Tampilkan postingan dengan label Garam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Garam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Oktober 2014

Kuli Angkut Garam Demak , Dari Jalan kaki ,Sepeda Onthel Sampai Sepeda Motor




Demak- Saat ini ladang garam di daerah Demak panen raya . Sejauh mata memandang tampak kristal putih menyilaukan mata teronggok di meja-meja kristalisasi garam. Panas kemarau yang menyengat menambah bertumpuknya garam dilahan pemanenan. Selain petani garam rejeki garam juga dirasakan oleh ratusan tenaga pengangkut garam.

Mereka adalah pekerja musiman yang bekerja hanya jika musim garam tiba. Pria ,wanita  yang muda sampai yang tua mencari lahan perburuan sendiri-sendiri. Tenaga buruh angkut wanita biasanya mengandalkan  badannya saja tanpa alat pembantu. Mereka mengangkut garam yang ditempatkan dalam zak-zak dari lahan menuju ke tempat penjualan pinggir jalan besar tau langsung dimasukkan dalam gudang petani.

“ Ongkosnya tergantung dari jauh dekatnya kita mengangkut garam , jika dekat per zak biasanya Rp 1.200 – Rp 1.500 perzak. Jika tempatnya cukup jauh upahnya ya Rp 2.000 – Rp 2.500 setiap zak “, aku Ibu Tun warga desa Tedunan kecamatan Wedung pada Kabar Seputar Muria, (Minggu 28/9).

Ibu Tun mengatakan ia bersama lima temannya satu RT berangkat dari rumah sekitar pukul setengah enam pagi. Sesampainya di lahan iapun sarapan bersama dengan bekal yang di bawa dari rumah . Setelah itu mulaiah ia bekerja yang pertama memasukkan garam dari keranjang ke zak . Setelah itu baru di angkut dengan jalan kaki ke gudang atau pinggir jalan raya yang jaraknya kurang lebih 150 meter.

“ Kita kuat hanya sebedug saja karena panasnya terlalu terik . Jam 11 siang kita persiapan pulang kadang-kadang jika sudah lelah jam 10 pun kita pulang. Sehari rata-rata kita bisa bawa pulang uang Rp 45 – 50 ribu sudah syukur “, kata Bu Tun.

Lain lagi dengan Pak Ahwan yang juga warga desa Tedunan ia mengangkut garam dengan menggunakan sepeda onthel . Sekali angkut ia bisa membawa garam dua zak . Meskipun harus menuntun sepedanya karena jalannya tidak rata, namun hasilnya bisa lipat dua dengan pengangkut garam wanita. Dengan sepeda tuanya itu ia bisa membawa pulang uang Rp 50 ribu lebih.

“ Ya pakai sepeda onthel lebih banyak hasilnya dari pada tanpa alat. Ya itu tadi sepedanya harus kuat . Lumayan jika kemarau tiba saya banting setir tenaga angkut garam jika musim penghujan cari ikan di sungai “, aku pak Ahwan.

Selain menggunakan sepeda onthel , banyak juga pengangkut garam yang menggunakan sepeda motor. Sepeda motor yang mereka gunakan rata-rata sepeda motor tua atau sepeda motor bodong. Denga harga yang murah mereka manfaatkan sepeda motor untuk mengangkut garam. Dari upah memnagkut garam itu mereka bisa menghidupi keluarganya di musim kemarau. Tanpa kehadiran buruh angkut garam petani dan pengepul kesulitan memasarkan hasil mereka .(Muin)

Haji Aman dan Lancar bersama KBIH " Al-Firdaus" Jepara hubungi di  085 290 375 959


Kamis, 18 September 2014

Bantuan Untuk Petani Garam Jepara Masih Kurang



pak Khalimin Ketua kelompok petani garam

Jepara – Saat ini petani garam di kabupaten Jepara sudah merasakan manisnya air laut. Lahan garam yang digarap selama berbulan-bulan kini sudah menuai hasil. Garam-garam sudah memenuhi lahan mereka ada yang dijual pada pengepul , sebagian ada yang dimasukkan gudang untuk disimpan. Garam terbagi atas dua kualitas kualitas umum dan kualitas bagus.

