Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 April 2014

Amaliyah KH Ahmad Dahlan Tidak Berbeda dengan NU




Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi menuturkan amalan ibadah Muhammadiyah yang diterangkan dalam kitab fiqh berbahasa Jawa karya KH Ahmad Dahlan sebetulnya sama dengan Nahdlatul Ulama. Namun, ajaran tersebut dirubah oleh pengurus Muhammadiyah periode berikutnya. 
“Saya punya kitab jilid 3 karya Mbah Dahlan itu yang menerangkan dengan jelas bahwa sholat tarawih dilaksanakan 20 rakaat dan setiap 2 rakaat harus salam,” terangnya mengutip kitab fiqhnya KH Ahmad Dahlan pengajian rutin Tafsir Al Qur’an di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Jum’at pagi (18/4)

Mbah Sya’roni mengatakan KH Ahmad Dahlan adalah teman belajar pendiri NU KH Hasyim Asy’ari di berbagai pesantren di Indonesia. Saat mbah Sholeh Darat Semarang, keduanya selalu bersama-sama.

“Begitu pula saat di Makkah, mereka selalu nyantri bersama KH Khotib Minangkabau dan KH Nawawi Al Bantani. Kiai Dahlan dan Kiai Hasyim ini sama alimnya dan sama ibadahnya,”jelas Mbah Sya’roni di depan ribuan jamaah.
Kedua tokoh pendiri ormas keagamaan terbesar di Indonesia ini, tutur KH Sya’roni, perbedaanya hanya pada waktu mengajar di pesantren masing-masing. Bila KH Hasyim mengajar santrinya selalu diselingi terbangan, sementara KH Ahmad Dahlan diselingi dengan biola.

“Soal amalan ibadahnya sama, Mbah Dahlan sholat shubuhnya juga ada do’a qunutnya. Tetapi ajaran itu sekarang dirubah orang dari fiqh aslinya,” tegasnya lagi.

Pengajian rutin Jum’at pagi (18/4), masih melanjutkan Surat At-Thalaq ayat 6-10 yang masih menerangkan tentang tata cara menceraikan istri dalam sebuah keluarga. (Qomarul Adib)

Sumber : NUONLINE




Minggu, 23 Maret 2014

Pelatihan Jurnalistik IPNU-IPPNU Ancab Mranggen

Selama ini, tema “Ustad Mengajar Santeri” tidak akan masuk dalam kriteria berita, karena tidak beda dengan “Anjing Menggigit Orang”. Yaitu, sama-sama tidak mempunyai daya tarik dan nilai berita.

 Demikian dikemukakan wartawan senior, Machmud Suwandi dalam pelatihan jurnalistik Ikatan Pelajar dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Anak Cabang Mranggen Kabupaten Demak, di Ponpes Al-Ibrohimiyah setempat, Sabtu (14/2).

Tetapi setelah adanya kejadian di salah satu pondok pesantren di negeri ini, lanjut Machmudtema “Ustad Hariri Menghajar Santeri di Pesantren”tersebutmenjadi berita utama dan topik berita di semua media di Tanah Air. “Itulah yang disebut nilai news berita” jelasnya.

IPNU-1Machmud Suwandi sedang menyampaikan sesionnya. (Foto: IPPNU)

Dalam laporannya, Ketua Panitia Pelatihan, Khoerul Anwar, SPd, mengemukakan, pelatihan jurnalistik yang mengusung tema “Mengembangkan Potensi Bidang Jurnalistik untuk Kemandirian dan Kepedulian terhadap Perubahan” ini diselenggarakan oleh Pengurus Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Mranggen, berlangsung selama tiga hari, diikuti 40 orang. 

Materi pelatihan meliputi; mengenal tulisan jurnalistik, teknik menulis berita, teknik reportase, mengenal struktur redaksi dan teknik membuat buletin, dengan narasumber dari berbagai media cetak dan elektronik. (mac)

Sumber : Demakpos.com

Rabu, 20 November 2013

LPNU Demak Adakan Pelatihan Garam Konsumsi Beriodium di Kedungmutih

Ketua LPNU Demak

Demak – Bertempat di Balai Desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak. LPNU ( Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama ) Demak adakan Pelatihan pembuatan garam beriodium. Pelatihan diikuti 40 petani garam di desa Kedungmutih dan sekitarnya.

“ Tujuan dari pelatihan ini adalah menumbuhkan kewirausahaan bagi petani garam. Sehingga ke depan petani garam dari kalangan Nahdliyin bisa menjadi pengusaha yang sukses”, ujar Alex Sholikhan Ketua LPNU Demak di sela- sela pelatihan.

Alex S mengatakan, pada kenyataannya petani garam kondisi ekonominya memprihatinkan. Selain penghasilannya yang kurang juga jiwa kewirausahaannya sangat minim. Sehingga hasil dari pengolahan garam tidak cukup untuk menghidupi keluarganya.

“ Oleh karena itu maka banyak petani garam yang tidak mampu menyekolahkan anaknya ke jenjang perguruan tinggi akibat minimnya penghasilan mereka “, tambah Alex.

Melihat kenyataan itulah maka LPNU Demak  mengajak kepada petani garam di Demak untuk meningkatkan SDM dalam rangka peningkatan ekonomi. Diantaranya adalah melatih petani garam membuat garam beroidium untuk kebutuhan konsumsi dengan mutu yang bagus.

Dengan mutu yang bagus itulah nantinya harga garam akan naik dengan sendirinya. Selain itu petani diharapkan mempunyai jaringan pemasaran tersendiri dan tidak lagi mengandalkan para pengepul. Selain itu juga meningkatkan produksi garam dengan pemakaian teknologi baru.




“ Dengan pelatihan ini kami mengharapkan ke depan akan tercipta pengusaha besar  dari kalangan NU di daerah ini. Sehingga jika ada kegiatan Istighosah ada yang jadi bos tidak cari dana muter-muter kesana kemari “, harap Alex.

Sementara itu Wakil PCNU H. Aminudin dalam sambutaan pembukaan mengatakan , Kecamatan Wedung desa Kedungmutih merupakan sentra pembuatan garam. Oleh karena itu kegiatan Pelatihan diharapkan bisa memacu peningkatan ekonomi di wilayah ini. Diharapkan kegiatan ini terus berlanjut dalam rangka peningkatan ekonomi warga NU di kecamatan Wedung sebagai penghasil garam.

Disi lain Hamdan Kepala Desa Kedungmutih menyambut positif kegiatan yang diadakan LPNU . Mayoritas penghidupan warga desa Kedungmutih mengandalkan garam . Di desa Kedungmutih ada puluhan kelompok petani garam . Dengan pelatihan pembuatan garam beriodium ini diharapkan ada teknologi baru yang didapatkan.


“ Harapan kami selain pelatihan ini juga ada kelanjutannya misalnya dari sisi pemasaran juga disentuh. Sehingga petani tidak hanya membuat garam beriodium yang berkualitas . Namun juga ada sesi yang membahas pemasarnnya “, kata Hamdan ( Muin )