Tampilkan postingan dengan label Tukang Ojek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tukang Ojek. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Oktober 2013

Ojek Sepeda Motor Bisa Hidupi Anak Dan Istri

Tukang ojek , hamim ( inzet )

Jepara - Sepeda motor bagi Hamim (40) warga desa Karangrandu kecamatan Pecangaan kabupaten Jepara merupakan alat pencari nafkah sehari-harinya, dengan sepeda motor itu ia dapat menghidupi anak dan istrinya . Pekerjaan sebagai tukang ojek ia jalani jauh sebelum ia berumah tangga .

Ketika itu ia baru lulus dari madrasah Tsanawiyah atau setingkat SMP karena untuk melanjutkan sekolah tidak ada biaya karena ditinggal mati ayahnya iapun mencoba bekerja sebisanya. Kebetulan kakaknya mempunyai profesi sambilan sebagai tukang ojek , yaitu mengantarkan tetangganya atau siapa saja yang ingin ke kota atau tempat lain menggunakan kendaraaan roda dua atau sepeda motor.

 Suatu hari kakaknya ada keperluan maka iapun disuruh untuk menggantikan kerja kakaknya , yaitu mengantarkan pelanggannya membawa dagangan ke pasar. Awalnya ia takut karena naik sepeda motornya belum pandai , namun karena keseringan menggantikan kakaknya itu maka iapun jadi terbiasa, bahkan oleh kakaknya iapun dibelikan kendaraan sepeda motor dengan cara ngangsur atau kredit.

“ Setelah punya motor sendiri meskipun dengan cara kredit  saya jadi semangat untuk ngojek , selain bisa mejeng pakai motor juga dapat duit untuk beli bensin , sisanya untuk bayar angsuran dan sisanya lagi bisa ditabung. Setelah banyak pelanggan saya jadi jatuh cinta pada pekerjaan ojek ini , bahkan setelah rumah tangga pekerjaan ojek saya tekuni sampai sekarang “, ujar Hamim yang setiap hari mangkal di Pasar Baru desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Jepara.

Hamim yang mengaku telah beranak dua mengatakan , pekerjaan ojek baginya merupakan pekerjaan pokoknya meskipun dihitung penghasilannya tidak begitu besar namun setiap harinya bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari walau dengan kondisi sederhana.
Oleh karena itu dari pagi hingga sore ia membawa sepeda motor kesayangannya itu ke pangkalan ojek untuk menunggu orang yang ingin diantarkan kemana saja . Jika pagi hari ia mangkal di Pasar Baru desa Kedungmutih menunggu para bakul pelanggannya untuk mengantarkan dagangan dari pasar ke rumahnya masing-masing, dari pagi sampai siang ia bisa mengantarkan 4-5 pelanggannya.

Sorenya setelah beristirahat sejenak di rumah iapun kembali keluar untuk mangkal di pertigaan Pecangaan Jepara yang menjadi pangkalan keduanya karena ia mempunyai kartu anggota untuk mangkal ditempat ini.

Dari pertigaan Pecangaan ini jika kondisi ramai ia bisa mengantarkan 2 -3 orang , namun jika kondisi sepi paling sehari dapat 1 penumpang bahkan kadang-kadang hanya nongkrong saja melihat lalu lintas sekitar.


“ Ya bagi saya pekerjaan ojek ya lumayan hasilnya , jika mau keluar seharian dari pagi hingga sore kita bisa membawa pulang uang Rp 50 ribu – 60 ribu seharinya. Oleh karena itu pekerjaan ojek ini bagi saya merupakan pekerjaan pokok saya , sambilan saya menggarap sawah jika musim tanam padi, sedang istri dirumah membantu dengan terima pekerjaan jahit dari usaha konveksi milik tetangga. Semua itu untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga Alhamdulillah cukup meski  kondisi seadanya namun kami sekeluarga merasa bersyukur “, aku Hamim yang dapat membuat rumah dari hasil mengojek.(Muin)



Senin, 21 Oktober 2013

Pilihan Petinggi Tukang Ojek Ketiban Rejeki

Maksum antar penumpang yang biasa naik angkot

Jepara - Pagi hari ini Selasa (22/10) di 54 desa se kabupaten Jepara di selenggarakan pilihan petinggi. Kendurian besar warga desa setiap 6 tahun sekali untuk memilih pimpinan desa. Seluruh warga desa menggunakan hak pilihnya untuk menentukan petinggi.

Calon-calon yang berlaga dalam ajang pilihan petinggi mengeluarkan berbagai jurus untuk memikat pemilih. Salah satunya dengan menyediakan kendaraan penjemputan pemilih dari rumah sampai dengan TPS. Akibatnya semua  angkutan desa di booking oleh calon petinggi.

Dengan tidak beroperasinya angkutan desa tersebut menjadi rejeki tersendiri bagi tukang ojek . Biasanya satu hari hanya mendapatkan beberapa tarikan saja. Tetapi pada hari ini order mengantarkan orang jadi berlipat. Sampai tujuan langsung kembali ke pangkalan , di pangkalan sudah menunggu penumpang lainnya.

