 |
Nusron Wahid |
Bersama Gus Yaqut membasiskan PMII di Univesitas Indonesia. Kecapakan
gerakan Nusron Wahid terbilang istimewa bagi para sahabatnya di PMII, terutama
ketika mampu memenangkan pertarungan bursa Ketua Umum PB PMII. Bagaimana tidak,
dalam sejarahnya belum pernah PMII dipimpin oleh wakil Jakarta, biasanya Jawa
Timur dan Jogyakarta.
Dari sana Nusron terus berkibar. Personalitas politiknya mampu membuat
banyak orang berdecak kagum. Gaya bicaranya ceplas-ceplos tak peduli siapa yang dihapainya, kiyai sepuh sekalipun.
Ada yang bilang cara berkomunikasi Nusron itu suul adab, tapi sekaligus di
sayang para kiyai. Sosoknya ibarat lagu SLANK; I hate you but I miss you..
Tipikal sebagai politisi muda NU kental terasa pada
Nusron yang aktif terlibat dalam gerakan pluralism dan anti kekerasan. Dalam
banyak kesempatan terutama yang tampak di media televisi, Nusron tampil gigih
menentang kekerasan yang dilakukan kelopmpok-kelompok sipil dan serta
senantiasa menjaga perdamaian pada hari-hari keagamaan dengan mengerahkan
Banser diberbagai penjuru Indonesia.
Sebagai pemimpin ormas Pemuda, Nusron kreatif dan
peka melihat kebutuhan masyarakat dalam akses pada finansial. Sebagaimana kita
ketahui bahwa akses pada keuangan perbankan hanya bisa dinikmati oleh kaum
kelas menengah ke atas.
Tahun lalu GP Ansor menggelar even nasional di
Solo bertajuk “The 1st International Islamic Financial Inclusion Summit (IIFIS)
di Solo, menghadirkan penentu kebijakan nasional, pelaku bisnis dan semua
kalangan yang konsen dengan gerakan keuangan mikro.. GP Ansor dibawah NUsron
sedang menebar 1300 BMT dipelbagai tempat di Indonesia. Sebuah ambisi yang
maslahah
Dalam hal energy dan lingkungan hidup, beberapa
bulan lalu Nusron bersama GP Ansor se Jawa menggelar Istigosah Qubro menentang
berdirinya PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) di Keling Jepara. Gerakan
ini menandai lemahnya ambisi mafsadah yang dirancang Badan Tenaga Antom
Nasional (BATAN).
Menjelang Pileg, tak da Gambarnya di jalanan,
seperti tak pernah mau nongol ke public, kalaupun ada hanya stiker menyebar.
Mungkin Nusron percaya, blusukannya ke desa-desa selama menjadi Anggota DPR-RI,
perjumpaanya dengan banyak tokoh local di dapil Jepara Kudus Demak, dipandang
sudah cukup baginya untuk kembali melaju di kancah politik nasional.
Bravo politisi muda NU!
Nusron Wahid, S.S. adalah seorang politikus kelahiran Kota Kudus pada 12
Oktober 1971. Ia merupakan anggota Partai Golkar yang juga memenangkan pemilu
legislatif dari partai berlambang pohon beringin tersebut.
Bermodalkan dukungan dari 13.157 suara rakyat Kudus, ia berangkat ke
Senayan sebagai anggota komisi VI di DPR RI. Di komisi ini ia bertugas sebagai
pengawas kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan perdagangan,
perindustrian, investasi, koperasi, UKM dan BUMN, dan Standardisasi Nasional.
Pada Bulan Januari 2011 namanya dikenal karena
terpilihnya ia sebagai Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang berafiliasi
dengan organisasi agama terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama.
Pemilihan ketua organisasi pemuda NU tersebut
dilangsungkan sebanyak dua putaran. Putaran pertama terdapat sepuluh kandidat
yang maju. Hasilnya, Nusron memperoleh 257 suara, Marwan Ja’far 183 suara,
Khatibul Umam Wiranu 40 suara, Syaifullah Tamliha 24 suara, Anwar 1 suara,
Choirul Sholeh 1 suara, Malik Haroemen 1 suara,
Munawar Fuad 3 suara, dan Yoyo Arifianto 1 suara. Dari hasil itu hanya Nusron
dan Marwan yang layak lolos melanjutkan putaran kedua.
Di putaran selanjutnya, Nusron Wahid akhirnya
terpilih menjadi Ketua Umum PP GP Ansor setelah mengalahkan Marwan Jakfar yang
juga merupakan seorang politisi dari PKB. Nusron Wahid mengungguli Marwan Jafar
dengan 345 dari jumlah total suara 506 suara.
Setelah resmi terpilih, ia mencoba untuk
mengembangkan unit usaha sebagai pondasi ekonomi dalam menjalankan organisasi.
Oleh karena itu, semua unit usaha yang dilakukan oleh kader Ansor digalakkan
untuk membangun organisasi yang maksimal.
Selain ranah ekonomi, Nusron juga memperkuat
kaderisasi anggotanya untuk mempersiapkan kader-kader penerus di organisasinya
tersebut. Selain itu, Majelis Dzikir juga ditingkatkan keberadaannya oleh
politisi muda dari partai Golkar ini.
PENDIDIKAN
Sarjana Sastra di Universitas Indonesia
SMA Islam Al Ma'ruf Kudus
MTS Qutsiyyah Kauman Menara Kudus
MI Miftahutthalibin Mejobo Kudus
KARIR
Anggota Komisi VI DPR RI (2009 - 2014)
Komisaris PT CBN
Komisaris PT Palima Timada