Senin, 05 Agustus 2013

Tradisi Lebaran Nyalakan Kembang Api dan Petasan

Kembang api dan petasan semarakkan lebaran



Entah siapa yang memulai kita tidak tahu. Selain memakai baju baru lebaran kurang ngeh jika tidak sulut kembang Api dan Petasan. Meski saat ini ada larangan namun tradisi ini masih ada dimana-mana.

Oleh karena itu jika Hari raya lebaran tiba kita pasti mendengar ledakan yang ditimbulkan oleh petasan. Begitu juga kembang api jika malam hari menjelang kita akan melihat di langit berkelap-kelip dari kembang api yang disulut.

“ Nah kalau yang ini bisa berbunyi dor dan kemudian mengeluarkan kembang api. Ini meluncur ke angkasa sehingga tidak begitu bahaya “, kata penjual Kembang Api di pinggir jalan yang tidak mau menyebutkan namanya.

Dia mengatakan , membunyikan petasan dan menyulut kembang api adalah tradisi sejak dahulu. Sehingga jika menjelang lebaran dia membuka usaha berjualan kembang api dan petasan keliling. Dia bergerak dari tempat satu ke tempat lainnya.

“ pekerjaan saya masih serabutan , kadang jadi kuli , kadang berjualan seperti ini ya yang namanya cari makan ya pekerjaan apa saja saya jalani “, katanya.
Dengan modal  Rp 500 ribu ia kulakan kembang api ke pasar Kliwon  Kudus. Berbagai macam jenis kembang api dan petasan ia gelar . Dari yang berharga ribua sampai puluhan ribu.

Selain kembang api model lama kecil-kecil yang mengeluarkan bintang. Sekarang banyak keluar kembang api modern import dari cina berbagai jenis. Ada model kupu-kupu, kembang, gangsing, dan masih banyak lagi yang lainnya.

“ Kalau ini yang paling mahal harganya sampai 100 ribu selain bunyi doornya banyak juga kembang api yang keluar bagus. Ini cocok untuk kegiatan pesta kembang api “, tambahnya.

Meski ada larangan namun penjualan petasan  ini marak dimana-nama . Dari kampung-kampung dan gang sempit sampai dengan perkotaan. Bahkan disudut-sudut pasarpun tak ketinggalan. Emang udah jadi tradisi habis gimana lagi. (Muin)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar