Tampilkan postingan dengan label Unnes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Unnes. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juni 2014

Kebangkitan Kaum Duafa

Oleh Fathur Rokhman
MELALUI Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2014, Universitas Negeri Semarang (Unnes) telah menerima 3.372 calon mahasiswa baru. Dari jumlah itu, 1.399 di antaranya calon penerima beasiswa Bidikmisi. Kehadiran mereka di Unnes kian mengukuhkan harapan akan hadirnya kebangkitan kaum duafa.
Istilah kebangkitan kaum duafa disampaikan Mendikbud M Nuh saat menyampaikan orasi ilmiah pada acara Dies Natalis Ke-49 Unnes lalu. Ia merujuk pada sebuah fenomena sosial ketika anak-anak dari keluarga miskin bangkit menjadi kekuatan baru. Mereka akan tampil sebagai eksekutif, intelektual, pengusaha, bahkan pemimpin republik ini.
Beasiswa Bidikmisi sekaligus telah mematahkan asumsi bahwa perguruan tinggi hanya dapat diakses anak-anak dari keluarga berada. Sebaliknya, melalui peraturan yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mahasiswa dari keluarga miskin harus mendapat tempat minimal 20% jumlah kursi di perguruan tinggi. Beasiswa ini diharapkan menjadi pisau yang dapat memutus garis kemiskinan.
Jika dikawal dengan pengawasan yang memadai, Bidikmisi tidak hanya memberikan harapan bagi individu-individu penerima untuk melakukan mobilitas sosial dan ekonomi. Bagi bangsa Indonesia, beasiswa ini akan menciptakan kebangkitan kaum duafa. Anak-anak dari keluarga miskin akan segera tampil menjadi kaum terpelajar baru.
Jika proses ini berjalan baik, kebangkitan kaum duafa adalah berkah bagi bangsa Indonesia..
- - Fathur Rokhman
Ratusan ribu anak-anak muda dari keluarga miskin yang dulu tak punya harapan untuk menikmati pendidikan tinggi, berkat Bidikmisi bisa memperoleh kesempatan ini. Dengan modal pendidikan, mereka akan segera tampil menjadi pengusaha, eksekutif, bahkan pemimpin puncak republik ini.
Harapan ini sangat realistis, sebab Bidikmisi bukan sekadar bantuan biaya pendidikan. Perguruan tinggi pengelola Bidikmisi telah menyiapkan serangkaian program untuk mengembangkan bakat mahasiswa. Di Unnes, misalnya, semua penerima Bidikmisi diasramakan. Mereka mengikuti pelatihan kepemimpinan, berbahasa Inggris, kewirausahaan, dan terlibat dalam berbagai program pengabdian kepada masyarakat.
Kebangkitan kaum duafa relevan dengan kondisi sosial masyarakat kita saat ini. Sebab, dalam tradisi masyarakat Indonesia, pendidikan adalah alat mobilitas sosial yang paling efektif. Ini bahkan tidak hanya terjadi saat ini. Pada masa lampau, pada masa feodalisme dan kolonialisme, penguasaan ilmu pengetahuan membuat seseorang menjadi digdaya dan linuwih. Orang-orang dengan ke-linuwih-an ini, secara otomatis, mengemban tugas sosial lebih besar, sebagai pemikir dan pemimpin.
Untuk memastikan proses ini berjalan sesuai dengan harapan, sejumlah hal perlu dilakukan. Pertama,penyaluran Bidikmisi harus berjalan secara adil sehingga diterima oleh yang berhak. Perguruan tinggi telah membuat mekanisme yang ketat untuk memastikan Bidikmisi disalurkan dengan benar. Selain melalui dokumen pendukung, setiap pemohon Bidikmisi juga disurvei dan diperiksa kemampuan ekonominya.
Kedua, program pengembangan bakat perlu terus diperkuat sehingga potensi akademik dan nonakademik penerima Bidikmisi terasah. Para penerima Bidikmisi adalah siswa berkualifikasi unggul di berbagai bidang. Ini dibuktikan dengan prestasi akademik yang selama ini mereka raih. Ribuan di antara mereka memperoleh indeks prestasi kumulatif (IPK) nyaris sempurna, 4,0. Ribuan lainnya telah menyumbangkan gagasan melalui program kreativitas mahasiswa dan program penelitian lain.
Ketiga, selain belajar di kampus, mahasiswa Bidikmisi harus mulai dihadapkan pada persoalan sosial masyarakat dan bangsanya. Ini diperlukan supaya mereka, pada saatnya, siap menerima amanah menjadi pemimpin.
Jika proses ini berjalan baik, kebangkitan kaum duafa adalah berkah bagi bangsa Indonesia. Sebab, jika mereka menjadi pemimpin, diharapkan mereka akan menjadi pemimpin yang peka terhadap permasalahan kemiskinan dan ketidakadilan –sesuatu yang pernah mereka alami. Lantaran mereka pernah bergelut dengan kemiskinan, mereka berupaya sekuat tenaga untuk memerangi kemiskinan di negerinya.
Mari turut berpartisipasi mengawal kebangkitan kaum duafa. Mereka adalah kado istimewa bagi republik ini, bagi bangsa ini, bagi kita semua.
Sumber : UNNES