“ Untuk membuat kualitas bagus sih kami bisa , tetapi perlu modal besar untuk membeli isolator atau plastic membrane. Per meter yang kualitas biasa Rp 7.500 satu meja Kristal dengan ukuran 10 meter kali 15 meter butuh dana 11 juta lebih “, kata Khalimin ketua kelompok petani garam “ Garam Makmur “ desa Panggung kecamatan Kedung.

Khalimin mengatakan , pada tahun 2013 yang lalu dia memang mendapatkan bantuan plastic geomembran namun ketika dipasang di lahan hanya separohnya saja. Karena tidak ada dana iapun membeli plastic biru yang harganya lebih murah dan dan disambungkan jadi satu di lahan. Ini semua dilakukan agar bantuan itu bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.

“ Untuk hasilnya ada peningkatan harga karena kualitas garam yang lebih baik. Perkwintalnya terpaut Rp 10 ribu . Garam menggunakan meja Kristal tanah perkwintal saat ini sekitar 38 ribu rupiah . Tetapi garam yang menggunakan gemembran bisa mencapai Rp 48 ribu setiap kwintalnya “, kata Khalimin pada FORMASS, Senin (15/9).

Khalimin mengatakan produk garam tahun ini ada peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun yang lalu. Sampai bulan September ini dia telah memanen garam sekitar 250 keranjang. Padahal tahun lalu 100 keranjang dia tidak dapat karena panas yang kurang. Oleh karena itu jika panas satu bulan lagi hasil garam di lahannya bisa berlipat 2 -3 kali jika dibandingkan tahun yang lalu.


Geo membran biru hanya dua  meja , kurang modal

“ Harga garampun  masih stabil kemarin ada penurun sedikit , namun saat ini masih kembali normal lagi . Kemungkinan petani mulai memasukkan garam untuk disimpan di gudang . Sehingga permintaan akan garam naik kembali “, tambah Khalimin.

Untuk tahun 2014 ini dia tidak tahu dapat bantuan lagi atau tidak. Namun demikian dia sebagai kelompok garam berharap agar pemerintah tetap memberikan bantuan atau pembinaan terhadap petani garam. Selain bantuan berupa geomembran juga pelatihan pembuatan garam dengan kualitas yang bagus agar harga terdongkrok naik. Kalau tidak mencarikan solusi bagaimana petani garam bisa mendapatkan isolator atau geomembran untuk meja kristalisasi.

“ Kami semua ingin meja kristal menggunakan geo mebran atau isolator namun karena keterbatasan dana maka hal itu sulit tercapai. Nah inilah keluhan kami selaku petani garam. Bagaimana cara agar kami bisa alih teknologi menggunakan isolator “, harap khalimin. (Muin)


Haji Aman dan Lancar bersama KBIH " Al-Firdaus" Jepara hubungi di  085 290 375 959



Minggu, 24 Agustus 2014

Petani Garam Demak Panen Raya Garam, Berharap Harga Tidak Anjlok



Demak – Petani Garam di kecamatan Wedung kabupaten Demak bulan Agustus ini telah panen raya. Seluruh lahan tambak garam di 6 desa yaitu Kendalasem, Tedunan, Kedungkarang, Kedungmutih, Babalan , dan Berahan Wetan sudah menuai hasil. Rata-rata mereka menjual langsung hasil garamnya pada pengepul yang kemudian di pasarkan ke wilayah lain.

“ Untuk panen perdana biasanya para petani garam menjual seluruh hasil garamnya. Selain untuk biaya pengolahan lahan dan membeli peralatan juga harga garam masih bagus “, kata Busri pengepul garam krosok dari desa Kedungmutih pada FORMASS, Rabu (20/8).

Busri mengatakan harga garam saat ini masih lumayan tinggi dibandingkan tahun yang lalu. Selain pasokan garam di pabrik –pabrik kebanyakan sudah menipis . Pembuatan garam pada musim ini juga sulit karena awal-awal sering turun hujan. Sehingga waktu panen raya agak mundur dibandingkan tahun yang lalu.

