bagus dan segar. Transportasi menuju ke pasar ikan desa Kedungmutih inipun cukup mudah selain naik kendaraan umum kita juga bisa naik sepeda motor atau mobil.

udang ditimbang


Kepala Desa Kedungmutih Hamdan mengatakan, pasar ikan desa Kedungmutih dulunya merupakan pasar “krempyeng” yang menggunakan jalan sebagai tempat jual beli. Namun setelah dipindahnya pasar desa Kedungmutih ke tempat baru . Maka pasar ikan dikembangkan menjadi besar dengan adanya bangunan dari pemarintah pusat lewat Dinas Perikanan dan Kelautan.

Setiap harinya pedagang dan pembeli yang datang ke pasar ikan desa Kedungmutih ini mencapai lebih dari seribu orang. Mereka adalah pedagang , pengepul dan juga pembeli berbaur menjadi satu. Jikan dibandingkan dengan desa yang lain di kabupaten Demak pasar ikan ini termasuk yang terbesar dan teramai.


“ Di depan pasar ikan itu bangunan dermaga kecil untuk pendaratan ikan bagi perahu nelayan yang datang dari laut. Semuanya itu kita sediakan untuk kenyamanan dan kelancaran jual beli ikan di sini “, jelas Hamdan Kepala Desa Kedungmutih. (Muin)



Rabu, 11 September 2013

Waduh !!! Beras Raskin Di Jual Lagi Ke Pasar

Jual beli beras raskin

Demak - Ada fenomena yang menarik dari pembagian beras miskin atau dikenal sebagai Raskin. Rupanya beras raskin yang setiap sebulan sekali didapatkan oleh masyarakat tidak banyak yang mengkonsumsinya. Namun setelah sampai di rumah beras itu ditukarkan atau di jual lagi ke pasar-pasar tradisional.

“ Setiap bulan sekali saya pasti membawa beras raskin 20 – 30 zak yang saya beli dari tetangga kemudian saya jual lagi ke pasar sini “ tutur Taslimah (40) warga desa Babalan yang ditemui di pasar baru desa Kedungmutih.

Taslimah mengatakan beras raskin yang diterima warga desanya kebanyakan dijual lagi ke pengepul . Selain kualitasnya yang kurang bagus untuk dimakan juga bisa dapat uang pengembalian.

Satu zak beras raskin yang di beli dari balai desa rata-rata berharga Rp 25 ribu   . Namun setelah dijual lagi mereka bisa mendapatkan uang Rp 50 ribu. Keuntungannya bisa separohnya , kadang-kadang bisa lebih.

“ Dari pembelian beras raskin warga saya bisa dapat untung Rp 5 – 10 ribu setiap zaknya. Beras raskin ini dibeli para pengepul beras setelah terkumpul banyak di setorkan lagi ke gudang Dolog “, kata Macan suami Taslimah.
Macan mengatakan pembagian beras raskin di desanya menggunakan system bagi rata. Semua warga baik kaya atau miskin semuanya mendapatkan jatah beras miskin itu. Sehingga satu zak seberat 15 Kg itu tidak untuk 1 KK namun dibagi 2 / 3 KK.

“ Anehnya setelah di tebus dari ketua RT masing-masing kebanyakan beras itu tidak dimakan . Namun dijadikan uang kembali dengan cara dijual kepada pengepul beras”, kata Macan yang sehari-hari bekerja sebagai tukang Ojek.

Sementara itu Birin (45) warga desa Kedungmalang mengatakan , tetangganya jika mendapatkan beras raskin biasanya dilihat dulu kualitasnya. Jika layak untuk dimakan biasanya tidak dijual dan di konsumsi sendiri. Tetapi jika kualitas beras raskin kurang bagus kebanyakan tidak dimakan , namun dijual atau untuk keperluan social.

“ kalau di tempat saya sih lihat-lihat kalau berasnya bagus ya di masak untuk makan keluarga . nah jika kualitasnya jelek misalnya kotor dan banyak kutunya baru dijual “, kata Birin. (Muin)