Tampilkan postingan dengan label Soeara Moeria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soeara Moeria. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Juli 2013

790 Santri Baru Pesantren Balekambang



Jepara-Sebanyak 790 resmi menjadi santri baru Pesantren Balekambang desa Gemiring Lor kecamatan Nalumsari kabupaten Jepara tahun ajaran 2013/ 2014. Ratusan santri baru itu terdiri 32 MI, 395 MTs, 109 MA, 246 SMK dan 8 Salafiyah. Mereka berasal dari Jawa maupun Luar Jawa.


Pengasuh Pesantren Balekambang, KH Makmun Abdullah Hadziq yang diwakili Ketua Pondok KH Mustamir Wildan mengatakan santri Balekambang tiap tahun mengalami peningkatan. Hal itu menurutnya karena masyarakat masih mempercayakan anak-anaknya untuk menjadi santri.

Santri dari Jepara dan sekitarnya jelas alumnus Pesantren Balekambang generasi kedua itu dari getok tular teman, tetangga atau pun saudara yang masih mondok maupun yang sudah lulus. Sedangkan santri dari luar Jawa Kiai Mustamir menyatakan mereka datang karena mengetahui informasi dari media.

“Mewakili pengasuh kami menghaturkan banyak terima kasih kepada pewarta yang kerap mempublikasikan kegiatan-kegiatan pesantren sehingga kami makin dikenal khalayak luas,” tambahnya.

Kehadiran pewarta lokal dan nasional berbagai media itu  lanjutnya tidak lepas dari kehadiran tokoh-tokoh nasional dan lokal diantaranya M Nuh (Mendikbud), Hj Nurhayati Ali Assegaf (Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat), H Bibit Waluyo (mantan Gubernur Jateng), H Sudijono Sastroadmodjo (mantan Rektor Unnes), Fatkhur Rokhman (Rektor Unnes),Noor Achmad (Rektor Unwahas), Bambang Triono (Rektor IKIP Veteran Semarang), Totok Prasetyo (Direktur Polines) dan masih banyak lagi.

“Kehadiran tokoh-tokoh juga mendatangkan massa yang banyak semisal Jamaah Thariqah Wagenan, Forum Komunikasi SMK Pesantren Se-Jateng DIY, Jawa Madura, tokoh masyarakat, pejabat dan masyarakat umum. Sehingga forum-forum tersebut juga merupakan salah satu momen Pesantren Balekambang semakin dikenal di seluruh lapisan masyarakat,” imbuhnya.(Syaiful Mustaqim)

Haji yaman Bersama KBIH " Jabal Nur " Bandengan Jepara 
 Nama Kelompok : “ Jabal Nur “
Alamat                    :   Ds. Bandengan Kec. Kota Jepara
Pengasuh              : Ustad H. Abdullah Uzair
Telp                         : 081 393 577 

Minggu, 16 Juni 2013

Bekali Kader IPNU-IPPNU dengan Lakmud


Jepara-Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU kecamatan Bangsri Jepara membekali kader IPNU-IPPNU ditingkatan Pimpinan Ranting (PR) dan Pimpinan Komisariat (PK) dengan kegiatan Latihan Kader Muda (Lakmud) yang diadakan di MTsHasyim Asyari Bangsri Jepara, Kamis-Sabtu (13-15/6). Kegiatan yang bertajuk “Mencetak Kader NU Berkualitas” diikuti 40an peserta dari delegasi PR dan PK IPNU-IPPNU Se-Kecamatan Bangsri.

Selama kegiatan berlangsung Nur Hidayah selaku ketua panitia mewakili Ketua PAC IPNU Bangsri Ahmad Zubaidi dan Nur Maunah Ketua PAC IPPNU Bangsri mengatakan peserta diberikan materi diantaranya ke-Aswaja-an, ke-IPNU-IPPNU-an, ke-NU-an, Kepemimpinan, Manajemen Organisasi,Networking dan Lobying, Teknik Game, Teknik Diskusi, Persidangan, Rapat dan ke-PAC-an.

Menurutnya, kegiatan bertujuan untuk membekali kader IPNU-IPPNU yang out put nantinya untuk meneruskan kepengurusan PAC pasca konferancab yang akan dilaksanakan Desember mendatang.

Sesuai dengan tema yang diangkat masih menurutnya dengan latihan kader itu merupakan proses pengkaderan formal di IPNU-IPPNU yang harapannya menjadi kader berkualitas, mempunyai loyalitas dan militansi tinggi.