“ Tetapi untuk bulan Agustus ini semua petani kelihatannya sudah panen garam semua. Garam-garam mereka langsung dijual pada para bakul termasuk saya, Harga garam saat ini berkisar 400 – 500/kg tergantung kualitasnya “, tambah Busri.

Munasikun (55) petani garam dari desa Kedungmutih mengatakan, musim garam tahun ini memang mundur dibandingkan tahun yang lalu. Biasanya bulan Mei atau Juni sudah panen namun pada tahun ini panen raya jatuh di bulan Agustus. Dia termasuk salah satu petani garam yang menangguk hasil garam.



“ Sebelum lebaran saya sudah merasakan hasil garam meskipun belum banyak. Nah pada bulan Agustus ini boleh dikatakan panen raya karena setiap hari saya bisa memungut garam dari lahan ini “, kata Munasikun.

Munasikun mengaku lahan garam yang ia garap bukan miliknya sendiri. Ia menyewa lahan garam pada orang lain . Ia berharap musim garam tahun ini panjang seperti tahun yang lalu sehingga biaya sewa bisa tertutup dan ia dapat keuntungan yang banyak. Selain itu harga garam juga tidak anjlok setelah panen raya.

“ Ya sebagai orang kecil harapan saya ya harga garam jangan anjlok setelah panen raya. Biasanya setelah panen harga garam langsung anjlok . Bahkan kadang-kadang tidak ada bakul yang membeli garam “, tambah Munasikun.

Munasikun berharap pemerintah ikut campur dalam hal pembelian garam dari petani. Ketika harga garam jatuh atau anjlok pemerintah lewat dinas terkait diharapkan bisa mengendalikan harga garam. Pengalaman yang sudah-sudah harga garam selalu anjlok ketika panen raya.

“ Kalau tidak begitu ya bagaimana caranya kami ini bisa mendapatkan uang untuk kebutuhan harian sedangkan garam kami simpan . Bila harga naik kembali baru kita jual “, harap munasikun. (Muin)

BUTUH GARAM KROSOK DARI DEMAK  
HUBUNGI : HAMZAWI ANWAR - 085727809314

 

Rabu, 20 Agustus 2014

Garam Hasil Meja Kristal Isolator Di Hargai Lebih Mahal


Demak – Pada musim garam tahun 2014 ini salah satu petani garam di desa Kedungmutih kecamatan  mendapatkan bantuan berupa demplot pegaraman. Demplot itu berupa penggunaan media isolator (plastic) pada meja kristalisasi garam. Biasanya petani membuat meja kristalisasi garam langsung berupa tanah.

“ Setelah saya coba menerapkan media isolator ini ada peningkatan dari garam yang kami panen dari meja kristalisasi , selain bersih juga warnanya lebih putih “, kata Musa Abdillah petani garam Kedungmutih yang lahannya dijadikan demplot percontohan dari Kementrian Perindustiran.

Musa mengatakan setelah dia menggunakan meja isolator hasil garam dalam satu meja ketika di panen  juga mengalami peningkatan. Jika dengan menggunakan meja tanah setiap panen hanya 39 keranjang dengan bobot 30 kg. Tetapi setelah dia menggunakan meja isolator garam yang dipanen bisa mencapai 44 keranjang dengan berat rata-rata 35 kg.

“ Sehingga kami hitung dalam satu kali ambil saja selisihnya sekitar 370 Kg . Jika dalam satu bulan kita ambil 5 kali selisihnya sudah 1.850 kg. Jika kita hitung dalam satu kali masa panen bisa mencapai 9.250 Kg kan lumayan banyak“, ujar Musa Abdillah.



Dari segi harga menurut Musa garam dengan media isolator ini juga lebih mahal . Sementara ini setiap kilogramnya terpaut Rp 100 dan perkwintal Rp 10 ribu. Sehingga dari percontohan yang ia kerjakan ini ia sudah bisa menarik kesimpulan bahwa penggunaan media isolator bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas garam.