KHOIRUL KHASAN Mahasiswa Sastra Inggris UNNES Ikuti Pelatihan Instruktur di Vietnam



Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FBS Unnes Khoirul Hasan mengikuti Euro Asian Empowerment Training of Trainer in Vietnam di Hanoi, 24-29 April 2014. Ia mengikuti kegiatan internasional itu setelah lolos seleksi Dejava Foundation.
Program pelatihan tersebut menurutnya, diikuti oleh 30 peserta dari 6 negara, sedangkan Indonesia diwakili oleh 5 peserta, diantaranya dari Unnes, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Sebelas Maret dan Yayasan Al Azhar Cilacap.
Menurut Khoirul, menjadi seorang instruktur bukanlah sesuatu yang mudah, dibutuhkan kemampuan dan skill khusus, harus menguasai teknik, memahami publik speaking, wawasan global dan kemampuan pemecahan masalah.
Lanjutnya, selain mengikuti pelatihan menjadi instruktur, juga dibekali kemampuan menjadi motivator, siap menjadi pelatih relawan berbagai sektor baik ekonomi, politik dan sosial budaya.
“Selain itu, saya juga diberi kesempatan menampilkan budaya Indonesia dalam sebuah pameran budaya yang dikunjungi lebih dari 20 negara, menampilkan kesenian berbasis multikultur, sharing perkenalan dan kesenjangan budaya dari berbagai negara serta mencari solusi atas permasalahan global,” katanya.
Sumber : UNNES



RAENI Penerima BIDIK MISI Anak Tukang Becak Wisudawan Terbaik UNNES

                                                                                                                                  UMAS/LINTANG HAKIM
                                                                 Raeni menuju Auditorium Unnes untuk mengikuti wisuda diantar oleh Mugiyono,                                             ayahnya, Selasa (10/6).

Perhatian para keluarga wisudawan dan puluhan wartawan langsung tersita pada Raeni, Selasa (10/6). Pasalnya, wisudawan dari Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Unnes ini berangkat ke lokasi wisuda dengan kendaraan yang tidak biasa. Penerima beasiswa Bidikmisi ini diantar oleh ayahnya, Mugiyono, menggunakan becak.

Mengapa becak? Ayahanda Raeni memang bekerja sebagai tukang becak yang saban hari mangkal tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal. Pekerjaan itu dilakoni Mugiyono setelah ia berhenti sebagai karyawan di pabrik kayu lapis.  Sebagai tukang becak, diakuinya, penghasilnnya tak menentu. Sekira Rp10 ribu – Rp 50 ribu. Karena itu, ia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp450 ribu per bulan.

Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Penerima beasiswa Bidikmisi ini beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Sempurna. Prestasi itu dipertahankan hingga ia lulus sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawan terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96. Dia juga menunjukkan tekad baja agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya.

"Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Pengin-nya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi," kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut.

Tentu saja cita-cita itu didukung ayahandanya. Ia mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah agar bisa menjadi guru sesuai cita-citanya.

"Sebagai orang tua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon," kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu.

Rektor Prof Dr Fathur Rokhman MHum mengatakan,apa yang dilakukan Raeni membuktikan tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi.

"Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang, Raeni tetap bersemangat dan mampu menunjukkan prestasinya. Sampai saat ini Unnes menyediakan 26 persen dari jumlah kursi yang dimilikinya untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni," katanya.

Ia bahkan yakin, dalam waktu tak lama lagi akan terjadi kebangkitan kaum dhuafa. "Anak-anak dari keluarga miskin akan segera tampil menjadi kaum terpelajar baru. Mereka akan tampil sebagai eksekutif, intelektual, pengusaha, bahkan pemimpin republik ini," katanya.