Ketua PC IPNU Jepara, Chusni Maulana yang berkesempatan hadir menyatakan PAC IPNU IPPNU Bangsri sejak tahun 2000an sempai sekarang selalu dinamis dan menjadi PAC unggulan di Jepara. “Hal ini dibuktikan dengan rekrutmen PC IPNU-IPPNU Jepara, PAC Bangsri selalu siap direkrut menjadi pengurus Cabang,” jelasnya.

Agar tetap dinamis ia menghimbau agar PAC menggali aspirasi yang dibutuhkan oleh anggota sehingga kader IPNU-IPPNU tetap betah dalam organisasi pelajar tersebut. Hadir juga dalam kesempatan itu, KH Ahmad Jazuli selaku Ketua MWC NU Bangsri. Kiai Jazuli mengharapkan kader NU menggabungkan unsur tradisionalis dan modern sehingga kedepan menjadi orang NU yang luwes. (Syaiful Mustaqim)

Kamis, 13 Juni 2013

Jawaso Gelar Festival Rebana Klasik



Jepara-Untuk melestarikan eksistensirebana klasik, Jamiyyah Rebana Walisongo (Jawaso) Pecangaan Jepara menyelenggarakan Festival se-kabupaten Jepara, belum lama ini. Kegiatan yang dibarengkan dengan peluncuran album keempat Jawaso--Khazanah Qalbu mendapat antusias dari peserta. Setidaknya ada 22 grup rebana yang turut memeriahkan Harlah dan Haul Pendiri Yayasan Walisongo Pecangaan Jepara.

Selaku Pembina Jawaso, Abdullah Karim mengatakan kegiatan untuk menyemarakkan shalawat di kabupaten Jepara. Ia menilai festival yang harus membawakan lagu wajib anal faqir terbilang sukses sebab sejak sore hilang larut malam peserta maupun suporter masih semangat mengikuti hingga perlombaan usai.

“Harapan kami melalui festival ini kegiatan bershalawat dan rebana di Jepara tetap eksis,” harapnya.

Karim menambahkan pihaknya juga memohon doa restu kepada semua pihak agar grupnya yang akan melaju dalam perlombaan tingkat Provinsi Jawa Tengah di Solo mendapat hasil yang maksimal. “Kami mohon doa restunya kepada semua pihak semoga lomba yang akan kami ikuti tingkat Jateng memperoleh hasil memuaskan,” tambahnya.

Atas nama dewan juri yang diwakili oleh Sholeh mengungkapkan semua peserta sudah baik semua. Namun ada dua hal yang menurutnya menjadi catatan peserta agar pada kesempatan lain bisa lebih maksimal lagi. “Yakni banyaknya tempo yang lepas kendali juga masih kurangnya penguasaan materi (lagu, red) oleh vokalis grup,” lanjut penggiat Asshaut Kudus.

Usai penilaian yang dilakukan 4 dewan juri memutuskan grup Gandrung Rasul, Ngabul sebagai juara I dengan nilai 1043. Disusul Al-Muhibbin, Demaan dengan skor 1037 dan As-Salam, Bandungrejo dengan 1026.

Kategori juara yang lain vokal terbaik diraih grup Al-Fatimah, Karangrandu dengan poin 946, musik terbaik As-Shagir, Rengging dengan perolehan angka 993 disusul perform terbaik dari An-Nuha, Mayong dengan 985 dan MI Mathaliul Huda Troso 1 dengan skor 864 sebagai juara favorit. (Syaiful Mustaqim)


Selasa, 11 Juni 2013

Kripik “Mukarromah” Gemiring Memang Renyah


Kripik  Mukaromah memang renyah

Jepara - Kripik singkong buatan Siti Mukarromah (55) warga desa Gemiring Lor, kecamatan Nalumsari memang renyah. Selain renyah, irisan ketela pohonnya agak tebal tetapi rasanya empuk. Itulah ciri khas kripik yang dijualnya sejak tahun 1990an silam. Awal mula, istri dari Rukain (60) menanam ketela pohon di belakang rumahnya desa setempat RT.01 RW.07 namun hasil panenannya kurang laku dijual.

Sejak itu ibu dengan 5 anak ini memulai memproduksi kripik yang dibungkusi kecil-kecil. Waktu itu seharga Rp.50. Untuk bungkusan yang agak besar seharga Rp.500. Melalui cara itu dagangannya mulai laris.

Saat dagangannya laris, ketela hasil panenannya tidak mencukupi untuk produksi. Akhirnya membeli juga kepada tetangga dekat. Ketela dari tetangga juga tidak mencukupi. Alhasil, sudah berjalan 5 tahunan ini dirinya disetori ketela dari desa Bategede.