“ Yang lebih prospektif lagi garam dari hasil media isolator ini banyak di cari para pengepul garam. Mereka sudah mengambil sampel di lahan kami hasilnya mereka tertarik dan mau membeli garam dengan harga yang lebih bagus dibandingkan  garam dari meja tanah “, kata Musa lagi

Oleh karena itu ke depan ia akan memberdayakan anggota kelompoknya untuk membuat garam dengan media isolator ini. Namun ada kendala yang menghadang berkaitan dengan biaya isolator yang cukup mahal.Oleh karena itu dibutuhkan peran lembaga keuangan untuk membiayai alih tehnologi ini.

“ Ya mudah-mudahan ada lembaga keuangan atau perbankan yang mau membiayai kami untuk alih tehnologi dari meja kristalisasi tanah ke media kristalisasi garam isolator ini “, harap Musa. (Muin)


Senin, 07 Juli 2014

PEMBUATAN GARAM BERYODIUM

       
»





Garam konsumsi selain harus memenuhi persyaratan kadar NaCl minimal 94,7%, juga harus mengandung iodium berkisar antara 30-80 ppm (30-80 mg iodium dalam 1kg garam). Perlunya penambahan iodium ini (ditambahkan dalam bentuk KIO3 kalium iodat) dimaksudkan untuk mencukupi kebutuhan tubuh manusia akan zat iodium. Apabila tubuh kekurangan zat ini akan menyebabkan membesarnya kelenjar Thyroid yang lebih dikenal dengan nama penyakit gondok.
Tetapisebenarnya ada penyakit lain yang justru membahayakan yaitu tidak sempurnanya perkembangan intelegensia-kecerdasan maupun pertumbuhan tubuh yang tidak normal. Masalah terakhir inilah yang sangat membahayakan masa depan generasi muda bangsa.
Pengertian tentang Garam Beryodium
Adalah garam konsumsi yang mengandung komponen- komponen utama Natrium Clorida (NaCI) minimal 94,7%, air laut maksimal 5% dan Kalium lodat (K103) sebanyak 30-80 ppm (mg/kg) serta senyawa-senyawa lainnya.
Keppres No. 69/1994
Garam konsumsi didasarkan pada dasar hukum Keputusan Presiden Republik Indonesia No 69/1994 Tanggal 13-10-1994  tentang pengadaan garam beryodium serta SK Memperindag No. 77/M/SK/5/1995 tanggal 04-05-1995 tentang persyaratan tehnis pengolahan, pengawasan dan pelabelan garam beryodium memberikan petunjuk tehnis untuk pengadaan garam beryodium yang memenuhi syarat
Peralatan proses iodisasi
Proses iodisasi  harus dilakukan secara mekanis dan kontinyuuntuk menjamin Homogenitas kandungan iodium dalam garam, peralatan atau mesin yang di gunakan untuk iodisasi antara lain :
1. Molen
2. Mesin dengan pengering putar
3. Belt Conveyor
4. Screw Conveyor
5. Sprayer( tekanan cukup tinggi)
Cara kerja
  • Timbang garam yang akan di iodisasi 
  • Masukan garam yang akan di iodisasi ke dalam bak pengadukan yang telah di siapkan dan di ratakan permukaannya dengan ketebalan 5 Cm.
  • Masukan larutan KI03 ke dalam tabung alat sprayer yang telah di buat sesuai dengan formula yang di tentukan.
  • Lakukan penyemprotan 1/3 bagian dari kebutuhan dan di ulang secara merata sambil diaduk sampai Homogen
  • Lakukan uji hasil dengan iodine test, bila belum di dapat hasilnya yang memenuhi syarat, lanjutkan pengadukan sampai mutu terpenuhi.

Formula
Untuk mendapatkan garam beriodium dengan kualitas 40 – 50 PPM maka formula sebagai berikut :
  1. 1. Garam                                     : 25 ton          : 20 ton
  2. 2. KI03                                         : 1 kg               : 1 kg
  3. 3. Air pelarut KI03                      : 25  liter         : 20 liter
Adapun kebutuhan larutan Ki03 tergantung dengan jumlah garam beriodium yang akan di produksi. 

PROSES PEMBUATAN GARAM BERIODIUM
Bahan Baku
a. Garam
Garam yang di gunakan sebagai bahan baku adalah garam yang putih, bersih dan kering dengan kadar air maksimal 5 %. Apabila  kedua hal tersebut diatas tidak terdapat dalam dalam garam yang akan di gunakan sebagai bahan baku, maka harus dilakukan pencucian terlebih dahulu sampai putih dan bersih dan kering.
Bahan baku garam harus memenuhi persyaratan sebagai berikut
  1. Kemurnian minimal 94,7%
  2. Ukuran partikel/butir berkisar antara 1-1,5 mm.
  3. Kadar air tidak lebih dari 5%
  4. Mempunyai sifat curai.
  5. Mempunyai Bulk Density (berat jenis) kira-kira sama dengan air.
Kalium  Iodat ( Kio3)
Persyaratan umum Kalium Iodat yang digunakan yakni:
  • Untuk bahan pangan (food grade)
  • Kadar KIO3 minimal 99%
  • Kehalusan 100 mesh
  • Tidak mengandung logam berat berbahaya seperti Pb, Hg, Zn, Cu, As
Penyiapan larutan iodat yang diperlukan untuk Iodisasi dihitung dengan standar kadar iodium 50 ppm, artinya 50 iodium per kilogram garam. Perbandingan jumlah air untuk melarutkan kalium iodat dan jumlah garam yang harus dicampurkan sangat tidak seimbang. Masalah pencampuran kalium iodat, air dan garam hingga homogen dalam mesin iodisasi merupakan hal yang sangat penting.
Air
Air yang digunakan sebagai pelarut harus memenuhi syarat sebagai air minum.
Tabel Perbandingan Garam KIO3 dan Air untuk Mendapatkan Garam yang Memenuhi Syarat 50 ppm

Garam (kg)
KIO3 (gr)
Air (Liter)
50
2,5
0,05
100
5
0,10
200
10
0,20
300
15
0,30
400
20
0,40
500
25
0,50
600
30
0,60
700
35
0,70
800
40
0,80
900
45
0,90
1000
50
1
2000
100
2
3000
150
3
4000
200
4
5000
250
5
6000
300
6
7000
350
7
8000
400
8
9000
450
9
10.000
500
10
20.000
1000
20
30.000
1500
30
40.000
2000
40
50.000
2500
50

Teknologi  Proses Produksi Garam  Beryodium
Teknologi pengolahan garam beryodium dilakukan melalui  proses-proses sebagai berikut :
  • proses pencucian
  • proses penirisan / pengeringan
  • lodisasi
  • pengemasan dan pelabelan

