Tampilkan postingan dengan label TUF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TUF. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Juli 2014

Inilah TEKNOLOGI ULIR FILTER (TUF) , Cara Baru Pembuatan Garam

PUGAR merupakan bagian PNPM Mandiri KP yang diprioritaskan untuk meningkatkan kesempatan kerja, kesejahteraan masyarakat pergaraman dan menciptakan Swasembada Garam Nasional. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya:
1. Meningkatkan kapasitas petambak garam rakyat;
2. Meningkatkan akses permodalan, pemasaran, informasi, serta ilmu
pengetahuan dan tekonologi;
       3. Meningkatkan produksi garam rakyat untuk mendukung swasembada garam
nasional;
       4. Meningkatkan kualitas garam rakyat.
Untuk mencapai tujuan tersebut makan pada tahun 2014 diprioritaskan agar para pemilik penggarap/ penyewa penggarap/ penggarap bagi hasil lahan yang memiliki luas lahan maksimal 1 (satu) Hektar menjadi prioritas utama dan bersedia mengaplikasikan Teknologi Ulir Filter (TUF) dan/atau geomembran (plastik); 
Secara sederhana  gambaran singkat penerapan Teknologi Ulir Filter (TUF) pada Program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR)
.  
A.  SECARA SEDERHANA DISAIN TUF:
1. Kolam penampungan utama
2. Ulir besar
3. Kolam penampungan.
4. Ulir kecil
5. Kolam penampungan air tua
6. Kolam penampungan air bitten (untuk pencucian garam)
7. Kolam kristalisasi 


   
Gambar 1. Disain Petak Tambak Teknologi TUF

B. PERSYARATAN TEKNIS DAN KRITERIA:  

1. Petak kristalisasi memanjang searah dengan arah angin,  
2. Petakan lahan tambak dibuat menurut elevasi.  
3. Sumber air harus cukup, lancar dan bersih dengan menempatkan filter
pada setiap petak.                                                                                                           4. Ukuran petakan disesuaikan dengan luasan lahan yang tersedia, dengan
persentase  sebagai berikut : 
a. kolam penampungan besar 32 % 
b. kolam ulir besar  17 % 
c. bak penampungan 2 % 
d. ulir kecil 19 % 
e. bak penampungan 2%
 f. kolam kristalisasi 25 % 
g. gudang 1 % h. jalan 2 %
5. Ketinggian air dipetak ulir besar dan kecil 5 cm dan petak kristalisasi 1015 cm
6. Sebelum dipanen harus ada sisa air di petak kristalisasi 1-2 cm 7. Masa panen 10 hari - 1 bulan.
 C. TAHAPAN PELAKSANAAN TUF: 
1. Persiapan Lahan 
2. Pengurasan Tambak  
3. Pembuatan Petak Tambak Garam  
4. Pembuatan Ulir Besar Dan Ulir Kecil  
5. Pembuatan Selokan/ Saluran Air  
6. Pembuatan Dan Pengerasan Petak Kristalisasi  
7. Pemasangan Kincir Angin  
8. Pemasangan Filter 
9. Pengukuran Kekentalan Air Garam (Boume)  1
0. Perataan Petak Kristalisasi  
11. Pembersihan Dan Perawatan Petak Kristalisasi 
12. Pemanenan Garam  
13. Pencucian Garam

  Ditulis oleh Ahmad Sobari, S.St.Pi. (Penyuluh Perikanan Pusat pada Pusat Penyuluhan KP) 

Sumber: Direktorat PMPPU Ditjen KP3K 2014 (Bahan Tayang Pembekalan Tenaga Pendamping Pugar  Tahun 2014).





Sabtu, 05 Juli 2014

Sanusi, Penemu Garam Industri di Indonesia


Bikin Kincir Tuyul untuk Lengkapi Teknologi Ulir Filter 

DIKENAL sebagai pengepul bawang merah di kampung halaman Kabupaten Cirebon, membuat Sanusi menjadi pendatang baru untuk di dunia pergaraman. Tak pernah terpikirkan olehnya akan mencicipi asinnya garam untuk mensejahterakan hidupnya seperti sekarang ini.
 
NELLY SITUMORANG, Cirebon

”Asinnya garam maniskan hidupku,’’ kalimat itu terlontar dari Sanusi, pria kelahiran Cirebon 3 Februari 1959, penemu teknologi baru dalam meningkatkan produksi garam di Cirebon, ketika
 INDOPOS (grup Jawa Pos) menyambanginya di rumahnya di Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat baru-baru ini.

Tak ada yang spesial dari penampilan Sanusi. Pria yang berhasil menemukan teknologi baru dalam meningkatkan produksi garam di Cirebon dari 80 ton per hektare per musim menjadi 120 ton per hektare per musim terlihat seperti petani umumnuya. Peci hitam dengan warnanya hampir memudar, kacamata, dan sebatang rokok yang selalu melekat di bibir pelengkap penampilan kesehariannya. 

Sebagai sosok yang tak pernah diam selalu melakukan percobaan membuatnya kaya akan inovasi dan ilmu. Meski hasil temuannya kadang dia tidak tahu harus menamai apa. Seperti kincir angin untuk melengkapi teknologi ulir filter (TUF) yang merupakan hasil temuannya untuk meningkatkan produksi garam disebut dengan kincir tuyul, lantaran dia tidak tahu lagi memberikan nama. Akan tetapi pilihan kata selalu berkesan dan mudah diingat. 

Nama Sanusi pun mulai dikenal publik lantaran hasil coba-cobanya berhasil melakukan terobosan baru, memproduksi garam dengan hasil spektakuler melalui TUF. Berawal dari coba-coba di depan rumah petakan-petakan kecil satu  meter persegi, mengubah air laut menjadi garam, karena hasilnya memuaskan, dia mengembangkan pada lahan 1 hektare. Lahan ini sebelumnya merupakan lahan sawah untuk padi kurang produktif. 

Tak disangka. Garam produksi dari tambaknya menjadi incaran perusahaan karena di atas kualitas yang dibutuhkan industri. Garam produksinya bisa mencapai 97 persen kandungan NaCl, sementara hasil produksi petambak tradisional 60-80 persen saja dan kandungan air pada hasil produksi tambak Sanusi bisa mencapai 0.5. R (ini istilah dari perusahaan yang kandungan airnya cukup baik, bahkan kalau 0.1 R sangat luar biasa di Indonesia jarang, karena dipengaruhi oleh kelembapan).

”Saat ini, saya harus menyuplay 10 ribu ton per bulan untuk meladeni perusahaan di dalam negeri. Bahkan, ada beberapa perusahaan yang gagal MoU lantaran saya tidak mampu mencukupi permintaan perusahaan yang sudah percaya akan kualitas garam di sini,’’ aku Sanusi. 

 Sanusi menjelaskan teknologi yang diterapkan tidak aneh-aneh, TUF adalah teknologi ulir filter. Air laut yang disedotnya hingga 5 kilo meter ke tengah laut dengan paralon besar, dimasukkan ke kolam penampungan yang disebut bak penuaan air lau berukuran 2 x 2 meter dengan ketinggian 1 meter (pola ini yang belum dilakukan petambak tradisional). 

Sebelum dialirkan, ke petakan-petakan tambak, ada filter menggunakan ijuk untuk membersihkan partikel lumpur, zeolit mempercepat kekentalan, arang batok, penjernih air,  lalu batu koral yang menyedot ion yang negatif, ion yang tidak baik untuk pembentukan proses garam untuk kualitas industri, tapi tanpa batu koral pun air sudah bagus (tua istilah air laut siap dialirkan ke tambak) dan proses pembentukan garam juga hasilnya sudah bagus. 

Filter tadi dilalui air baik dari laut ke penampungan, juga dari penampungan ke petakan tambak. Proses tersebut membuat garam Sanusi diakui di beberapa pabrik yang sudah melakukan kerjasama dengannya. Bahkan, kadar garam hasil produksinya lebih baik dari garam industri yang diimport selama ini. ”Bukan saya yang bilang kalau garam industri kita lebih bagus dari garam impor yang selama ini mereka gunakan, tapi produsen (user) yang mengakui,’’ ucap alumnus SMAN I Cirebon tersebut. 

Ulir kata Sanusi mempercepat produksi, penguapan dari air laut menjadi molekul yang membentuk kristal garam. Ulir dilakukan untuk epaporasi terjadi penguatan dan pengendapan, yang  mempengaruhi adalah angin, panas dan kelembaban di sekitar tambak. Perbedaan cara yang dilakukan Sanusi dengan produksi tradisional selama ini, hanya pola pengendapan air laut.

Sanusi melakukan pengendapan air laut terlebih dahulu, dalam bak 2 x 2 meter dengan ketinggian air 1 meter, sementara pola tradisonal mengalirkan air laut langsung ke petakan. Fungsi bak tadi untuk menuakan air laut sebelum di alirkan ke petakan-petakan, setelah air tua, baru dialirkan berulang-ulang pada petakan-petakan tambaknya. (ash)