Menurut Muhamad Tohir anak ketiganya 2-3 hari sekali disetori ketela. “Untuk harga ketela per-sak rata-rata Rp.40.000-45.000. Harga termahal pernah mencapai Rp.70.000,” tutur Tohir.

Dalam produksi kripik masih menurut Tohir membutuhkan minyak goreng, kayu bakar dan bumbu. “Minyak goreng menghabiskan 25-30 kg per-hari. Harganya Rp.10.000-11.000. Kayu bakar sehari 5-6 ikat. Adapun bumbunya terdiri dari bawang, ketumbar, garam dan penyedap rasa,” paparnya.

Musim apapun penghujan dan kemarau Mukarromah tetap memproduksi kripiknya. Yang membedakannya adalah saat musim kemarau produksinya mengalami pasang surut. Tidak stabil.

Berkaitan dengan harga, dulu awal mula usahanya dirintis dagangan yang disetorkan ke pasar Mayong ¼ kg dengan harga Rp.500. lambat laun permintaan semakin meningkat. Ada yang minta bungkusan 5kg.

Kini, para bakul saben hari datang ke rumahnya. Mereka membeli 5 kg-1,5 kuintal. Bakulnya berasal dari beberapa desa diantaranya Pringtulis, Sidi Gede dan Demak. Untuk harga bakul dan eceran dibedakan selisih Rp.1.000. “Pembeli rumahan per-kg Rp.12.000. Untuk bakul Rp.11.000,” imbuhnya.(Syaiful Mustaqim)  

Minggu, 09 Juni 2013

Mengais Rupiah dari Jual Kaos Jogya , Hasilnya Menguntungkan




 Riza Fauzi (24) 

Banyak cara yang dilakukan untuk mengaih rupiah, salah satunya dengan berjualan kaos. Hal itu yang dilakukan Riza Fauzi (24) kurang lebih tiga bulanan ini. Awal mulanya, pria yang tinggal di desa Mangunan RT. 02 RW.01 kecamatan Tahunan membeli kaos Jogja. Dari itu Riza kemudian berinisiatif untuk menjualnya lagi.
Respon tetangga waktu itu lumayan. “Banyak tetangga dekat tertarik dengan kaos yang saya beli. Sehingga kesempatan ini bisa saya kembangkan. Sebab pangsa pasar sedang berminat,” tutur lelaki kelahiran Jepara, 12 September 1988.
Dari mulut ke mulut para tetangga dari anak-anak, remaja maupun orang tua berdatangan untuk memesan. Hingga dalam seminggu diperkirakan ada pemesan sekitar 15-30 orang. “Bisnis ini pun saya lanjutkan,” katanya.
Dari berjualan kaos Jogja, Riza yang menamatkan studi dari SDN Panggang 06, MTs Mafatihul Akhlak Demangan, MA NU TBS Kudus dan IAIN Walisongo Semarang memperoleh banyak hal. Selain urusan finansial, dirinya makin punya nyali untuk menawarkan barangnya.
“Mental saya semakin berani untuk menawarkan barang kepada teman-teman. Kenalan pun semakin bertambah,” paparnya.
Pembeli kaosnya berasal dari berbagai kecamatan; Kalinyamatan, Welahan, Pecangaan, Pakis Aji, Bangsri dan sekitarnya. “Awalnya pembeli adalah tetangga maupun teman-teman saya sendiri kemudian merambah kepada teman-temannya,” imbuhnya.
Bisa dipastikan, dalam sepekan ia memperoleh pesanan. Karenanya bisnis yang awalnya ia jadikan sampingan kini menjadi utama.
Meski demikian dalam berjualan Riza terbelit oleh hambatan semisal pesanan belum dibayar, harga masih ditawar maupun pemesan lupa barang yang dipesan. “Hambatan sudah pasti ada. Biasanya kalo pesanan belum dibayar saya melakukan pendekatan dengan beralasan uangnya untuk kulakan,” tambahnya disela-sela menyampaikan pesanan ke Nasya Center, Margoyoso Minggu (22/7) kemarin.
Kedepan, harapannya jika sudah memiliki modal lebih berkeinginan membuka toko di tiap wilayah atau kecamatan. “Kaos yang dijual kedepan juga tidak hanya kaos Jogja melainkan merambah kaos etnik lain,” harapnya.
Untuk memperoleh kaos Gayeng, Jape Methe dan Mrong’os yang ia jual menunggu sekitar 1-2 minggu. Pesanan siap diantar. Jika anda berminat bisa menghubungi kontak personnya 085727658318. (Syaiful Mustaqim)