Proses pencucian garam
  • Pencucian garam dimaksudkan untuk membersihkan garam dari kotoran yang terkandung dalam garam berupa pasir, lumpur dan untuk mengurangi kandungan kalsium (Ca ) Sulfat ( SO4 ) dan senyawa tak larut lainnya.
  • Sebagai larutan pencuci digunakan larutan garam jenuh atau Brine dengan kepekatan antara 20-25 Be dengan kandungan magnesium ( Mg ) mak 10 PPM. Perbandingan larutan pencuci terhadap garam minimal 1:6.
  • Larutan garam dapat dibuat  pada bak – bak dari tembok semen yang saling berhubung sehingga larutan dapat mengalir dari bak awal ke bak akhir secara limpahan (over flow )
  • Sebelum di lakukan pencucian, gumpalan garam di pecah terlebih dahulu dengan crusher sambil dialiri larutan pencuci, selanjutnya melalui selokan talang masuk kedalam bak – bak pencucian.
  • Larutan pencucian dari bak penampung dapat di daur ulang untuk mencuci kristal garam yang telah digiling. Sedangkan larutanpencucian yang sudah pekat ( melebihi 25 Be ) perlu digulirkan dengan air tawar atau air laut.
  • Proses pencucian dilakukan dengan memasukan kristalisasi garam kedalam bak-bak penampung ( tembok semen yang berisi larutan pencuci BRINE ) lalu secara mekanis garam dipindahkan dari bak pertama sampai kebak terakhir.
  • Untuk memperoleh hasil yang baik dilakukan pencucian secara bertingkat sebanyak 5-6 kali ( dapat di gunakan 5-6 bak – bak tembok semen yang ukurannya bervariasi tergantung pada kapasitas produksi garam ).
  • Pencucian garam dapat dilakukan pula dengan menggunakan peralatan mekanis seperti STATIC DRAINER, SCREW CONVEYOR atau MIXING CHAMBER. 
Proses Pengeringan Garam
pengeringan garam dilakukan dengan maksud agar Lindi garam yang masih tercampur dengan air agar tuntas, dengan cara ditiriskan dan air yangmasih ada dapat hilang, sehingga kualitas garam menjadi lebih tinggi. Pengeringan dapat dilakukan dengan jalan membuat gunung-gunungan garam dan dibiarkan sampai beberapa hari, baru kemudian disimpan dalam gudang penyimpanan sebelum  dilakukan proses iodisasi.
Proses Penirisan
  • Dengan menggunakanalat Centritue untuk mengurangi kandungan air, sehingga mempersingkat waktu pengeringan.
  • Menimbungaram di tempat terbuka dengan lahan yang tidak kedap / menahan air selama kurang lebih 4 hari.
  • Untuk mendapatkan kadar air 5%, dilakukan pengeringan lanjutan, sepertidalamtungku putar atau Oven.
Kemasan dan label
Syarat-Syarat Kemasan:
Garam konsumsi yang diproduksi untuk diperdagangkan harus dikemas dalam wadah yang tertutup rapat, kedap air atau plastik yang memiliki ketebalan 0,45-0,6 mm, dengan warna transparan.
Syarat-syarat label:
Pada wadah/kemasan garam beriodium harus tertera keterangan-keterangan yang jelas/terang yang dicetak sebagai berikut:
  • Nama Perusahaan
  • Kandungan Kalium Iodat 30-80 ppm
  • Berat isi setiap kemasan dalam satuan gram atau kg.
  • Tanggal pembuatan/produksi (Kode Produksi)
  • Nomor pendaftaran dari Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan Kementerian Kesehatan.
  • Alamat Perusahaan
Standar berat isi kemasan (netto) garam konsumsi beriodium yang diijinkan untuk beredar pada tingkat pasar adalah:
  • Isi bersih 5 kg           (5.000 gram)
  • Isi bersih 4 kg           (4.000 gram)
  • Isi bersih 3 kg           (3.000 gram)
  • Isi bersih 2 kg           (2.000 gram)
  • Isi bersih 1 kg           (1.000 gram)
  • Isi bersih 0,5 kg        (500 gram)
  • Isi bersih 0,25 kg      (250 gram)
  • Isi bersih 1 ons         (100 gram)
Cara Pengemasan:
  • Gunakan timbangan atau takaran yang memenuhi syarat kemetrologian sehingga dapat menjamin terpenuhi berat isi kemasan sesuai dengan yang tertera di label.
  • Tutup kemasan dengan menggunakan alat laminating atau alat pemanas yang dapat menjamin tidak terjadinya kebocoran pada kemasan tersebut.
PROSES PEMBUATAN GARAM BERIODIUM JENIS CURAI

DAFTAR PUSTAKA
  1. Aris Kabul, 2011. Ramsol,Dirjen KP3K Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia    Jakarta.
  2. Buku Panduan Pembuatan Garam Bermutu 2002. Badan Riset Kelautan dan Perikanan.Pusat Riset Wilayah Laut dan  Sumberdaya  Nonhayati. Proyek Riset Kelautan dan Perikanan .
  3. Pemberdayaan Garam Rakyat.2003. Direktorat Jendral Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran Departemen Kelautan dan Perikanan
  4. Panduan Teknis Garam Beryodium 2010, perusahaan garam rakyat PT.Apel merah, Rembang