Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Juni 2017

Ayo Membuat Petasan Pralon Murah Meriah di Hari Raya





Demak – Hari raya tanpa suara dentuman petasan rasanya seperti makanan kurang garam. Meskipun petasan adalah larangan keras namun disetiap lebaran masih ada saja orang yang membuatnya.  Selain menjanjikan keuntungan bagi pembuatnya mercon banyak dicari terutama remaja dan anak-anak.

Namun demikian saat ini ada alternative bagi anak-anak yang ingin main petasan. Namanya petasan pralon dengan bahan spiritus. Dengan petasan pralon ini anak-anak bisa mendengar suara dar der dor. Selain suaranya sama biaya lebih hemat karena hanya membuat sekali namun bisa digunakan seterusnya.

Cara membuatnya mudah ambil saja pralon kecil dengan diameter 3-4 cm . Potong pralon sepanjang 50 - 60 cm . Selain itu  anda juga menyiapkan satu korek magnet ,dan leher botol plastic yang ukurannya sama dengan pralon. Setelah itu rangkai pipa pralon dan juga leher botol. Setelah itu tutup botol beri lubang masukkan pemantik korek api dari magnet.

Isolasi atau lem bagian sambungan antara pralon dan  leher botol . Setelah terpasang cari karet bekas sandal masukkan ke dalam pralon sebagai penyekat. Adapun cara memainkannya cukup mudah buka tutup petasan pralon. Semprotkan satu atau dua kali ke dalam pipa pralon . Tutup kembali petasan lalu kocok-kocok sebentar. Setelah itu pejet pemantik korek , dengn selesainya memjet maka dari dalam pipa pralon akan terdengan ledakan seperti petasan. (Muin)

Rabu, 11 Juni 2014

Inilah Yang Diamalkan Penduduk Makkah Dulu di Malam Nishfu Saya'ban



Muslimedianews.com ~ Di masa sekarang, orang-orang Indonesia yang melakukan Umroh di Aab Saudi, terkadang dibagikan buku gratis yang berisi mengenai larangan melakukan amalan di malam Nishfu Sya’ban. Mereka begitu gigih untuk melarang melakukan amaliyah di malam nishfu Sya'ban.

Hal itu justru merupakan sesuatu yang aneh, berbeda dengan prilaku penduduk Makkah dimasa lalu. Mereka justru sangat antusias menyambut malam Nishfu Sya’ban. Imam Al-Fakihani berkata:


ذِكْرُ عَمَلِ أَهْلِ مَكَّةَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَاجْتِهَادِهِمْ فِيْهَا لِفَضْلِهَا . وَأَهْلُ مَكَّةَ فِيْمَا مَضَى إِلَى الْيَوْمِ إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ، خَرَجَ عَامَّةُ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَلُّوْا وَطَافُوْا وَأَحْيَوْا لَيْلَتَهُمْ حَتَّى الصَّبَاحِ بِالْقِرَاءَةِ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يَخْتُمُوْا الْقُرْآنَ كُلَّهُ وَيَصِلُوْا ، وَمَنْ صَلَّى مِنْهُمْ تِلْكَ اللَّيْلَةِ مِائَةَ رَكْعَةٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِـ الْحَمْدِ ، وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ وَأَخَذُوْا مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فَشَرِبُوْهُ وَاغْتَسَلُوْا بِهِ وَخَبَؤُوْهُ عِنْدَهُمْ لِلْمَرْضَى ، يَبْتَغُوْنَ بِذَلِكَ الْبَرَكَةَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ ، وَيُرْوَى فِيْهِ أَحَادِيْثُ كَثِيْرَةٌ (أخبار مكة للفاكهي - ج 5 / ص 23)


“(Bab tentang amaliah penduduk Makkah di malam Nishfu Sya’ban dan kesungguhan mereka di malam tersebut karena keutamaannya). Penduduk Makkah, dari dulu hingga sekarang, jika bertemu dengan malam Nishfu Sya’ban maka kebanyakan orang laki-laki dan perempuan mendatangi Masjidil Haram, mereka salat, tawaf, beribadah di malam harinya hingga pagi dengan membaca al-Quran di Masjidil Haram, hingga mengkhatamkan al-Quran keseluruhannya dan melanjutkan


Orang-orang diantara mereka yang melakukan salat di malam tersebut 100 rakaat, diawali dengan Hamdalah setiap rakaatnya, al-Ikhlas 100 kali, mereka juga mengambil air zamzam lalu meminumnya, menyiramkannya, dan diberikan kepada orang sakit dari mereka, adalah karena mengharap berkah di malam tersebut. Telah diriwayatkan beberapa hadis yang banyak tentang malam Nishfu Sya’ban” (Syaikh al-Fakihani, Akhbar Makkah 5/23)

(Catatan) Ulama Syafiiyah menegaskan bahwa salat 100 rakaat di malam Nishfu Sya’ban adalah bid’ah yang buruk, hadisnya adalah hadis palsu (Ianat ath-Thalibin)

Kunjungi www.facebook.com/muslimedianews Sumber MMN: http://www.muslimedianews.com/2014/06/ternyata-ini-yang-diamalkan-penduduk.html#ixzz34OeDYo1S




Minggu, 20 April 2014

Amaliyah KH Ahmad Dahlan Tidak Berbeda dengan NU




Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi menuturkan amalan ibadah Muhammadiyah yang diterangkan dalam kitab fiqh berbahasa Jawa karya KH Ahmad Dahlan sebetulnya sama dengan Nahdlatul Ulama. Namun, ajaran tersebut dirubah oleh pengurus Muhammadiyah periode berikutnya. 
“Saya punya kitab jilid 3 karya Mbah Dahlan itu yang menerangkan dengan jelas bahwa sholat tarawih dilaksanakan 20 rakaat dan setiap 2 rakaat harus salam,” terangnya mengutip kitab fiqhnya KH Ahmad Dahlan pengajian rutin Tafsir Al Qur’an di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Jum’at pagi (18/4)

Mbah Sya’roni mengatakan KH Ahmad Dahlan adalah teman belajar pendiri NU KH Hasyim Asy’ari di berbagai pesantren di Indonesia. Saat mbah Sholeh Darat Semarang, keduanya selalu bersama-sama.

“Begitu pula saat di Makkah, mereka selalu nyantri bersama KH Khotib Minangkabau dan KH Nawawi Al Bantani. Kiai Dahlan dan Kiai Hasyim ini sama alimnya dan sama ibadahnya,”jelas Mbah Sya’roni di depan ribuan jamaah.
Kedua tokoh pendiri ormas keagamaan terbesar di Indonesia ini, tutur KH Sya’roni, perbedaanya hanya pada waktu mengajar di pesantren masing-masing. Bila KH Hasyim mengajar santrinya selalu diselingi terbangan, sementara KH Ahmad Dahlan diselingi dengan biola.

“Soal amalan ibadahnya sama, Mbah Dahlan sholat shubuhnya juga ada do’a qunutnya. Tetapi ajaran itu sekarang dirubah orang dari fiqh aslinya,” tegasnya lagi.

Pengajian rutin Jum’at pagi (18/4), masih melanjutkan Surat At-Thalaq ayat 6-10 yang masih menerangkan tentang tata cara menceraikan istri dalam sebuah keluarga. (Qomarul Adib)

Sumber : NUONLINE