Harapan itu terasa realistis karena jumlah penerima Bidikmisi lebih dari 50.000 per tahun. Unnes sendiri menyalurkan setidaknya 1.850 Bidikmisi setiap tahun.

Sumber: unnes.ac.id 


Senin, 09 September 2013

Yatim Piatu Bisa Terus Menuntut Ilmu Di Unnes Karena BIDIK MISI

Rektor Unnes Prof Dr Fathur Rokhman MHum bersama Pembantu Rektor III Prof Dr Masrukhi MPd, Ketua LP2M Drs Bambang Budi Raharjo MSi, dan Dekan FIS Dr Soebagyo MPd berbincang dengan Umi Kholifah dan keluarganya di Demak, Jumat (2/8).

Demak -  Rumah beratap joglo itu terletak di RT 8 RW 3 Desa Karanganyar, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak. Dari Jalan Raya Demak-Kudus bisa dijangkau hanya dalam 5 menit. Bangunannya tampak sudah tua. Meski berdinding permanen, catnya tampak kusam. Ada tambalan semen di sana-sini. Lantainya terbuat dari tegel hitam yang kotor oleh debu.
Di rumah itulah Umi Kholifah tinggal bersama kakak perempuannya, Titi Ambarwati. Umi adalah mahasiswa Jurusan Teknologi dan Jasa Produksi (TJP) Fakultas Teknik Unnes penerima Bidikmisi. Ia langsung menyambut Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman Mhum ketika Jumat (2/8) siang tadi bertandang ke rumahnya.
“Rumah saya itu, Pak, nomor dua dari sini,” kata gadis berkerudung coklat itu kepada Rektor dan rombongan.
Meski tampak grogi, Umi tak bisa menyembunyikan kegembiraannya dikunjungi Rektor. Lebih-lebih, dalam rombongan ada juga Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof Dr Masrukhi MPd, Ketua LP2M Drs Bambang Budi Raharjo MSi, dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Dr Soebagyo MPd. Dengan malu-malu ia memperkenalkan dua kakaknya, Titi Ambarwati dan Saeful Arif.
Umi adalah bungsu dari lima bersaudara. Kedua orang tuanya telah tiada. Ayahnya , Zaenuri, meninggal 2008 silam setelah beberapa lama menderita stroke. Adapun ibunya, Suharti, sudah meninggal dua tahun sebelumnya. Sejak saat itu Umi tinggal dengan kakak perempuannya, Titi, yang ibu rumah tangga dan kakak iparnya yang bekerja sebagai sopir truk.
“Dua kakak perempuan saya sudah menikah dan berkeluarga. Kalau Mas Anwar kerjanya di Kalimantan. Ini di rumah karena mau lebaran,” kata Umi.
Di keluarganya, Umi adalah satu-satunya anak yang bisa menikmati pendidikan tinggi. Berkat beasiswa Bidikmisi ia bisa belajar tanpa harus membayar sepeser pun. Umi bahkan menerima uang saku sebesar Rp600 per bulan dan sejumlah pelatihan pengembangan diri. Kesempatan ini tentu membuat Umi dan keluarganya bungah. Si bungsu punya harapan besar mewujudkan cita-citanya menjadi guru sekaligus pengusaha bidang kuliner.
“Setelah lulus MA saya ingin kuliah tapi jangan sampai merepotkan Mbak dan Mas. Intinya itu. Alhamdulillah permohonan Bidikmisi saya diterima. Kalau tidak ada Bidikmisi nggih mboten saget kuliah,” lanjut alumni MA Masroatul Huda ini.
Umi bukan satu-satunya anak muda yang terbantu oleh Bidikmisi. Ada lebih dari 3.600 mahasiswa Unnes yang telah menerima beasiswa itu. Jumlah itu akan bertambah karena pada tahun 2013 ini Unnes kembali menerima 1.750 mahasiswa berprestasi dari keluarga tidak mampu dengan biaya penuh dari Bidikmisi.
“Ini sudah jadi komitmen Universitas Negeri Semarang untuk menyediakan paling sedikit 20 persen kuta mahasiswa untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Tahun ini, jika diakumulasi, bahkan sudah mencapai 26 persen. Semoga anak-anak muda yang cerdas ini punya masa depan cerah,” ungkap Rektor usai kunjungan itu.