“ Alhamdulillah berkah Pilihan petinggi hari ini , saya bisa bolak-balik mengangkut penumpang. Tak pakai antri langsung dapat penumpang”, aku Maksum tukang ojek yang biasa mengkal di pasar baru desa Kedungmutih Demak.

Maksum mengatakan, biasanya satu hari ia hanya mendapatkan 4 – 5 tarikan. Namun pada pagi hari ini ia sudah mengantarkan orang hampir 10 kali. Ia perkirakan satu hari ini jika sampai siang hari mungkin bisa dapat 20 tarikan.
“ Ini tadi saya udah ngantar orang pulang dari pasar lebih 10 kali , belum lagi nanti mengantar para bakul yang pulang ke rumah “, tambah Maksum.

Maksum mengaku menjadi tukang ojek sudah lebih dari dua puluh tahun. Setiap hari ia mangkal di pasar baru bersama puluhan temannya. Sehari jika kondisi ramai bisa membawa pulang hasil Rp 75 ribu – 100 ribu. Namun jika suasana pasar sepi sehari ia bisa membawa hasil Rp 50 ribu.

Dari hasil mengojek itulah ia bisa menyekolahkan anak , membiayai keluarga sehari-hari dan juga untuk keperluan lain. Dari sepeda motor satu karena ketekunanya dalam bekerja kini ia sudah bisa membeli motor untuk anaknya.

“ Alhamdulillah hari ini benar-benar saya ketiban rejeki . Biasanya saya antri disini untuk dapat penumpang tetapi hari ini tanpa antri penumpang datang sendiri “, kata Maksum. (Muin)






Senin, 16 September 2013

Tukang Ojek Bunderan Pecangaan , Ada Siang dan Malam

 
Mashudi siap mengantar penumpang 
Tukang ojek saat ini menjadi salah satu pekerjaan yang  bisa menghidupi keluarga. Oleh karena itu ditempat-tempat strategis mangkal puluhan sepeda motor yang menunggu penumpang. 

Seperti halnya di seputaran Bunderan (pertigaan) Pecangaan kita dapat menjumpai puluhan motor dengan tukang ojeknya menanti penumpang untuk diantar ketempat yang dinginkan . Saking banyaknya tukang ojek maka jadwal mangkal mereka di atur siang dan malam.

“ Kebetulan saya hari ini dapat jatah siang , sekitar jam 7 pagi saya keluar dari rumah dan pulangnya nanti siang ,atau kalau udah dapat penghasilan yang cukup untuk belanja orang yang dirumah “, ujar Mashudi (43) tukang ojek warga desa Karangrandu pada kabarseputarmuria.


Legiman dan Mashudi tunggu penumpang

Mashudi mengatakan , bekerja sebagai tukang ojek sudah dilakoninya sejak belum berumah tangga . Awalnya hanya mengantar tetangga yang belanja ke pasar , lama kelamaan dapat langganan sehingga profesi ini ia jalani sampai sekarang. Dengan modal motor iapun setiap hari mencari rupiah diseputaran Bunderan Pecangaan setiap harinya.

Jika kondisi sedang ramai sehari ia bisa membawa pulang Rp 75 ribu – Rp 100 ribu , namun jika kondisi sedang sepi Rp 50 ribu pun dengan mudah didapatnya. Apalagi jika kondisi musim puasa menjelang lebaran perolehan tukang ojek jadi berlipat karena ramainya orang yang pergi ke kota untuk belanja . Biasanya jika ingin cepat sampai dirumah mereka naik ojek sepeda motor dan inilah yang menjadi rejeki tersendiri bagi tukang ojek.
                                                                       
“ Biasanya sih kalau puasa seperti ini penumpang ojek agak ramai , karena mereka ingin sampai dirumah dengan cepat . Jika naik angkot harus antri berlama-lama “, kata Mashudi .

Legiman (43) teman Mashudi yang juga tukang ojek mengatakan , profesi ojek baginya sudah tidak bisa ditinggalkan begitu saja . Selain hasilnya sudah dirasakan juga pelanggan .

Sudah banyak sehingga jika sehari tidak mangkal maka dia dicari oleh para pelanggannya.Dari bekerja sebagai tukang ojek ini ia bisa menyekolahkan anak dan juga mencukupi kebutuhan keluarga.

“ Ya karena udah merasakan nikmatnya tukang ojek , maka profesi ini terus saya jalankan sampai sekarang “, aku Legiman .

Bagi Mashudi , Legiman dan puluhan anggota Paguyuban Ojek Pecangaan (POP) kawasan seputaran Bunderan, Pasar dan terminal pecangaan adalah lahan sehari-hari untuk meraup nafkah.

 Mereka telah tergabung dalam paguyuban yang senantiasa mengharapkan pembinaan dari pemerintah. Selain kerja yang tenang mereka mempunyai harapan untuk bergabung dalam sebuah koperasi agar taraf kesejahteraan meningkat.

“Inginnya sih ada semacam koperasi untuk tukang ojek , sehingga kegiatan ekonomi bisa berjalan lancar misalnya membuat toko onderdil atau kegiatan simpan pinjam”, harap Mashudi , Legiman dan yang lainnya. (Muin)